Ayo Netizen

Bagaimana MPLS Menjadi Orientasi Pendidikan Berkelanjutan?

Oleh: Muh Husen Arifin
ilustrasi kegiatan MPLS tahun 2026. (Sumber: Gemini AI | Foto: Gemini AI)

Semester baru bagi sekolah merupakan awal yang menegangkan. Setiap sekolah perlu menyiapkan diri untuk menyelenggarakan kegiatan pengenalan kepada murid. Khususnya untuk menjadikan kegiatan di sekolah berjalan sesuai perencanaan di kalender akademik terstruktur dan efisien.

MPLS atau masa pengenalan lingkungan sekolah di lingkungan sekolah pada dasarnya tidak ada hal yang baru. Meskipun kebaruan tidak dimunculkan, tetapi kegiatan MPLS mesti diterapkan dengan suasana yang menyenangkan, sebagaimana disebutkan menjadi sekolah yang ramah dan aman. 

Kebutuhan MPLS tahun 2026 sudah tertuang pada aturan terbaru yaitu Permendikdasmen nomor 12 tahun 2026, telah disebutkan bahwa kegiatan dilaksanakan selama 5 hari di minggu pertama, materi yang disampaikan yaitu berfokus kepada gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, pagi ceria, sopan dan santun bermedia sosial, budaya 5 S (senyum, salam, sapa, sopan dan santun).

Perlu disoroti bersama tentang MPLS tidak sekadar peraturan yang menjadi hajat minggu pertama tahun ajaran baru, melainkan bagaimana MPLS menjadi orientasi pendidikan berkelanjutan?

MPLS harus direalisasikan agar menjadi orientasi pendidikan berkelanjutan sehingga pelaksanaan MPLS ini diupayakan sebagai langkah utama bagi setiap satuan pendidikan bergerak memajukan murid berprestasi sejak awal.

Tak lantas MPLS sekadar peraturan yang diungkap menyelesaikan program kemudian selesai untuk menggugurkan kegiatan. Ada yang mendesak lebih genting dari proses itu.

Kemajuan pendidikan berkelanjutan perlu diungkapkan dari sejak mengenalkan murid tentang pendidikan yang sebenarnya, pendidikan yang bermutu, pendidikan yang aman dan pendidikan yang mampu diimplementasikan sehari-hari, pendidikan yang bermuara kepada aksesibilitas murid kepada dunia.

Apakah manajemen di sekolah sudah memberi ruang tersebut kepada murid? Sementara keharusan sekolah untuk menyelenggarakan MPLS terbatas pada peraturan yang sudah ada. Apakah pendidikan berkelanjutan sudah menjadi pemahaman bersama di setiap satuan pendidikan?

Pendidikan Berkelanjutan di Indonesia (Sumber: Gemini AI | Foto: Gemini AI)

Pendidikan berkelanjutan mengedepankan pembelajaran yang konstruktif dan holistik, di antaranya berkaitan dengan aspek kognitif, sosio-emosional, dan perilaku. Dalam aspek kognitifnya, murid dapat diarahkan untuk meningkatkan cara berpikir tingkat tinggi, memahami informasi secara utuh.

Pada aspek sosio-emosionalnya, murid diarahkan untuk menyiapkan kemampuan keterampilan sosialnya, berempati pada sekitarnya, serta memahami tentang kecerdasan sosial. Pada aspek perilakunya, murid diarahkan untuk memiliki perilaku yang positif dan tindakannya berdasarkan asas kebermanfaatan.   

Selain itu, ada kerangka pendidikan berkelanjutan yang dapat diimplementasikan melalui lima langkah utama. Pertama, memajukan kebijakan. Integrasi kebijakan pendidikan nasional dan daerah direalisasikan dengan berorientasi kepada murid. Kebutuhan kebijakan yang reflektif dan mendukung berdasarkan kebutuhan murid.

Kedua, lingkungan pembelajaran. Pendekatan antara sekolah dan universitas harus seiring dan memberikan pembelajaran bermakna dan berdampak. Operasional sehari-hari harus melibatkan murid dengan prinsip berkelanjutan.

Ketiga, membangun kapasitas pendidik. Titik beratnya adalah kapasitas pendidik dimaknai pembekalan dengan metode pedagogik yang transformatif. Inisiasi agar pendidik memiliki peranan berkelanjutan. Instruksi kepada guru agar membekali diri pada tahap pendidikan yang solutif. Pendidik mampu menyesuaikan kondisi dan situasi berbasis pendidikan inklusif.

Keempat, memberdayakan generasi muda. Mengatasi krisis iklim dan sosial sangat tepat diarahkan kepada murid. Peran pendidik sebagai fasilitator mengupayakan murid berkegiatan dengan mengentaskan permasalahan iklim dan sosialnya.

Terakhir, tentang implementasi di tingkat lokal. Supaya mendorong pembelajaran berbasis komunitas. Proyek berkelanjutan dimudahkan, sehingga murid-murid mampu memahami dan merealisasikan kebutuhan dan memecahkan permasalahan di tingkat satuan pendidikan masing-masing.

Maka dari itu, MPLS harus mengupayakan agar tidak sekadar menggurui namun keterlibatan pendidikan berkelanjutan sangat dibutuhkan. Situasi pendidikan saat ini mesti dielaborasi dan dimaksimalkan menuju pendidikan yang berkelanjutan.

Kemampuan akademis murid terbilang harus diarahkan kepada teknis yang konstruktif. Tidak semata mendalami peraturan, minim kontribusi. Sementara problematika pendidikan yang sejauh ini berkutat kepada ketercapaian numerik.

Mutu pembelajaran berdasarkan kebutuhan murid harus diutamakan. Selain program pendidikan nasional yang telah diatur. MPLS harus digambarkan secara inklusif. MPLS harus mendorong kesempatan murid meraih pendidikan berkualitas.

Ke depannya materi utama di MPLS harus dimasukkan pendekatan pembelajaran yang mendorong kesadaran lingkungan, dan aksi nyata mengentaskan isu global seperti perubahan iklim dan kesetaraan sosial.

Jika MPLS tidak menyentuh aspek tersebut, tentu tidak menampik lagi, bahwa pendidikan kita masih takut membangun kebijakan menjadi murid yang berpikir kritis di aspek yang krisis. Sementara pendidikan berkelanjutan bukan kegiatan instan lima hari. (*)

Reporter Muh Husen Arifin
Editor Aris Abdulsalam