Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meluncurkan program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) khusus untuk warga Jakarta. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengalokasikan anggaran sebesar Rp100 miliar untuk membiayai 50 hingga 75 mahasiswa menempuh studi jenjang magister dan doktoral di luar negeri.
Berita baik di atas patut mendapat apresiasi dan acungan jempol. Terobosan kepala daerah yang hebat tersebut tentunya wajib ditiru oleh Pemprov Jawa Barat. Artikel ini sekaligus merupakan surat terbuka untuk Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (KDM). Penulis yakin program serupa LPDP diatas juga bisa dilakukan untuk warga Jabar lebih tepat sasaran dan lebih menyentuh sisi kerakyatan dan nilai budaya.
Menurut hemat saya, ada kelompok sasaran yang patut diberi anugerah LPDP dari Gedung Sate. Anugerah tersebut pantas diberikan kepada Guru Penggerak yang terpilih oleh pansel yang independen. Guru penggerak sudah tersebar, bahkan dalam komunitas penulis Ayo Netizen AyoBandung.id ada juga yang berpredikat sebagai Guru Penggerak.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sendiri pernah menargetkan untuk mencetak hingga 48 ribu Guru Penggerak guna menekan angka pengangguran lulusan SMA/SMK di wilayahnya. Kabupaten Sumedang berhasil menjadi kabupaten dengan jumlah Guru Penggerak terbanyak, Sekolah Penggerak dan Pengajar Praktik terbanyak di Jawa Barat

Jangan Tertinggal Jakarta
Saya yakin KDM tidak sudi tertinggal dengan provinsi tetangga dalam hal pengembangan SDM yang notabene adalah investasi masa depan yang strategis. Bisa jadi program LPDP versi Jabar lebih tepat sasaran dan lebih efektif untuk pengembangan SDM daerah.
Berikut adalah gambaran singkat mengenai program LPDP DKI Jakarta. Mekanismenya Pemprov Jakarta menyediakan anggaran dan menentukan universitas serta calon penerima. Namun, proses pencairan dananya difasilitasi langsung oleh LPDP pusat karena mereka yang memiliki mekanisme penyaluran beasiswa.
Selain mengikuti semua standar dan ketentuan seleksi dari LPDP, syarat mutlak bagi pendaftar adalah wajib memiliki dan berdomisili dengan KTP Jakarta. Program ini diintegrasikan dengan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) yang telah lulus program sarjana diberikan kesempatan dan diperbolehkan mendaftar program LPDP Jakarta ini jika ingin melanjutkan studi ke jenjang S2 maupun S3.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan anggaran LPDP Jakarta telah dimasukkan dalam rancangan APBD mendatang. Dana tersebut diperkirakan mampu membiayai 50 hingga 75 mahasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri melalui kerja sama dengan LPDP pusat.

Tahap Awal Sebaiknya untuk Guru Penggerak
Menghimbau kepada Pemprov Jabar agar pada tahap awal LPDP diberikan kepada Guru Penggerak, setelah itu diberikan untuk kategori yang lain.
Mencetak guru penggerak sejati mestinya massive action hingga menjangkau pelosok daerah tertinggal. Sosok guru penggerak sejati, bukan guru penggerak semu perlu diberi anugerah terindah lewat Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Jangan salah sasaran, karena guru penggerak semu lahir dari proses yang instan bahkan terjadi kolusi birokrasi Pendidikan yang hanya mengedepan seleksi formal diatas kertas.
Keniscayaan, Indonesia khususnya Jabar membutuhkan banyak guru penggerak yang sejati, bukan guru penggerak instan. Anggaran untuk mengembangkan profesi guru hingga kini masih kurang. Bahkan Bank Dunia pernah merilis laporan berjudul How Indonesia's Subnational Government Spend Their Money on Education. Dalam laporan itu disebutkan 86 persen anggaran pendidikan di daerah hanya untuk gaji guru, bukan pengembangan kualitas pendidikan.
Sebanyak 86 persen dipakai untuk gaji dan tunjangan guru, sementara infrastruktur hanya 5 persen, biaya operasional 3 persen, dan pelatihan guru hanya 1 persen. Dari aspek kualitas, berdasarkan data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) masih terdapat 25 persen guru yang belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan hampir setengah lebih belum memiliki sertifikat profesi. Usaha meningkatkan kualitas dan profesionalitas guru merupakan keniscayaan bangsa yang tengah memasuki era industri 4.0. Kebutuhan terhadap guru berkelas dunia untuk meneguhkan industrialisasi perlu terobosan.
Menunggu Terobosan KDM tentang Dana Abadi Pendidikan
Warga Jawa Barat menunggu terobosan KDM untuk mewujudkan dan menentukan orientasi baru program pengelolaan dana abadi pendidikan. Saatnya Jabar memiliki dana abadi pendidikan yang dilakukan secara produktif, terukur, dan lebih efektif dalam mendongkrak kualitas SDM.
Waktunya bagi KDM untuk mewarnai jalannya LPDP yang meliputi aspek pengelolaan dan metode seleksi hingga negara yang dituju oleh penerima beasiswa harus lebih variatif. Bukan mengelompok dalam suatu negara yang itu-itu saja. Karena pusat inovasi teknologi dan kemajuan peradaban dan kebudayaan kini semakin menyebar di muka bumi.
Sekedar catatan bahwa dana pendidikan Indonesia dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) , yang penerimaannya berasal dari investasi dana abadi. Perombakan program LPDP selain untuk memilih negara tujuan beasiswa dan bidang studi, mestinya juga memperluas basis penerima beasiswa. Sehingga para penerima tidak lagi Jakarta sentris, atau berbasis kota-kota besar, tetapi mesti bisa diraih oleh mereka yang ada di pelosok daerah.
Program beasiswa LPDP saatnya memberikan anugerah dan kesempatan emas bagi guru penggerak sejati yang selama ini berkiprah di pelosok daerah.
Masyarakat berharap agar program LPDP yang merupakan investasi pemerintah di bidang sumber daya manusia (SDM) bisa lebih efektif dan progresif. Mengingat pendanaan LPDP murni dari jerih payah rakyat Indonesia melalui pajak dan lain-lain, maka program LPDP semestinya harus mengedepankan asas keadilan. Implikasinya para penerima manfaat program LPDP mestinya tersebar merata untuk seluruh rakyat Indonesia. Kesempatan untuk meraih beasiswa dan pendanaan program LPDP seyogyanya jangan dimonopoli orang kaya yang memiliki dana dan fasilitas.
Saatnya para guru penggerak merasakan langsung Program LPDP. Sejak lembaga ini dibentuk, publik melihat belum adanya rasa keadilan dalam program beasiswa luar negeri. Masyarakat melihat bahwa program diatas elitis dan cenderung berpihak kepada yang kaya dan orang kota besar. Terlebih mereka punya fasilitas dan uang untuk mendapat Letter of Acceptance (LoA) atau conditional letter dari perguruan tinggi luar negeri.
Tentunya para guru dari desa dan pelosok daerah kesulitan memperoleh LoA. Karena untuk dapatkan itu prosesnya panjang dan membutuhkan dana dan kemampuan bahasa asing yang lebih. Hal ini tentunya memberatkan yang berasal dari daerah dan keluarga tidak mampu.
Semua guru yang berprestasi, khususnya guru penggerak sebaiknya diberi kesempatan tanpa harus ikut tahapan seleksi. Mereka cukup dibantu proses untuk mendapatkan LoA dan meningkatkan kemahiran berbahasa asing. Saatnya LPDP menjadi navigator dan fasilitator yang bisa membuka jalan kemajuan bagi para guru penggerak. Navigator yang mampu mengarahkan para guru penggerak menjadi agen kemajuan bangsanya.
Penulisan esai merupakan kunci utama untuk lulus seleksi administrasi karena berkaitan dengan portofolio diri atau personal branding kepada pemberi beasiswa. Sehingga sangat penting kemampuan menulis esai. Bagi guru yang tergabung dalam Ayo Netizen AyoBandung.id tentunya sudah banyak yang piawai dalam menulis esai atau artikel. (*)