Ayo Netizen

Toto Harianto: Pawang Kayu Pengembang Perajin Mebel dengan Spirit Kreasi Edukasi

Oleh: Totok Siswantara
Ilustrasi pembina perajin furniture dan kriya dengan semangat Kreasi Edukasi (Sumber: dikreasi dengan bantuan Gemini | Foto: gambar: Totok Siswantara)

Terkesan unik jika pada zaman sekarang ini ada sosok pengusaha yang mau bersusah payah membina para perajin mebel atau furniture yang ada di desa. Apalagi sosok tersebut pada saat awal berbisnis dulu melakukan semua itu hanya dengan naik sepeda motor berboncengan dengan istri tercinta menempuh jarak hingga ratusan kilometer.

Sosok diatas adalah Toto Harianto, sahabat lama saya saat masih bekerja di industri pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia. Saya dan Kang Toto Harianto berpisah sekitar tahun 2003, ketika sama-sama pensiun dari perusahaan.

Toto Harianto pendiri Kreasi Edukasi (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Kini Kang Toto mengelola perusahaan rintisan ( startup ) Kreasi Edukasi yang memproduksi mebel/furniture untuk pendidikan, kantor dan rumah, alat kesenian sekolah, alat peraga, buku cetak, alat permainan edukasi, hingga aplikasi digital untuk pendidikan. Produknya sudah tersebar hingga pelosok negeri.

Ketekunan dan keahlian Kang Toto terkait dengan produk berbasis kayu terlihat sejak dia masih muda. Kecermatan memilih kayu yang berkualitas, termasuk analisanya terkait grid direction potongan kayu saat permesinan serta cara mendapatkan pasokan kayu yang berkualitas dan harganya pas, merupakan keahlian tersendiri bagi pria kelahiran kabupaten Garut itu. Sangat tepat jika dia diberi gelar "Pawang Kayu".

Contoh jenis produk Kreasi Edukasi (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Kinerja Startup Kreasi Edukasi

Kini kebutuhan dan permintaan terhadap furniture dan kriya terus meningkat. Pasar furniture dan kriya untuk sekolah, rumah tangga, tempat usaha hingga untuk kesenian dan kebudayaan sebaiknya mengedepankan UMKM dan perajin. Pasar tersebut hendaknya tidak dimonopoli oleh perusahaan furniture raksasa.

Hal diatas ditekankan oleh Toto Harianto, pendiri dan pemilik PT Kreasi Edukasi yang usahanya  memproduksi furniture, kriya, alat kesenian untuk sekolah, dan produk lain yang berbasis kerajinan. Usaha rintisan atau startup yang berkantor di Rancamaung, Cimekar, Kabupaten Bandung.

Toto Harianto adalah mantan karyawan industri pesawat terbang, PT Dirgantara Indonesia di Bandung. Setelah pensiun dia merintis usaha furniture untuk kebutuhan pendidikan. Saat ini pria asli Garut ini telah membina puluhan pengrajin rakyat yang memproduksi furniture dan kriya yang tersebar di Jawa Barat, seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Bandung Barat dan Kabupaten Garut.

Mebel produksi perajin binaan Kreasi Edukasi (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Keahlian tentang Kayu

Sudah banyak produk furniture dan alat sekolah yang diproduksi Kreasi Edukasi, baik untuk ruang kelas maupun untuk pengajaran  kesenian dan budaya. Produk tersebut tidak hanya dipakai oleh sekolah di sekitar Bandung Raya, tetapi sudah dipakai hingga di luar Pulau Jawa.

Kinerja perusahaan itu kian membaik karena berbagai faktor. Antara lain, untuk mendapatkan mebel yang kokoh, awet, dan bernilai tinggi, pemilihan bahan baku kayu harus dilakukan dengan sangat teliti.Kang Toto memiliki keahlian tentang  cara memilih kayu yang baik untuk mebel. Dia punya cara unik untuk memeriksa tingkat kekeringan kayu (kadar air). Karena kayu yang masih basah atau memiliki kadar air tinggi akan menyusut, melengkung, dan pecah saat dikerjakan atau dibubut bahkan bisa rusak atau pecah setelah mebel jadi.Perusahaan Kang Toto, memiliki prosedur dan teknik pengeringan kayu melalui proses kiln dry (oven) karena tingkat kekeringannya lebih stabil dibanding hanya dijemur matahari (sun-dried).

sahabat saya itu memiliki pengamatan yang hebat terkait karakteristik dan serat kayu/ Serat yang rapat dan padat menandakan kayu berasal dari pohon yang sudah tua dan memiliki struktur yang kuat. Biasanya bagian itu untuk struktur utama mebel, seperti kaki meja atau kursi.

Memilih kayu dengan arah serat yang lurus agar mampu menahan beban dengan maksimal adalah rumus yang mesti dikuasai. Utamakan heartwood, yakni bagian terdalam atau inti batang pohon yang memiliki warna lebih gelap, tekstur lebih keras, dan lebih tahan terhadap serangan rayap.

Saran dari Kang Toto, hindari sapwood yakni bagian terluar batang kayu (sapwood) biasanya berwarna lebih terang/putih, bertekstur lunak, dan sangat rentan membusuk atau dimakan hama.

Selain itu pentingnya mewaspadai cacat fisik pada kayu. Hindari mata kayu hidup yang besar. Mata kayu  atau bekas cabang pohon yang terlalu besar atau rapuh (dead knot) dapat mengurangi kekuatan struktur kayu dan mudah lepas, menyisakan lubang pada mebel.

"Jangan pilih kayu yang memiliki retak rambut panjang atau pecah di bagian ujungnya. Pastikan bentuknya lurus: Hindari papan kayu yang sudah melengkung atau melintir sejak awal, karena akan menyulitkan proses pemotongan dan perakitan," saran Kang Toto.

Keniscayaan penguatan industri lokal klaster alat pendidikan, furniture sekolah,alat permainan edukatif (APE). Perlu solusi yang tepat untuk membantu para perajin dan Industri Kecil dan Menengah (IKM) lokal acap kali mengalami masalah untuk menyerap anggaran pendidikan,kebudayaan, pariwisata dan insentif industri serta kesulitan penetrasi pasar.

Karena produk lokal kualitasnya masih ada yang belum baik, maka pemerintah perlu bekerja sama dengan ahli desain kreatif dari berbagai perguruan tinggi tersebut untuk membantu sebagai konsultan para pengrajin yang tergolong UMKM untuk memperbaiki kualitas desain produk dan aspek lainnya. Sehingga produk buatan pengrajin dalam negeri bisa tumbuh menghadapi persaingan.

Kementerian Ekonomi Kreatif, UMKM dan Koperasi perlu memberikan insentif untuk mengembangkan para perajin furniture dan kriya yang proses produksinya ramah lingkungan. Selain itu kualitas produk sesuai dengan standar dan memiliki desain industri  terkini yang ergonomik.  Harapan diatas dinyatakan oleh Kang Toto, yang telah membina puluhan perajin di beberapa kabupaten. Sudah banyak produk furniture dan alat sekolah , baik untuk ruang kelas maupun untuk pengajaran  kesenian dan budaya. Produk tersebut tidak hanya dipakai oleh sekolah di sekitar Bandung Raya, tetapi sudah dipakai hingga di luar Pulau Jawa.

Kang Toto berharap agar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto lewat kementerian terkait segera turun langsung memperkuat ekosistem usaha pengrajin furniture dan kriya dengan berbagai macam skema dan insentif ekonomi.  

Menurutnya produk pengrajin perlu bersinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih untuk menampung produk UMKM buat dipasarkan. Dari Kementerian Koperasi para pengrajin furniture berharap mendapat permodalan lewat LPDB untuk koperasi. Dan fasilitasi sertifikasi produk anggota. Serta  bisa masuknya produk ke marketplace atau e-katalog pemerintah.

Selain itu produk perajin sebaiknya mendapat prioritas untuk dipakai oleh program unggulan pemerintah dibidang pendidikan seperti Program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda. Alangkah baiknya jika gedung, ruang kelas dan asrama siswa Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda pengadaan mebel atau furniture diisi oleh produk kerajinan dengan syarat dan ketentuan standar yang telah ditentukan.  

Produk alat musik gamelan untuk sekolah buatan perajin binaan Kreasi Edukasi (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Tantangan Perajin

Pada saat ini harga bahan baku terus naik. Kayu legal SVLK  harganya lebih mahal hingga 20-40 % dari kayu ilegal. Istilah SVLK  adalah singkatan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu. Merupakan sertifikat bahwa kayu yang digunakan untuk produksi bersifat legal, bukan dari penebangan liar.

Pada saat ini harga kayu jati, mahoni, sonokeling sangat fluktuatif mengikuti dinamika ekspor dan nilai tukar dolar. Hal itu berdampak terhadap margin pengrajin menjadi  kecil dan susah bersaing sama mebel impor yang berbasis Medium Density Fiberboard (MDF). Yakni papan yang dibuat dari serat kayu kepadatan sedang.

Keniscayaan konsumen  saat ini semakin peduli isu lingkungan dan produk berkelanjutan. Permintaan pasar mulai mengarah kepada produk yang disertifikasi ramah lingkungan. Pentingnya desain produk  yang ramah ekologi dengan berfokus pada penggunaan bahan yang efisien, seperti kayu daur ulang, bambu, dan bio komposit serat alam.

Perlu program memperbanyak pelatihan dan sertifikasi untuk pekerja industri berbasis kayu. Dimasa lalu ada sekolah kejuruan tentang bangunan atau perabot dari kayu. Sekolah itu telah menghasilkan tukang kayu yang sangat terampil dan mahir. Namun, sekolah kejuruan semacam itu kini sudah tidak ada lagi. Jika pemerintah daerah kesulitan membentuk atau memformalkan pengajaran tentang kriya, bisa saja melalui pendidikan informal. (*)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam