Analisis gaya penulisan dari kolaborasi PT KAI bersama Kementerian Ekonomi Kreatif dan Visinema dalam menghadirkan karakter animasi JUMBO di kereta api Indonesia menunjukan konsistensi dalam penyampaian pesan utama di semua platform dengan key message “IP lokal” dan “JUMBO”. Setiap platform memiliki karakteristik masing masing mengikuti target audiens yang ingin dicapai nya.
Kata kunci “IP lokal” dan “JUMBO” secara konsisten digunakan PT KAI pada website resmi dan online news sebagai penanda utama dari kolaborasi tersebut. Sementara itu, pada media sosial kata kunci yang sama tetap digunakan namun dikemas lebih singkat melalui visual dengan tagar (#JumboXKAI) serta pengulangan kata “IP lokal” terus di gunakan untuk meningkatkan reputasi PT KAI yang rutin melakukan kolaborasi pada moment tertentu.
Berdasarkan hasil analisis saya website resmi PT KAI dan online news sama sama menerapkan teknik penulisan piramida terbalik. Sedangkan media sosial PT KAI menggunakan teknik story telling visual dimana narasi dibuat emosional untuk menarik perhatian audiens dengan menghubungkan emosional mereka ke dalam konten.
Di website resmi PT KAI, informasi disampaikan dengan memuat unsur 5W+1H secara lengkap dimana di paragraf pertama adanya informasi siapa yang berkolaborasi, apa yang diluncurkan hingga informasi kapan dan dimana. Lalu, adanya penjelasan lebih rinci mengenai bentuk kolaborasi seperti dekorasi gerbong hingga kutipan resmi yang memperkuat kredibilitas pesan yang disampaikan ke publik.

Pada online news juga menerapkan teknik penulisan yang serupa namun menggunakan gaya bahasa yang lebih ringan, dimana paragraf pembuka langsung menyebutkan inti berita peluncuran karakter JUMBO di kereta api. Adanya kutipan narasumber dari pihak visinema tentang pentingnya dukungan terhadap IP lokal Indonesia sehingga berita tidak hanya informatif namun juga edukatif.
Berbeda dengan dua platform sebelumnya, media sosial PT KAI menggunakan teknik storytelling visual yang dapat membentuk pendekatan emosional, teknik storytelling ini efektif untuk platform berbasis visual karena memungkinkan audiens terhubung secara emosional dengan konten sebelum membaca informasi lebih lanjut. Caption yang digunakan ditulis singkat dengan tagar #JumboXKAI agar dapat memudahkan audiens mengingat kolaborasi tersebut.
Menurut hasil analisis yang saya lakukan, dari segi konsistensi gaya komunikasi, website resmi PT KAI menggunakan bahasa formal karena berfungsi sebagai sumber informasi resmi perusahaan yang mewakili citra perusahaan sementara online news mengadaptasi gaya yang sedikit lebih ringan. Kedua platform ini sama-sama menempatkan kutipan resmi perusahaan di bagian body untuk membangun kredibilitas dan memperkuat legitimasi pesan yang disampaikan.
Sebaliknya, media sosial menggunakan gaya komunikasi yang santai, komunikatif, dan dekat dengan audiens, dengan kalimat pendek serta penggunaan emoji yang mencerminkan karakter platform media sosial. Adanya perbedaan pesan di berbagai platform di mana pesan perlu disesuaikan agar sesuai dengan karakteristik audiens yang berbeda-beda.

Penyesuaian gaya komunikasi di berbagai platform ini sejalan dengan konsep integrated marketing communication, yaitu menjaga pesan tetap sama di mana pun disampaikan (Soetristiyono & Vanel, 2022). Selain itu, keberhasilan kampanye berbasis IP lokal seperti JUMBO sendiri tidak lepas dari sinergi komunikasi digital yang mampu membangun kesadaran publik terhadap merek berbasis budaya lokal.
Secara keseluruhan menurut saya, strategi publikasi PT KAI dalam kolaborasi dengan Kemenkraf dan Visinema sudah cukup efektif karena mampu menjaga konsistensi pesan utama sekaligus menyesuaikan pendekatan di setiap platform, sesuai dengan tujuan utama IMC dalam memastikan pesan tetap konsisten di berbagai saluran komunikasi (Soetristiyono & Vanel, 2022). Sekaligus sejalan dengan temuan bahwa penerapan IMC dalam industri film Indonesia terbukti efektif membangun kesadaran publik dan menciptakan pengalaman yang lebih personal bagi audiens (Setiadarma dkk., 2024). (*)
