Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

3 menit baca
Muhammad Dzikri Fadillah
Ditulis oleh Muhammad Dzikri Fadillah diterbitkan
Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)

Beberapa tahun lalu, membayangkan Tim Nasional Indonesia mampu bersaing dengan tim-tim kuat Asia seperti Arab Saudi, Australia, atau Bahrain mungkin terasa berlebihan. Namun, situasi tersebut perlahan berubah. Indonesia berhasil melangkah hingga putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, sebuah pencapaian terbaik dalam sejarah sepak bola Indonesia pada era kualifikasi modern.

Perkembangan tersebut tidak terjadi secara instan. Berbagai faktor saling berkaitan, mulai dari perbaikan tata kelola PSSI, peningkatan kualitas pembinaan, munculnya pemain-pemain muda lokal, hingga bergabungnya sejumlah pemain diaspora. Nama-nama seperti Thom Haye, Jay Idzes, Ragnar Oratmangoen, Kevin Diks, hingga Ole Romeny memberikan tambahan kualitas pada beberapa sektor yang sebelumnya menjadi kelemahan Timnas Indonesia. Namun demikian, keberhasilan tim tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pemain lokal seperti Rizky Ridho, Marselino Ferdinan, Ricky Kambuaya, Ernando Ari, dan Beckham Putra yang tetap menjadi bagian penting dalam kerangka permainan skuad Garuda.

Fenomena pemain diaspora kemudian memunculkan diskusi yang lebih luas daripada sekadar persoalan teknis sepak bola. Sebagian masyarakat mempertanyakan makna nasionalisme ketika pemain yang lahir dan besar di luar negeri mengenakan seragam Garuda. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang memandang bahwa nasionalisme di era modern tidak semata ditentukan oleh tempat kelahiran, tetapi juga oleh ikatan hukum sebagai warga negara, hubungan genealogis, serta komitmen untuk membela Indonesia ketika diberi kesempatan.

Dalam praktik pembentukan skuad Timnas Indonesia, keterlibatan pemain tidak berlangsung melalui satu mekanisme tunggal. Secara umum, terdapat dua jalur utama yang sesuai dengan regulasi FIFA serta kebijakan kewarganegaraan Indonesia.

Jalur pertama adalah pemain yang memiliki garis keturunan Indonesia. Dalam perspektif sejarah, hal ini berkaitan erat dengan hubungan panjang Indonesia dan Belanda sejak masa kolonial Hindia Belanda. Setelah Proklamasi 1945 dan pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949, terjadi gelombang migrasi masyarakat Indo-Eropa ke Belanda yang dikenal sebagai repatriasi Indo-Belanda. Dari komunitas diaspora tersebut lahir generasi keturunan Indonesia yang tumbuh di luar negeri, terutama di Eropa. Berdasarkan regulasi FIFA, pemain yang memiliki orang tua atau kakek-nenek berkewarganegaraan suatu negara dapat memenuhi syarat untuk membela negara tersebut, selama proses kewarganegaraan sesuai hukum nasional telah dipenuhi.

Pemain Timnas Indonesia, Mauro Zijlstra berhasil mencetak gol keempat dalam laga Timnas Indonesia kontra Saints Kitts and Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: (foto:Herry/kemenpora.go.id) | Foto: Harry)

Jalur kedua adalah naturalisasi berbasis keterikatan dan kontribusi di kompetisi domestik. Dalam praktiknya, Indonesia juga memberikan kewarganegaraan kepada pemain asing yang telah lama berkarier dan menetap di Indonesia, sesuai ketentuan hukum nasional. Salah satu contoh yang mencerminkan jalur ini adalah Marc Klok, yang telah bermain di Liga Indonesia selama beberapa tahun sebelum memperoleh kewarganegaraan Indonesia dan akhirnya dapat membela Tim Nasional. Dalam kasus seperti ini, keterlibatan dalam ekosistem sepak bola nasional menjadi dasar integrasi, selain proses administratif dan legal yang ditetapkan negara.

Kedua jalur tersebut menunjukkan bahwa pembentukan skuad Timnas Indonesia merupakan hasil pertemuan antara warisan sejarah dan dinamika sepak bola modern. Di satu sisi, terdapat kesinambungan historis dari diaspora keturunan Indonesia yang berakar dari proses kolonial dan migrasi pascakemerdekaan. Di sisi lain, terdapat integrasi pemain yang tumbuh melalui kompetisi domestik dan memiliki keterikatan langsung dengan sepak bola Indonesia.

Jika melihat performa Timnas Indonesia dalam dua tahun terakhir, kehadiran pemain diaspora memberikan dampak yang cukup nyata. Lini pertahanan menjadi lebih solid dengan hadirnya pemain yang terbiasa bermain di kompetisi Eropa, aliran bola di lini tengah semakin rapi, sementara lini serang menunjukkan peningkatan efektivitas. Salah satu contohnya adalah Ole Romeny yang langsung memberikan kontribusi dalam beberapa pertandingan penting Kualifikasi Piala Dunia. Meski demikian, capaian tersebut tetap merupakan hasil kerja kolektif seluruh tim, bukan semata-mata bergantung pada kehadiran pemain diaspora.

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa nasionalisme dalam sepak bola tidak dapat dipahami hanya dari tempat seseorang dilahirkan. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang pemain menjalankan tanggung jawabnya ketika mengenakan lambang Garuda. Dalam konteks sejarah, fenomena pemain diaspora juga mencerminkan keberlanjutan hubungan Indonesia–Belanda sejak masa kolonial, namun kini hadir dalam bentuk baru melalui mobilitas manusia dan olahraga modern.

Dukungan terhadap pemain diaspora tidak seharusnya mengurangi perhatian terhadap pembinaan pemain muda di dalam negeri. Justru keduanya perlu berjalan beriringan agar kebangkitan Timnas Indonesia tidak berhenti sebagai pencapaian sesaat, melainkan menjadi fondasi bagi prestasi yang berkelanjutan di masa depan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Dzikri Fadillah
Tidak ada jalan pintas untuk menjadi pantas

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!