Ayo Netizen

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

Oleh: aufia zahra sementara
Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)

Stasiun kereta api Padang Panjang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan transportasi di Sumatera Barat pada masanya, stasiun ini merupakan salah satu yang aktif dan jadi penghubung antara berbagai kota di sumatera barat. Stasiun kereta api  Padang Panjang dinonaktifkan karena kehabisan cadangan batu bara di tambang Ombilin pada tahun 2003. pernah diaktifkan pada tahun 2009 dan diberhentikan lagi pada tahun 2014.

Stasiun kereta api dibangun pada tahun 1889 di kota Padang Panjang pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, dan Stasiun beroperasi pada tanggal 1 Juli 1891.

Tujuan kereta api ini adalah transportasi untuk mengangkut batu bara dari tambang Ombilin di Sawahlunto ke Emma Haven yang sekarang namanya Pelabuhan Teluk Bayur di Padang.

Dari bentuk awalnya stasiun ini memiliki struktur bangunan khas Belanda,dan stasiun ini memiliki dua rumah sinyal yaitu sinyal A dan sinyal B,rumah sinyal A berada di Lembah Anai sementara rumah sinyal B berada di Solok.

Stasiun ini juga memiliki depo lokomotif yang berfungsi sebagai tempat perawatan lokomotif,Fasilitas ini dilengkapi dengan dua pompa mesin sehingga mudah dan juga menyimpan bahan non-organik,dan tempat ini sempat jadi tempat transportasi.

sumber dari: wisata.padangpanjang.go.id,dan scholar.unand.ac.id)

Stasiun Padang Panjang mengalami perubahan karena bencana alam dan penurunan aktivitas transportasi secara perlahan, Pada tahun 1926, saat itu terjadinya bencana gempa bumi melanda Stasiun kereta api, stasiun ini pernah dibangun kembali dengan gaya khas Minangkabau tapi seiring waktu masyarakat mulai berhenti mengunjungi karena takut terulang hal yang tak diinginkan dan jalur kereta api pada ditutup yang menuju ke Bukittinggi dan Payakumbuh dinonaktifkan lebih awal di tahun 1973 dan 1986 dan juga sedikit renovasi, pada tahun 2003 stasiunnya dinonaktifkan, tapi sementara itu jalur ke Sawahlunto pernah diaktifkan pada tahun 2009 tapi ditutup kembali pada tahun 2014.

(sumber dari: Portal literasi sejarah bencana,sumbarkita.id dan scholar.unand.ac.id)

Reporter aufia zahra sementara
Editor Aris Abdulsalam