Belasan tahun lalu gedung Palaguna Nusantara di Timur Alun-alun Kota Bandung, Jawa Barat, dirobohkan pada tahun 2014. Banyak memori khususnya para kawula muda Bandung yang tersambung dengan gedung tersebut di masa kejayaannya di tahun 1980-an. Palaguna Nusantara merupakan tempat untuk belanja, kulineran, nonton film dan bersepatu roda bagi kawula muda Bandung yang terkenal kreatif dan dinamis.
Palaguna Nusantara Plaza tersebut tersebut memiliki empat lantai, dilengkapi dengan escalator pertama di kota Bandung, lantai satu diisi pedagang kain, pakaian, sepatu, tas, lukisan dan batu akik. Sedangkan lantai dua beroperasi Matahari Dept. Store. Di lantai tiga ada bioskop Palaguna, Hero Super Market dan resto ayam cepat saji. Sementara di lantai paling atas jadi tempat bermain sepatu roda yang bernama Lipstick Discotheque.
Keberadaan diskotik Lipstick tadi menjadi salah satu tempat ikonik untuk berkumpulnya kawula muda pada kala itu. Hentakan musik dinamis yang menemani, lampu kelap-kelip membiaskan warna, serta derai tawa para kawula muda yang berputar di atas sepatu roda, lalu ada yang jatuh menahan malu atau tabrakan antar pengunjung menjadi bagian dari memori indah bersama. Tempat tersebut di atas tidak hanya menjadi wahana kesenangan saja, tetapi sekaligus simbol pergaulan dan gaya hidup generasi muda Kota Bandung.
Palaguna kini telah roboh, namun sejarah dan kenangannya tetap terbersit dalam puluhan ribu para kawula muda yang tahun 1980-an tercatat sebagai pelajar SMA. Bangunan boleh hilang atau berganti, tetapi kenangan tentang persahabatan, cinta pertama, dan masa muda yang pernah tumbuh di sana akan selalu menjadi bagian dari identitas Bandung. Seperti banyak ikon kota yang telah pergi, Palaguna membuktikan bahwa sebuah tempat tidak hanya dikenang karena bentuk fisiknya, melainkan karena jejak-jejak emosi yang ditinggalkan di hati masyarakatnya.
Disaat, jalanan Kota Bandung yang masih lengang menjadi semacam "sirkuit" bagi kawula muda untuk meluncur serta berakrobat di atas sepatu roda. Memasuki sekitar tahun 1987, muncul sebuah fenomena baru yaitu ketika muncul wahana ajojing bersepatu roda yang bernama Lipstick Discotheque di Palaguna Nusantara Plaza yang mengkolaborasikan olah tubuh dengan musik yang menghentak dinamis atau ngebeat.
Ajojing bersepatu roda atau roller disco didominasi oleh musik berirama upbeat seperti Italo-disco, synth-pop, dan pop-dance. Berikut adalah lagu-lagu medioa tahun 1980-an seperti "Silent Morning" oleh Noel, "You Spin Me Round (Like a Record)" oleh Dead Or Alive, "Never Gonna Give You Up" oleh Rick Astley "Tarzan Boy" oleh Baltimora, "Papa Don't Preach" oleh Madonna, "You're My Heart, You're My Soul" oleh Modern Talking, "Big In Japan" oleh Alphaville, "Going To The Bank"nya Commodores, 'Electric Youth"nya Debbie Gibson, "Take On Me"nya a-ha, "Blame It On The Rain" punya Milli Vanilli dan tentu saja lagu-lagu The King Of Pop, Michael Jackson dan sesekali menyeruak lagu "We Are The Champions" milik grup rock Queen.
Untuk kawula muda Bandung pada masa itu, pulang sekolah sering kali bukan berarti langsung pulang ke rumah. Ada yang terlebih dahulu menuju wahana disco sepatu roda bersteman-temannya. Letak wahana ajojing sepatu roda di tengah kota, maka para kawula muda banyak yang menggunakan kendaraan umum seperti bus kota atau bemo juga angkot, karena saat itu penggunaan sepeda motor belum sebanyak sekarang. setelah sore dengan wajah ceria dan keringat yng cukup membasahi tubuh, mereka pulang untuk menyambut giat belajar esok hari di sekolah.
Tradisi 'mabal' atau bolos alias tidak hadir ke sekolah namun juga tidak berada di rumah maka untuk menghabiskan waktunya, para kawula muda Bandung tersebut datang ke diskotik Lipstick untuk menghabiskan waktunya sebelum kembali ke rumah, biar disangka sekolah karena pulangnya sore seperti biasa. Ketika itu umumnya ada dua pembagian shift belajar di sekolah yaitu pagi dan siang bergiliran per semester. Dengan rician waktu bersekolah pagi beresnya sekitar pukul 12.00 WIB, sementara yang siang beres sekitar pukul 17.00 WIB.
Sementara itu dari sisi perasaan sebagai kawula muda yang sedang ditumbuhi bunga-bunga asmara, bersama gacoannya mereka menghabiskan waktu bersenang-senang, bercengkrama alias mojok, serasa dunia hanya milik berdua yang lainnya ngontrak. Mereka asyik ngobrol santai di sela-sela capeknya bersepatu roda di diskotik yang berada depan Alun-alun Bandung tersebut. Suasana saat itu relatif aman dan penuh kebersamaan serta para kawula muda saling mengenal satu sama lain.

Bagi kawula muda Bandung yang tumbuh pada era 1980-an, sepatu roda bukan hanya permainan. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup. Setiap roda-roda bergulir menyimpan cerita tentang masa remaja, persahabatan, dan kebebasan yang sulit ditemukan pada masa sekarang. Bagi mereka yang sedang belajar bermain, jatuh dan terjatuh menjadi pengalaman biasa. Tidak jarang terdengar suara tawa ketika seseorang kehilangan keseimbangan. Namun justru dari situlah muncul rasa solidaritas. Teman-teman akan segera membantu dan mengajarkan cara bermain sepatu roda yang benar.
Kisah yang masih nemplok hingga sekarang. Salah satu fenomena yang sempat menjadi gaya hidup kawula muda saat itu ialah terkena virus bersepatu roda. Sebelum era pusat perbelanjaan modern dan media sosial, para kawula muda di Bandung memiliki cara tersendiri untuk memburu hiburan dan mengekspresikan diri. Salah satu tempat favorit mereka adalah wahana diskotik bersepatu atau roller disco yang energik.
Mereka yang pernah menghabiskan waktu senggang atau wajib sekolah, di wahana diskotik sepatu roda tentu masih dapat mengingat suara musik disko yang menggema, lampu warna-warni yang berkilauan, dan sensasi meluncur bersama teman-teman mengelilingi lintasan dalam derai tawa nan manis. Itulah secuil kisah dari kawula muda Kota Bandung yang menjadi bagian penting dari sejarah budaya populer kota ini. sebuah masa ketika sepatu roda berhasil menyatukan ribuan anak muda dalam satu semangat bersuka cita, ceria, berbaur, dan mengecap masa muda saat SMA di tahun 1980-an. (*)