Ayo Netizen

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Oleh: Muh Husen Arifin
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)

Setiap negara menginginkan mata uangnya menjadi alat tukar yang digunakan di setiap sendi perekonomian secara nasional dan internasional. Mata uang yang beredar di pasaran seharusnya menguat karena menjadi kepercayaan masyarakat. 

Saat ini mata uang di Indonesia belum menjadi mata uang terkuat atau tertinggi  di ASEAN masih diduduki oleh Singapura dengan mata uang dolar Singapura, kedua diduduki oleh Brunei Darussalam dengan mata uang dolar Brunei, ketiga dari Malaysia dengan mata uang Ringgit, keempat oleh Thailand dengan mata uang Bath, kelima oleh Filipina dengan mata Peso Filipina, adapun Indonesia masih di urutan kesembilan, terbawah kedua setelah Vietnam.

Artinya Indonesia dengan mata uang Rupiah belum memberi dampak signifikan dengan pengaruhnya ke perekonomian tingkat ASEAN cenderung rendah. 

Mata uang Rupiah tidak berdampak pada aktivitas perekonomian internasional. Sekalipun demikian Rupiah harus dimaknai bahwa masih memiliki kemampuan untuk menunjukkan kekuatannya sebagai mata uang di level internasional.

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama. Investor internasional tentunya berharap Rupiah menjadi yang terkuat di tahun keemasan Indonesia yakni di tahun 2045 sebagai gerbang menuju Indonesia emas.

CBP Rupiah 

Bank Indonesia sudah menggalang sosialisasi tentang Rupiah, melalui CBP dengan singkatan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.

Sebagai bank sentral yang memiliki kapasitas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, terus menjadi garda terdepan mengenai perekonomian Indonesia sehingga mata uang Indonesia ini menjadi mata uang terkuat dan menumbuhkan rasa percaya diri dengan mata uang Rupiah.

Cinta kepada rupiah sesuai arahan mengajak masyarakat untuk mengenal melalui langkah tiga M yaitu mengenali, merawat dan menjaga. Mengutip dari penjelasan Bank Indonesia, mengenali rupiah yaitu mengetahui bahwa 

Bank Indonesia mengeluarkan dua jenis uang Rupiah yaitu kertas dan logam. Ciri utamanya adanya meliputi gambar lambang negara, frasa NKRI, sebutan pecahan dalam angka dan huruf sebagai nilai nominal, nomor seri pecahan, tahun emisi dan tahun cetak, serta tanda tangan pihak Pemerintah dan Bank Indonesia. Adapun ciri khusus uang Rupiah merupakan unsur pengaman uang yang memiliki tiga level, yakni terbuka, semi tertutup, dan tertutup. Pengaman level terbuka dapat dideteksi dengan panca indera, seperti misalnya warna uang yang terlihat terang dan jelas, benang pengaman yang tampak seperti garis melintang atau beranyam, serta tanda air. 

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Unsplash/ Mufid Majnun)

Merawat rupiah yaitu dengan cara sederhana sebenarnya. Kampanye merawat perlu dilakukan sejak dini. Menjaga kerapian uang, jangan sampai terlipat, disimpan dengan baik di dalam dompet. Menjaga kebersihannya, tanpa dicoret agar nilai nominal dan nomor seri tetap tampak dengan jelas, masyarakat harus memiliki kesadaran bahwa uang rupiah tersebut mesti dijaga. 

Bangga dengan uang Rupiah merupakan perwujudan dari kemampuan masyarakat memahami rupiah sebagai alat pembayaran yang sah, simbol kedaulatan NKRI, dan alat pemersatu bangsa. Bangga dengan uang Rupiah harus diperhatikan dengan serius. Sebab itu perlu diketahui bahwa uang rupiah sebagai simbol kedaulatan, ketersediaan uang rupiah harus tercukupi sebagai kewibawaan dan kemandirian negeri Indonesia bahkan di mata negara lain.

Di sisi lain, pembayaran yang sah harus dilakukan oleh masyarakat. Tidak ada mata uang yang perlu dibanggakan selain mata uang Rupiah. Kelancaran pembayaran tetap perlu dimaksimalkan oleh masyarakat. Mencirikan bahwa kita sebagai masyarakat bangga kepada uang Rupiah.

Setelah itu, kita melaksanakan fungsi uang Rupiah dengan paham makna uang rupiah sebagai alat tukar perekonomian. Paham ini dimaknai dengan bertransaksi dengan uang rupiah. Dengan menggunakan uang Rupiah, kita menjadi memahami bahwa uang Rupiah tidak sekadar nilai saja, tetapi menjadi fungsi yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari.

Berbelanja pun sama halnya, bahwa uang rupiah sebagai simbol yang tunggal sebagai alat tukar yang sah dan meyakinkan. Ketahanan uang rupiah juga dapat digunakan sebagai ruang berhemat. Nilai uang rupiah akan semakin besar dan banyak dalam sikap berhemat, mengetahui waktunya untuk digunakan sesuai kebutuhan.

Dengan mengimplementasikan CBP pada uang rupiah, masyarakat diharapkan dapat memaksimalkan uang rupiahnya. Yang akhir-akhir ini kita sering mendengar bahwa uang rupiah yang beredar sering dipalsukan oleh oknum-oknum tertentu. 

Kebijakan Perekonomian Berkelanjutan 

Meskipun masyarakat terlihat baik-baik saja, namun uang rupiah sebagai mata uang yang beredar di pasaran harus dikendalikan dengan kebijakan pemerintah yang berkelanjutan.

Tidak bisa dibilang bahwa kebutuhan pokok sehari-hari harus dikelola dengan baik oleh pemerintah, harga-harga kebutuhan pokok yang meroket naik, drastisnya berimbas kepada masyarakat menengah ke bawah, situasi ini memiliki dampak negatif bagi masyarakat. Uang Rupiah kita akan menjadi alat tukar yang sangat rendah dibandingkan mata uang di level ASEAN bahkan internasional. Ketergantungan kepada dolar pun menjadi lebih besar.

Oleh karena itulah menjadi sangat penting, pemerintah mengelola perekonomian nasional secara simultan dan mewujudkan impian bahwa nilai uang Rupiah akan menjadi mata uang terkuat pertama di ASEAN.

Rekam jejak kekuatan uang Rupiah sudah pernah terjadi. Apa salahnya jika jejak tersebut kembali hadir di tengah-tengah harapan masyarakat Indonesia. Pemerintah wajib menargetkan perekonomian Indonesia yang berkelanjutan didampingi kebijakan yang relevan dan berpihak kepada rakyat dan mengunggulkan nilai mata uang Rupiah di setiap transaksi internasional dan nasionalnya. (*)

Reporter Muh Husen Arifin
Editor Aris Abdulsalam