Jawa Barat dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan kuliner tradisional. Di antara sekian banyak makanan khas Sunda, peuyeum atau tape menjadi salah satu sajian yang paling populer.
Namun, tidak semua peuyeum dibuat dari singkong. Di Kabupaten Subang, tepatnya di Kampung Ciruluk, Desa Ciruluk, Kecamatan Kalijati, lahir sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.
Nama Ciruluk sendiri memiliki sejarah yang menarik. Kata Ci berarti air (cai), sedangkan Caruluk merujuk pada pohon kolang-kaling yang dahulu banyak tumbuh di kawasan tersebut. Seiring waktu, nama Caruluk berubah menjadi Ciruluk dan kini dikenal luas sebagai sentra penghasil peuyeum ketan khas Subang.
Berbeda dengan peuyeum dari daerah lain yang umumnya berbahan dasar singkong, Peuyeum Ciruluk dibuat dari beras ketan putih pilihan yang difermentasi menggunakan ragi berkualitas. Salah satu keistimewaannya adalah penggunaan pewarna alami dari daun katuk, daun suji, atau daun laja sehingga menghasilkan warna hijau yang cantik tanpa bahan pewarna buatan.
Keunikan lainnya terletak pada pembungkusnya. Jika tape ketan pada umumnya menggunakan daun pisang atau daun jambu air, Peuyeum Ciruluk justru dibungkus dengan daun muncang (daun kemiri) yang lebar. Daun ini memberi aroma khas sekaligus membantu menjaga kelembapan tape selama proses fermentasi.

Tak heran jika Desa Ciruluk dijuluki sebagai "Kampung Peuyeum", karena sebagian masyarakatnya telah menekuni usaha pembuatan tape ketan secara turun-temurun. Salah satu pengrajin yang masih mempertahankan tradisi tersebut adalah Carta Cahyadi, pemilik industri rumahan Peuyeum Ciruluk "Aki Nini".
Menurut Kang Carta, rahasia menghasilkan peuyeum yang legit dimulai dari pemilihan beras ketan berkualitas. Beras harus dicuci hingga air bilasannya benar-benar bening, kemudian direndam sekitar dua jam sebelum dikukus. Proses pengukusan dilakukan dua tahap selama kurang lebih 45 menit hingga ketan matang sempurna. Proses masak 2 kali, 45 menit pertama setengah matang, 45 menit kedua seperti itu.
Setelah dingin, ketan ditaburi ragi secara merata lalu diberi pewarna alami dari daun katuk, daun suji, atau daun laja. Selanjutnya, ketan dibungkus menggunakan daun muncang dan difermentasi selama sekitar dua hari hingga menghasilkan rasa yang manis, legit, sedikit asam, lembut, serta mengeluarkan aroma harum yang khas.
Salah satu kelebihan Peuyeum Ciruluk adalah daya simpannya yang relatif lama. Jika disimpan dalam lemari pendingin, kualitas rasa dan teksturnya tetap terjaga sehingga sangat cocok dijadikan oleh-oleh khas Kabupaten Subang maupun dinikmati bersama keluarga di rumah.

Saat ini Peuyeum Ciruluk tersedia dalam dua varian, yakni putih dan hijau, bahkan beberapa perajin juga memproduksi varian ketan hitam untuk memenuhi selera konsumen. Selain dibungkus daun muncang, produk ini juga dikemas dalam toples berbagai ukuran sehingga lebih praktis dibawa sebagai buah tangan.
Bagi masyarakat Ciruluk, peuyeum bukan sekadar makanan ringan. Tape ketan ini telah menjadi bagian dari tradisi. Dalam berbagai acara kenduri, hajatan, hingga syukuran, Peuyeum Ciruluk hampir selalu hadir berdampingan dengan aneka jajanan tradisional lainnya. Kehadirannya menjadi simbol kebersamaan sekaligus penghormatan terhadap warisan kuliner leluhur.
Di tengah gempuran makanan modern, Peuyeum Ciruluk tetap bertahan sebagai salah satu ikon kuliner Kabupaten Subang. Cita rasanya yang manis legit, sedikit asam, teksturnya yang lembut, aroma khas daun muncang, serta proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional menjadikan kuliner ini sebagai salah satu warisan gastronomi Sunda yang patut dilestarikan.
Mencicipi Peuyeum Ciruluk bukan sekadar menikmati tape ketan, tetapi juga merasakan sepotong sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Kalijati yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.