Sore yang cerah itu, saat asyik membaca Hijrah Sehari-hari Milenial, tiba-tiba Akil, anak kedua (11 tahun), menghampiri dengan pertanyaan sederhana dan menggelitik.
"Bah, kalau jarimu harimaumu, sama nggak dengan mulutmu adalah harimaumu?"
Sebelum menjawab pertanyaan itu, ku balik bertanya. "Teurang timana, A?"
"Dari HP Babah. Ada tulisan, hati-hati, jarimu adalah harimaumu."
"Muhun," jawabku singkat.
Percakapan santai itu seketika membuka ruang renung yang luas. Bila dulu, orang tua sering mengingatkan mulutmu adalah harimaumu. Petuah yang mengajarkan kehati-hatian dalam bertutur kata.
Pasalnya, kata-kata yang terlanjur keluar tak bisa ditarik kembali dan dapat melukai, memecah, bahkan menghancurkan hubungan antar manusia.

Tren Dunia Digital
Untuk di era digital, petuah itu seolah-olah menemukan bentuk baru. Ya, bukan hanya mulut yang perlu dijaga, tetapi jari-jari kita. Jari yang mengetik komentar, membagikan tautan, meneruskan pesan, menekan tombol share tanpa sempat berpikir panjang.
Memang di ruang digital, jari bisa lebih cepat daripada akal sehat. Tentunya mampu menjangkau ribuan (jutaan) orang dalam hitungan detik. Sekali klik, informasi dapat menyebar melintasi batas kota, provinsi, bahkan negara. Sayangnya, yang menyebar tidak selalu kebenaran. Malahan terkadang menjadi informasi bohong, ujaran kebencian (hoaks).
Betapa tidak, data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan sepanjang 25 Agustus hingga 21 Oktober 2025, pemerintah menangani 3.943 konten disinformasi, fitnah, dan kebencian di berbagai platform digital. Parahnya, dalam rentang Oktober 2024 hingga Oktober 2025, tercatat pula 1.674 isu hoaks yang berhasil diidentifikasi.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Nyatanya dibalik semua itu terdapat keresahan publik, kegaduhan sosial, dan terkadang keretakan kepercayaan yang sulit dipulihkan. Hoaks tidak hanya memanipulasi fakta, tetapi dapat menggerus kemampuan (kepercayaan) masyarakat untuk membedakan mana yang benar dan mana yang sengaja dibelokkan.
Dalam konteks di Tanah Pasundan. Data Jabar Saber Hoaks mencatat sepanjang tahun 2025 terdapat 1.584 kasus hoaks, meningkat tajam dibandingkan 762 kasus pada tahun 2024. Kenaikan lebih dari seratus persen dalam setahun menunjukkan arus informasi palsu masih mengalir deras di tengah kehidupan digital masyarakat.
Menariknya, Facebook masih menjadi kanal utama penyebaran hoaks, disusul WhatsApp. TikTok dan YouTube terjadi peningkatan signifikan sebagai medium penyebaran informasi yang belum tentu terverifikasi. Isu-isu yang beredar terus bergeser, dari kriminalitas dan politik menuju isu figur (tokoh tertentu) yang kerap memancing emosi publik. (www.komdigi.go.id dan www.jabarprov.go.id).

Yuk Ciptakan Ruang Aman, Nyaman, dan Toleran
Selesai ngobrol dengan Aa Akil, pikiran melayang pada renungan, bagaimana kita merawat jari (nurani) di tengah rimba digital yang kian bising.
Seketika beranda medsos dilewati oleh rekaman video @irfanamalee bertajuk Menciptakan Ruang Aman dan Toleran di Dunia Digital yang berusaha mempertemukan para penggerak perdamaian lintas iman ini bukan sekadar tontonan visual, melainkan cermin retak yang memantulkan realitas sosial kita hari ini.
Dunia digital, seperti yang digambarkan oleh Irfan Amalee dari PeaceGeneration Indonesia, telah menjelma menjadi "hutan belantara". Anonimitas menjadi topeng sempurna bagi siapa saja untuk menyemai benih ekstremisme tanpa harus bertanggung jawab. Ironisnya, ruang yang awalnya diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, kini justru sering kali mengikis esensi kemanusiaan kita yang paling mendasar.
Ada bahaya yang senyap dan mematikan di layar gawai kita. Siti Kholisoh dari Wahid Foundation mengingatkan kita dengan getir, ancaman terbesar hari ini tidak lagi datang dalam bentuk kepalan tangan (ledakan yang nyata). Justru menyusup halus melalui algoritma yang mewujud dalam konten-konten yang menormalisasi kebencian, memecah belah, dan secara perlahan mematikan daya kritis serta empati generasi muda kita. Kita sedang menyaksikan generasi yang fasih berselancar di dunia maya, tapi gagap dalam meraba rasa kemanusiaan sesamanya.
Pdt. Yerry Pattinasarany menangkap tragedi kebudayaan yang teramat sunyi. Indonesia sedang perlahan kehilangan identitasnya. Nilai-nilai luhur (gotong-royong, hangatnya silaturahmi, ketulusan) untuk saling menghargai kian memudar, digantikan oleh sekat-sekat prasangka. Kita tidak lagi saling menyapa malah berubah saling menghakimi.
Saat narasi suci agama kerap dipelintir untuk memicu perpecahan, di situlah para tokoh agama ditantang untuk tidak lagi sekadar berdiam diri di dalam kenyamanan rumah ibadah. Jika content is the king, maka platform is the kingmaker.
Semua ini menjadi maklumat bagi para pemuka agama untuk "memindahkan mimbar" mereka. Ruby Kholifah dari Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, menyerukan ruang digital yang strategis ini harus diisi oleh pemikiran-pemikiran yang inklusif. Sudah saatnya dakwah, khotbah, dan pesan-pesan suci bertransformasi menjadi oase yang menyejukkan di portal-portal media sosial.
Rupanya dari video ini mengantarkan kita pada satu muara kesadaran agar ruang digital tidak boleh dibiarkan menjadi medan perang kebencian. Kita semua memiliki tanggung jawab kolektif untuk merebut kembali ruang itu, menjadikannya tempat yang lebih manusiawi, teduh, dan ramah bagi siapa saja untuk bertumbuh.
Ingat, di atas segala perbedaan teologis, jembatan terbaik yang bisa kita bangun hari ini adalah tali persaudaraan yang kokoh, baik di dunia nyata, maupun di balik layar kaca.
Berikut adalah 5 cara strategis untuk mengisi ruang digital dengan narasi positif yang sejalan dengan semangat perdamaian dan nilai-nilai universal:
1. Membumikan Narasi Keagamaan yang Inklusif dan Welas Asih
Banyak polarisasi di dunia maya lahir dari narasi agama yang dipelintir untuk memicu perpecahan. Untuk melawannya, para pemuka agama, akademisi, dan kreator konten perlu aktif memindahkan "mimbar" mereka ke platform digital. Konten yang dibuat harus berfokus pada nilai-nilai universal, welas asih (compassion), cinta kasih, dan keadilan sosial yang merangkul semua golongan tanpa terkecuali.
2. Mengangkat Cerita Baik dari Akar Rumput (Storytelling Keberagaman)
Teori dan khotbah sering kali kalah memikat dibanding cerita nyata. Buatlah konten berbasis video pendek, foto, atau utas (thread) yang menceritakan harmoni di kehidupan sehari-hari. Misalnya, kisah gotong-royong antarumat beragama saat hari raya, indahnya silaturahmi lintas budaya, kolaborasi pemuda beda latar belakang dalam aksi sosial. Cerita-cerita humanis ini jauh lebih efektif menyentuh emosi dan membangkitkan empati netizen.
3. Mengedukasi Literasi Digital dan Kemampuan Berpikir Kritis
Salah satu akar dari ekstremisme digital itu minimnya saring sebelum sharing. Kita bisa ikut ambil bagian dengan memproduksi konten edukatif yang melatih kemampuan berpikir kritis anak muda. Bentuknya bisa berupa infografis cara mendeteksi hoaks, tips menghadapi cyberbullying, ajakan untuk tidak menormalisasi ujaran kebencian di kolom komentar. Menghadirkan konten yang melatih logika dan kedewasaan digital akan membantu menyusutkan ruang gerak konten pemecah belah.
4. Memanfaatkan Algoritma Platform secara Cerdas
Dalam dunia digital, content is the king, but platform is the kingmaker. Memahami cara kerja algoritma sangat penting agar pesan perdamaian tidak tenggelam. Gunakan format yang sedang digandrungi (Reels, TikTok, Shorts), optimalkan penggunaan kata kunci (SEO) yang relevan, gunakan visual yang estetik dan interaktif. Ketika konten perdamaian dikemas secara modern, yang memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke halaman utama (FYP) pengguna yang lebih luas.
5. Membangun Ruang Diskusi yang Aman dan Manusiawi
Mengisi ruang digital bukan hanya soal memposting, tapi bagaimana kita mengelola interaksi. Jadikan akun (platform) yang kita kelola sebagai ruang aman (safe space) untuk bertukar pikiran. Saat ada perbedaan pendapat di kolom komentar, responslah dengan kepala dingin, bahasa yang santun, dan edukatif. Dengan menolak membalas kebencian dengan kebencian, kita sedang mencontohkan langsung bagaimana toleransi dan kedamaian itu dipraktikkan di ruang siber.

Bukan Sekadar Pindah dan Rubah
Dalam kata pengantar buku Hijrah Sehari-hari Milenial, Ketua Gerakan Islam Cinta Eddy Najmuddin Aqdhiwijaya, menjelaskan makna “hijrah” dalam Islam adalah perubahan dari satu kondisi menuju kondisi yang lain, yaitu untuk menciptakan kondisi hidup yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga dapat merasakan kedamaian, kesejahteraan, dan peningkatan kualitas hidup.
Perubahan itu, adakalanya bersifat physically untuk tujuan psikologis mewujudkan perdamaian yang menuntut perpindahan ruang dan waktu seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dengan berpindah tempat dari Mekkah menuju Madinah.
Ingat, Nabi Muhammad Saw, berhijrah dari Mekkah menuju Madinah, berdasarkan perintah Allah dan pertimbangan matang, bahwa jalan dakwah Islam bukan ditempuh dengan cara permusuhan, pertentangan dan kekerasan.
Sebab, sebagaimana kita tahu bahwa dakwah di Mekkah saat itu selalu mendapatkan reaksi kekerasan dari tetua Quraisy secara simbolik, fisik, maupun psikologis terhadap pengikut Muhammad Saw, sehingga kalau mereka tetap berada di Mekkah, akan menciptakan pertentangan hingga berujung konflik sosial.
Wajar, bila Rasulullah selalu berdoa kepada Allah agar diizinkan untuk berhijrah menuju tempat yang dihuni warga yang apresiatif terhadap ajaran Islam yang disampaikannya. Rasul tidak ingin mengotori ajaran Islam “ramah” dengan tindakan “marah”, karena keramahan merupakan intisari dari titah Allah untuk disampaikan kepada umat manusia.
Nabi Muhammad Saw seolah melawan “kemarahan” dengan “keramahan” melalui cara berhijrah ke Madinah, yang secara peradaban, dihuni masyarakat yang lebih majemuk dan berpikiran maju ketimbang di Mekkah. Dan, keputusannya seraya dibimbing wahyu dari Allah, memang tepat sekali.
Ajaran “rahmah” dan “ramah” dalam Islam, di Kota Madinah, menjadi tumbuh subur bagaikan pohon apel yang rimbun dipenuhi bebuahan manis dan sehat. Saya melihat bahwa “hijrah” yang dilakukan Rasulullah itu semacam memindahkan “akhlak mulia” yang tidak direspon positif masyarakat Mekkah kemudian hijrah ke Kota Madinah yang dihuni masyarakat inklusif, majemuk dan toleran.
“Hijrah” dalam konteks keindonesiaan, bukan berubah menjadi warga yang anti terhadap nasionalisme, demokratisme dan azas negara pancasila dan berbagai ideologi lainnya yang berkembang di dunia. Tetapi “Hijrah” yang berbalut cinta itu ialah meresapi setiap ideologi lalu mengambil intisari dari ajarannya untuk kemaslahatan sesama. (Adzka dan Azky, 2019 : 9-12)
Dari sembilan ikhtiar praktis berhijrah sehari-hari ala milenial bisa dimulai dari hijrah hidup lebih baik, tentang cinta, teladani akhlak Nabi, bergaul dengan ramah, berdamai dengan diri sendiri, saling sayang, sahabatan meski beda agama, sebar cinta di medsos sampai toleran itu keren.
Dalam tulisan ini kita bahas tiga ikhtiar Hijrah Hidup Lebih Baik (1-10), Hijrah Sebar Cinta di Medsos (71-80) dan Hijrah Toleransi adalah Hijrah (91-100)
1. Hijrah Hidup Lebih Baik
Hijrah itu mengubah hidup dari keburukan menjadi kebaikan. Karenanya, menjadi seorang muslim sejati itu mampu menghijrahkan diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Berbuat baiklah agar namamu dikenang dan disebut sebagai orang baik. Dengan berbuat baik, hidup kita akan lebih baik.
Keramahan sikapmu adalah kebaikan. Sopan santun tuturmu adalah kebaikan. Penghargaanmu terhadap perbedaan adalah kebaikan. Ucapan salammu adalah kebaikan. Kedamaian tindakanmu adalah kebaikan. Etika komentarmu di medsos adalah kebaikan. Karenanya, berbuat baiklah sebab dengannya hidup kita akan menjadi lebih mulia, lebih bebas dari tekanan, pikiran tak dipenuhi kedengkian, dan lisan pun terbebas dari ujaran kebencian.
Hijrah milenial itu ialah menjernihkan otak untuk berpikir sebelum mem-posting sesuatu di medsos; apakah postingannya itu hoax atau nggak. Itulah kebaikan hidup di era digital. Ayo kita belajar jadi pelajar yang baik, mahasiswa yang baik, muslim yang baik, dan sadarilah bahwa menjadi apapun kita, harus mampu memproduksi kebaikan.
Hijrah itu mengubah perilaku buruk menjadi baik, mengubah marah menjadi ramah, mengubah benci menjadi cinta, dan mengubah dendam menjadi sayang. Kebaikan yang terkandung dalam Islam merupakan akhlak yang murni, baik untuk individu maupun masyarakat, di dalam lingkungan, keadaan, waktu dan tempat apapun.
Cinta adalah cahaya yang menerangi hati untuk berbuat baik, yang didasarkan pada agama dan akal sehat yang diberi petunjuk dan dibimbing oleh Tuhan. Muslim milenial yang berbuat baik, akan menjadi teladan bagi orang lain. Apabila ditiru orang lain, maka ia pun akan mendapatkan pahala kebaikannya. Bukan begitu, guys?
Kita tidak hanya berbuat baik kepada manusia, namun juga kepada alam sekitar. Karena kita membutuhkannya untuk kelangsungan hidup kita. Bukankah kita butuh hutan untuk asupan oksigen, menahan dari longsor dan banjir? Bukankah kita perlu burung untuk memangsa hama?
Manusia bukan robot atau benda mati yang tidak memiliki perasaan. Karenanya, tak boleh dibikin sakit hati perasaannya, sebab manusia tidak dilihat dari bentuk fisik, suku, keturunan, gelar, kedudukan maupun harta; melainkan pada iman, takwa dan akhlaknya. (Adzka dan Azky, 2019:27-42)
2. Hijrah Sebar Cinta di Medsos
Hijrah itu mengubah komunikasi di medsos dari yang penuh amarah, jadi yang penuh ramah. Status yang kita update di media sosial, mencerminkan kualitas pribadi kita di alam nyata. Ayo kawan, kita sebarkan cinta.
Guys! Kita hidup di zaman milenial, bukan kolonial, ayo kita sebarkan perdamaian di media sosial. Menghargai, menghormati, dan memuliakan manusia bisa juga melalui update status di medsos dengan penuh keramahan bukan kemarahan.
Siapa saja nih yang mampu ngelola medsos dengan bijak, berarti ia telah mampu menjaga lisannya dari kekejian dan kemungkaran. Hufh.. Sekarang kita hidup di zaman milenial, bukan kolonial, yang meskipun serba praktis tapi harus tetap taktis.
Pikiran ialah pengawas tindakan. Makanya, sebelum kita nge-posting informasi, berpikirlah! Karena dengannya, kita bisa melakukan check and recheck terlebih dahulu, sehingga apa yang kamu sharing kebenarannya mendapatkan nilai 100.
Zaman dulu, kemuliaan seseorang ada dalam sikap, kata-kata, dan tindakan. Di zaman milenial, kemuliaan seseorang, bisa dinilai (juga) dari status di medsos: baik atau burukkah timeline-nya?!
Ayo kawan, kita harus cerdas menggunakan media sosial untuk menebarkan cinta dan damai di negeri ini. Guys! takkan ada status medsos yang menyinggung perasaan; saat hati dan pikiran kita dijadikan panglima dalam bertindak.
Jadilah online shoper, blogger, influencer dan netizen yang penuh cinta. Sebab, baik dan buruknya kita terletak (juga) dalam kebijaksanaan menggunakan medsos. (Adzka dan Azky, 2019:157-173)
3. Hijrah Toleransi
Hijrah itu bikin semangat toleransi dalam kehidupan kita sehari-hari. Hijrah terbaik adalah mengubah diri dari yang intoleran jadi yang toleran. Milenial yang hijrah pasti bisa menghargai perbedaan, toleran itu keren guys!
Guys, kita sudah hijrah. Dulu kita saling membenci, sekarang kita saling mencintai. Perbedaan adalah rahmat, bukan laknat. Karena itu kita harus hargai dan hormati. Toleransi itu saling ajak, bukan saling ejek. Milenial itu mampu berhijrah dari pembenci menjadi pencinta.
Toleransi adalah kebahagiaan. Kita hanya akan jadi milenial yang bahagia, jika kita toleran. Toleransi itu menguatkan kita, dengannya kita saling tolong menolong, dengannya kita dapat saling bekerjasama. Bayangkan, jika tak saling toleran, kita akan hidup dalam peperangan. Guys, Allah aja Mahatoleran terhadap hamba-Nya.Masa kita enggak?! (Adzka dan Azky, 2019:175-192)

Ayo Berhijrah Jemari
Jemari yang setiap hari menekan layar gawai ternyata memiliki kekuatan yang tidak kalah besar dibanding lisan. Dengan jemari, kita dapat menyebarkan ilmu yang bermanfaat, menguatkan yang sedang terpuruk, dan menghadirkan harapan bagi banyak orang. Sebaliknya, melalui jemari yang sama, kita bisa melukai, mempermalukan, merusak persaudaraan, bahkan keutuhan NKRI.
Hijrah digital itu berusaha mengubah cara kita berinteraksi di ruang maya. Sebelum mengetik komentar, membagikan informasi, mengunggah sebuah unggahan, kita harus bertanya, apakah ini akan membawa manfaat atau justru menambah kebencian? Apakah ini mendekatkan manusia pada kebaikan atau malah memperlebar jurang permusuhan?
Momentum Muharam mengingatkan keberagamaan tidak cukup diukur dari ritual yang kita jalankan. Surat Al-Ma'un memberikan pelajaran penting soal ibadah harus melahirkan kepedulian sosial. Kesalehan tidak hanya tampak dalam panjangnya doa (banyaknya ibadah pribadi), tetapi harus menghadirkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Sayangnya, di tengah derasnya arus media sosial, sering kali perhatian kita tersita pada perdebatan yang tidak produktif. Dengan mudah memberikan komentar terhadap persoalan orang lain, tetapi lupa melihat tetangga yang membutuhkan bantuan. Paling cepat menyebarkan informasi sensasional, tetapi lambat menyebarkan kepedulian dan kebaikan.
Hijrah mengajak kita ihwal esensi agama yang menghadirkan kemaslahatan. Solidaritas sosial menjadi bagian penting dari pesan tahun baru Islam. Kepedulian terhadap anak yatim, kaum dhuafa, kelompok rentan, dan mereka yang sedang menghadapi kesulitan hidup menjadi wujud nyata dari hijrah yang sesungguhnya.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, semangat berbagi dan gotong royong harus terus dirawat. Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang dipenuhi orang-orang hebat secara individu, melainkan masyarakat yang saling menguatkan saat ada yang lemah dan saling menopang ketika ada yang terjatuh.
Walhasil, memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah, setiap muslim perlu melakukan evaluasi diri. Sudah sejauh mana ibadah yang dilakukan melahirkan manfaat bagi lingkungan sekitar? Sudahkah media sosial yang dimiliki menjadi sarana menyebarkan kedamaian? Sudahkah kehadiran kita menghadirkan harapan bagi sesama?
Muharam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah. Melainkan panggilan untuk berubah. Berubah dari sikap acuh menjadi peduli, dari kebencian menjadi kasih sayang, dari permusuhan menjadi persaudaraan, dan dari penggunaan jemari yang menyakiti menjadi jemari yang menebarkan manfaat.
Bila dahulu harimau itu bernama mulut, kini menjelma dalam jari. Terkadang, dalam banyak keadaan, harimau digital bisa lebih buas. Pasalnya, kata-kata yang diucapkan hanya terdengar oleh segelintir orang, sementara tulisan yang dipublikasikan di internet dapat tersimpan lama, disalin, disebarluaskan, dan terus hidup meski penulisnya telah melupakannya.
Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah. Petuah lama "mulutmu harimaumu" seolah-olah menemukan bentuk baru dalam kehidupan modern "jarimu harimaumu." Sungguh apa yang kita ketik dan unggah dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus dan berdampak panjang bagi diri sendiri maupun orang lain.

Di era digital, jemari kita bukan lagi sekadar alat untuk mengetik pesan, menggulir layar, melainkan penentu arah komunikasi, penyebaran informasi, bahkan pembentukan opini publik. Ruang digital sesungguhnya cermin peradaban. Ya, bisa menjadi taman pengetahuan yang memperkaya wawasan, tetapi dapat berubah menjadi rimba yang dipenuhi kebisingan, prasangka, dan informasi menyesatkan. Dengan demikian, literasi digital bukan lagi sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kemampuan moral untuk bertanggung jawab atas setiap jejak yang kita tinggalkan.
Merawat jari di era digital berarti melatih kehati-hatian sebelum menekan tombol kirim, membiasakan verifikasi sebelum membagikan informasi, dan menumbuhkan empati dalam setiap komentar yang dituliskan. Jari yang terawat bukan hanya jari yang sehat secara fisik, tapi jari yang digunakan dengan tanggung jawab moral dan etika.
Dengan demikian, di tengah belantara digital yang penuh godaan untuk bereaksi cepat, kemampuan menahan diri justru menjadi tanda kedewasaan. Satu sentuhan jari dapat menjadi sumber manfaat yang mengalir luas, dan berpotensi dapat menjadi awal dari penyesalan yang panjang. Merawat jari sesungguhnya itu merawat karakter dan kemanusiaan di ruang digital. (*)
