*Disusun oleh Talitha Hilmi Athaillah Agustin, Chelsea Annisa Dona, dan Aliyah Nailatur Rahmah
Hingga saat ini, perang antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung. Pecahnya perang tersebut sudah terjadi sejak 2014 ketika presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, tertangkap basah seorang yang pro-Rusia. Konflik sempat mereda dan berdamai melalui kesepakatan Minsk. Kemudian pada tahun 2021, konflik mulai memanas kembali akibat adanya isu serangan bergilir oleh Rusia. Dilansir dari U.S News, di awal tahun 2022, Rusia melakukan invasi ke Ukraina untuk mencegah Ukraina bergabung dengan NATO. Namun, spekulasi muncul bahwa Putin ingin memengaruhi negara-negara bekasan Uni Soviet. Hal ini selaras dengan ambisi Gajah Mada dalam Sumpah Palapa yang ingin menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit dan pola tersebut terulang dalam Pasunda Bubat.
Secara historis, sebagai dua kerajaan besar, Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit memiliki hubungan erat tanpa adanya perselisihan. Kerajaan Sunda mewakili simbol kekuatan suku Sunda sedangkan Kerajaan Majapahit mewakili simbol kekuatan suku Jawa yang saling menghormati. Namun, stabilitas ini berubah pada tahun 1357 yang disebabkan oleh peristiwa besar yang dikenal dengan Peristiwa Bubat. Peristiwa ini berawal dari niat Hayam Wuruk yang ingin menikahi putri dari Kerajaan Sunda yang bernama Dyah Pitaloka, seorang putri dari Prabu Linggabuana. Oleh karena itu, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Prabu Linggabuana yang berisi sebuah lamaran. Ada yang menyebutkan bahwa Hayam Wuruk tertarik dengan Dyah Pitaloka karena melihat lukisan sang putri yang dilukis oleh seorang seniman bernama Sungging Prabangka, tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa pernikahan ini murni untuk kepentingan politik untuk mempererat hubungan antar dua kerajaan ini.
Alasan Prabu Linggabuana menyetujui pernikahan ini karena didasari oleh hubungan erat antar dua kerajaan dan tidak ada alasan Kerajaan Majapahit untuk menyerang Kerajaan Sunda. Namun, ternyata timbul kesalahpahaman antara Prabu Linggabuana dan Gajah Mada. Gajah Mada ingin pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka dilakukan secara biasa saja, menunjukkan bahwa Dyah Pitaloka merupakan tanda tunduknya Sunda kepada Majapahit. Akibat ambisi Gajah Mada untuk mewujudkan sumpah palapanya, dia memutuskan untuk melakukan penyerangan kepada rombongan Kerajaan Sunda yang menewaskan Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka, memilih bunuh diri karena harga dirinya yang tinggi.
Peristiwa Bubat menjadi luka mendalam yang tragis bagi Kerajaan Sunda, termasuk bagi Hayam Wuruk yang kehilangan calon kekasihnya. Akibat peristiwa ini, Kerajaan Sunda mengalami kekosongan kekuasaan karena putra mahkotanya, Niskala Wastukancana, masih terlalu kecil untuk mewarisi tahta. Karena desakan dan kosongnya kekuasaan maka, ditunjuklah Hyang Bunisora Suradipati, adik Prabu Linggabuana, menjadi raja sementara Kerajaan Sunda.
Pasca peristiwa Bubat, raja Hyang Bunisora Suradipati mulai mengambil sikap untuk mengisolasi diplomatik dengan kerajaan Majapahit dan memfokuskan peningkatan ekonomi serta kesejahteraan rakyat Kerajaan Sunda. Akibatnya, hubungan antara kedua kerajaan ini mengalami keretakan. Keinginan Hayam Wuruk untuk menjalin hubungan politik melalui pernikahan, justru berakhir dengan keretakan konflik dan permusuhan kepanjangan bagi Kerajaan Sunda. Kerajaan Sunda tidak berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Kerajaan Majapahit dan memilih untuk menjauh dari kerajaan besar tersebut (Sondarika et al., 2024).
Bunisora dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan religius, ia memakai sistem pemerintahan demokratis yang mengutamakan musyawarah dan keterbukaaan untuk tujuan kerajaan. Bunisora menggunakan konsep Tri Tangtu (resi, rama, dan ratu) sebagai dasar pemerintahan. Keputusan yang diambil secara tegas oleh sang Mangkubumi adalah isolasi politik dengan Kerajaan Majapahit. Isolasi politik adalah cara lain dari balas dendam bagi Kerajaan Sunda, dengan harga diri yang tinggi Kerajaan Sunda memilih untuk memutus hubungan politik dengan Majapahit. Karena ketegasan yang diambil pihak Kerajaan Sunda, dampak yang dirasakan Majapahit berpengaruh pada penurunan jalur dagang bagian baratnya.
Walaupun Majapahit dapat menaklukan kerajaan-kerajaan lain secara politik dan dikenal sebagai kerajaan besar di Nusantara, sayangnya Kerajaan Sunda menolak keras terpengaruh oleh dominasi tersebut. Di Bawah kekuasaan sang Mangkubumi, Kerajaan Sunda menolak dominasi Kerajaan Majapahit dan memilih untuk menstabilkan keadaan internal di Kerajaan Sunda serta menguatkan pertahanan angkatan perangnya. Sehingga sistem politik mandiri ini menjadi identitas Kerajaan Sunda, yang menolak untuk diintegrasikan ke dalam hegemoni Kerajaan Majapahit.
Kekuasaan Kerajaan Sunda diturunkan kepada Niskala Wastukancana pasca meninggalnya Hyang Bunisora. Apa yang dilakukan oleh Hyang Bunisora selama pemerintahannya, nyatanya dilakukan juga oleh Niskala Wastukancana. Berdasarkan Carita Parahyangan, Prabu Niskala wastukancana mempersiapkan dua wilayah kerajaan untuk kedua putranya yaitu, Sang Haliwungan menjadi ratu wilayah Sunda dan Dewa Niskala sebagai ratu wilayah Galuh. Alasannya agar perang saudara tidak terpecah dan hal ini terbukti saat Prabu Niskala wastukancana meninggal, yang kemudian kedua kerajaan tersebut menyatakan diri menjadi kerajaan otonom (mandiri). Hal ini juga dilakukan oleh Hyang Bunisora dengan memberikan wilayah kepada anak-anaknya dan menjadikan mereka ratu wilayah. Kemudian berdasarkan prasasti Kawali I, Prabhu Niskala Wastukancana tinggal di Keraton Surawisesa di wilayah Galuh yang pemerintahannya juga memberikan keselamatan dan kesejahteraan pada penduduknya.
Terjemahan: inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau Yang Mulia (bernama) Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali yang telah memperindah kraton Surawisesa, yang (menggali) membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang menyuburkan seluruh permukiman, kepada yang akan datang hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan (ke)menang(an) hidup di dunia

Kemandirian Kerajaan Sunda juga terbukti dengan meningkatnya komoditas perdagangan lada hingga dapat menarik perhatian pedagang asing. Kerajaan sunda mengandalkan pelabuhan sebagai pintu masuk aktivitas perdagangan, salah satunya pelabuhan sunda kelapa yang lokasinya paling strategis yaitu di muara sungai ciliwung yang menghubungkan jalur perdagangan lokal dan internasional.
Ini menunjukkan bahwa kemandirian politik yang dijalani menjadi unsur penting dalam identitas politik bagi Kerajaan Sunda, yang menolak untuk berada di bawah dominasi Majapahit. Di sisi lain, Kerajaan Majapahit justru mengalami penyusutan jalur perdagangan di daerah Barat karena keretakan hubungan kerajaannya dengan Kerajaan Sunda. Sehingga Kerajaan Majapahit lebih memfokuskan jalur rempah di daerah Timur dibanding dengan Kerajaan Sunda yang memfokuskan perdagangannya pada kerajaan maritim di Nusantara lainnya seperti kerajaan Malaka dan Aceh.
Selain fokus dengan peningkatan ekonomi serta kesejahteraan rakyat, Kerajaan Sunda juga terus meningkatkan kekuatan pertahanan militer dan memperkuat daerah pelabuhannya. Tujuannya untuk menjalin hubungan perdagangan dengan kerajaan maritim yang tidak berada di bawah kekuasaan Majapahit.
Apa yang dilakukan oleh Kerajaan Sunda merupakan langkah yang bijak untuk melepaskan diri dari belenggu dominasi Kerajaan Majapahit. Nyatanya dengan melakukan isolasi politik, tidak membuat Kerajaan Sunda mengalami kemunduran, dan justru mereka mengalami kemajuan yang bahkan lebih unggul daripada Kerajaan Majapahit. Hal ini membuktikan bahwa dalam sejarah, pola peristiwa akan terus terulang mau bagaimanapun keadaanya dan sejauh apa jarak waktu antara dua peristiwa tersebut. Antara perang Ukraina dan Rusia nyatanya memiliki pola yang serupa dengan apa yang dialami oleh Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit. Termasuk pada saat pasca peristiwa, Ukraina menjadi lebih mandiri setelah melepaskan diri dari belenggu dominasi Rusia. (*)
Referensi :
- Azmi, S. & Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (2021). Bubat: Sisi gelap hubungan Kerajaan Majapahit Hindu dengan Kerajaan Sunda.
- Hidayat, S. & Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat. (2015). PANDANGAN DUNIA ORANG SUNDA DALAM TIGA NOVEL INDONESIA TENTANG PERANG BUBAT. In METASASTRA (Vols. 8–1, pp. 105–120).
- Padmawijaya, R., Khodijah, S., Dosen Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh Ciamis, & Mahasiswa Pendidikan Sejarah. (2014). KEARIFAN BUDAYA SUNDA DALAM PERALIHAN KEPEMIMPINAN KERAJAAN SUNDA DI KAWALI SETELAH PERANG BUBAT. In Jurnal Artefak (Vols. 1–1, pp. 151–162) [Journal-article].
- Sondarika, W., Ratih, D., & Herdianto, H. (2024). Dampak Perang Bubat terhadap identitas dan kebudayaan masyarakat Sunda. Jurnal Artefak, 11(2), 215. https://doi.org/10.25157/ja.v11i2.16397
- SundaDigi. (n.d.). SundaDigi. SundaDigi. https://sundadigi.com/bacaan/detail/125 Upi, H. F. (2022, April 1). Apa yang Terjadi Setelah Perang Bubat? HIMAS UPI. https://himasfpipsupi.wordpress.com/2022/04/01/apa-yang-terjadi-setelah-perang-bubat/
- Jr, ED (2025). PENJELASAN: Mengapa Rusia Menginvasi Ukraina? US News & World Report; US News & World Report. https://www.usnews.com/news/best-countries/articles/explainer-why-did-russia-invade-ukraine?s rc=share