Pernahkah kalian melihat sebuah gedung tua yang terletak di tengah Kota Bandung? lebih tepatnya yang berada di Jl. Pajajaran No.42 Kecamatan Cicendo?Gedung ini akrab disebut dengan Pabrik Kina. Secara visual gedung ini terlihat begitu tua, baik dari segi arsitektur maupun dari kondisi cat tembok bangunan. Tampilan keseluruhan gedung ini menunjukan bahwa Pabrik Kina memiliki perjalanan yang sangat panjang.
Beberapa penduduk setempat yang hidup dan tinggal di sekitar Pabrik Kina konon katanya sering mendengar suara suara cekikikan anak kecil, mungkin karena mereka melihat kondisi dari pabrik ini yang sudah berumur menjadi alasan dikaitkannya dengan hal-hal berbau mistis. Disamping hal-hal tersebut, Pabrik Kina ternyata berdampak besar pada masa kolonial bahkan memiliki peran penting saat penyebaran penyakit malaria di Batavia.
Bandoengsche Kininefabriek atau yang biasa disebut Pabrik Kina pada masa kini, didirikan pada 28 juli 1896 menurut koran Java-Bode (4 Mei 1896). Pembangunan Pabrik Kina didasarkan karena menyebarnya penyakit malaria di Batavia. Penyebaran penyakit malaria di Batavia kala itu sangat masif, yang dimana pembudidayaan tumbuhan kina saja tidak cukup.
Maka dari itu, pemerintah Hindia Belanda membutuhkan pabrik yang dapat mengelola obat kina itu sendiri. Menurut surat kabar “3 à 5 procent der kina-bast tot kinine verwerkt”, yang menegaskan fungsi utama pabrik sebagai pengolah bahan kina menjadi quinine untuk pengobatan malaria. Disebutkan pula oleh surat kabar "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië". Batavia, 25-10-1911, bahwa Pemerintah Hindia Belanda merencanakan menggratiskan obat kina bagi daerah-daerah yang memiliki tingkat penyebaran penyakit tersebut secara epidemik.
Perencanaan ini didorong dengan penyediaan obat kina bagi masyarakat dengan harga obat yang diberikan serendah mungkin. Sehingga Batavia yang sempat disebut Het graf van het oosten atau kuburannya negeri timur karena penyebaran penyakit malaria akhirnya bisa teratasi, begitu juga dengan daerah daerah yang lain yang terdampak penyakit malaria.
Setelah penyebaran penyakit malaria yang masif berakhir, Pabrik Kina tidak lagi beroperasi secara besar. Saat kedatangan Jepang tahun 1942, Pabrik Kina ini berpindah tangan dari pemerintahan Hindia Belanda ke pemerintahan Jepang yang berubah nama menjadi Rikugunkinine Seizoshyo. Pada masa pendudukan jepang, sebagian besar hasil produksi Kina dibawa ke Jepang. Penggunaan Pabrik Kina tidak begitu masif pada masa Pendudukan Jepang, karena tujuan utama didirikannya hanya untuk mengatasi penyakit malaria yang menyebar pada masa Hindia Belanda.
Sejak kembalinya Belanda pada tahun 1945 ke Indonesia, Pabrik Kina kembali jatuh ditangan Belanda yang berganti nama lagi menjadi Bandoengsche Kininefabriek. Namun pada tahun 1958 terjadi nasionalisasi terhadap semua perusahaan warisan belanda, yang dimana Pabrik Kina ada didalamnya. Sejak saat itulah Pabrik Kina dikelola oleh pemerintah Indonesia dan pada tahun 1971 menjadi milik Kimia Farma.

Pada masa kini, Pabrik Kina yang memiliki perjalanan panjang dan juga nilai historis yang kuat untuk sekarang sudah tidak beroperasi sama sekali. Bahkan jika melewati Jl. Pajajaran, bisa terlihat kondisi Pabrik Kina kini sudah sangat tua dan juga terdapat banyak coretan coretan vandalisme. Namun, mengutip dari sebuah postingan di instagram oleh akun pribadi @fadlizon, Pabrik Kina saat ini sudah menjadi cagar budaya tingkat Kota Bandung golongan A yang berarti bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi dan wajib dipertahankan keasliannya, melalu metode preservasi.
Golongan ini tidak boleh diubah bentuknya sama sekali, baik interior maupun eksteriornya, Sesuai pada Perda Kota Bandung Nomor 7 Tahun 2018. Kementerian Kebudayaan juga berkomitmen untuk memelihara dan memanfaatkan Pabrik Kina sebagai situs sejarah, baik melalui proses restorasi dan juga menjadikannya sebagai sarana edukasi sejarah dengan perubahan fungsi menjadi area publik. (*)