Ayo Netizen

Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

Oleh: Dias Ashari
Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)

Tulisan ini adalah sebuah refleksi pengalaman saya selama menjadi bagian kontributor penulis ayonetizen di ayobandung. Suka dan duka, datang-menghilang lalu kembali lagi juga menjadi bagian saya bertumbuh menjadi seorang penulis.

Memulai terkadang lebih mudah dibandingkan dengan konsisten dalam segala hal. Baik dalam hidup sehat, belajar hal baru ataupun menjadi seorang penulis. Begitu pun dengan perjalanan saya, ada saatnya ide-ide datang saling bertabrakan hingga lengah untuk terdokumentasikan. Namun kadang ide juga tidak muncul ketika tema yang diberikan repetitif dalam beberapa bulan.

Pengalaman jujur yang selama ini saya rasakan adalah saat beberapa kali ayobandung memberikan tema yang sama tentang lokalitas Bandung Raya. Awalnya saya memahami bahwa ayobandung ingin menemukan identitas atau jati diri sebagai media yang konsen dalam membahas isu terkait dengan Bandung.

Awalnya saya punya semangat yang tinggi namun lambat laun saya merasa tema tersebut repetitif. Saya sulit menemukan hal yang bisa digunakan untuk mengeksplorasi Bandung secara terus- menerus jika yang bisa dibahas hanya seputar kemacetan, sampah dan banjir. Saya sempat merasa bahwa tema tersebut mempersempit ruang saya untuk berpikir, ruang saya untuk bersuara, ruang bagi saya untuk menyuarakan "Suara mereka"yang perlu untuk disuarakan karena hal-hal kecil sering luput dari perhatian.

Tak disangka kabar gembira datang ketika ayobandung kembali membebaskan tema dengan tagline " Bebas Bersuara, Ikuti Momentum", semangat saya kembali tumbuh karena radar menangkap fenomena yang saya rasa perlu disuarakan dan rasanya tak sabar menuangkannya lewat tulisan. Pada awal Juni saya sudah menyiapkan beberapa tema yang saya rasa sangat menarik untuk dibagikan. Namun siapa sangka di minggu ke dua bulan Juni saya menjalani PKPA saya sedikit tersandung masalah karena menyuarakan tentang keadilan bagi mahasiswa dalam mendapatkan hak belajar yang sama termasuk untuk semua kampus.

Pembahasan mengenai hak yang saya rasa wajar saja diminta oleh mahasiswa karena sudah membayar biaya untuk belajar di tempat yang bersangkutan. Namun konteks yang perlu dibahas akhirnya berpindah haluan hanya karena saya sebagai penulis cukup aktif menyuarakan isu keadilan baik melalui status whatshapp maupun lewat tulisan yang saya kirim ke ayobandung.

Sebagai seorang penulis terkadang saya merasa banyak keresahan yang saya lihat di lingkungan dan terkadang rasanya menumpuk dan ingin dikeluarkan. Saya berharap apa yang bisa saya sampaikan mungkin bisa menggugah orang lain yang punya keresahan yang sama untuk berani bersuara. Bahkan terkadang sesimple ingin mengeluarkan gagasan karena terasa overload jika dipikirkan seorang diri. Namun terkadang niat baik tidak selalu diterima dengan baik pula.

Saat itu saya dipanggil oleh beberapa orang untuk menjelaskan apa maksud yang saya sampaikan baik melalui story atau tulisan artikel yang saya buat. Padahal saat itu saya sedang meminta dan memperjuangkan hak saya sebagai mahasiswa untuk mendapat kesempatan belajar yang sama. Namun yang terus dibahas adalah karya-karya saya.

Awalnya saya cukup tenang menghadapi masalah ini dan tetap mencoba menulis hal-hal yang perlu saya suarakan. Namun kejadian ini terus berlanjut hingga isu saya dibahas di forum yang cukup dihadiri banyak orang. Awalnya saya juga masih bisa memahami kenapa hal tersebut bisa terjadi. Namun setelah menyangkutpautkan dengan profesi saya sebagai seorang penulis-- saya sempat goyah dan mempertanyakan banyak hal, "Apakah saya salah menjadi penulis yang berani bersuara, apakah saya berhenti saja dan fokus dengan bidang lainnya yang saya geluti"

Bahkan ketika seseorang menyinggung itu, keberanian juga semangat saya langsung menciut. Padahal saat itu ketika ada kasus penganiayaan terhadap perempuan di Bandung yang disekap bertahun-tahun oleh pacarnya-- saya sudah memiliki niat untuk membahas tema itu. Namun di akhir kalimat seseorang itu langsung memberikan contoh. Misalnya ketika ada isu hari itu tentang kekejaman seorang laki-laki kepada perempuan saya cukup berempati saja tidak perlu dipikirkan terlalu berlebihan apalagi menuliskannya.

Hingga berminggu-minggu saya memikirkan apakah keputusan menjadi seorang penulis harus berhenti. Kemudian juga saya menahan radar saya untuk tidak selalu aktif ketika melihat fenomena yang ada di depan mata. Saya pikir tema yang dibatasi menjadi permasalahan utama yang saya rasakan. Tapi ternyata ada yang jauh menyakitkan ketika secara tidak langsung kita tidak boleh menuliskan setiap fenomena atau isu yang kita lihat di lingkungan.

Hari ini saya memberanikan kembali menulis bukan karena rasa traumanya sudah pulih. Tapi saya berusaha mengingat tujuan awal saya menjadi seorang penulis itu untuk apa. Adapun ketika saya melihat tulisan-tulisan sebelumnya yang penuh dengan semangat untuk menyuarakan segala sesuatu yang perlu disuarakan-- rasanya harapan itu muncul kembali.

Dan semoga selalu bisa berupaya melakukan yang terbaik dari diri saya di hari-hari sebelumnya. Apapun rintangannya dan ujiannya semoga tidak menyurutkan langkah untuk tetap menulis dan menyuarakan. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam