Ayo Netizen

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Oleh: T Bachtiar
Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)

Pada Juli - Agustus 2019, terjadi letusan freatik di kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu, Jawa Barat. Letusan itu terjadi ketika magma yang panasnya 1.200 derajat Celsius naik ke permukaan, kemudian bersentuhan dengan air tanah dangkal. Bila panas uap yang terbentuk melebihi panas batuan penutupnya, akan menghasilkan letusan uap, letusan freatik, letusan yang terjadi karena dorongan yang sangat kuat akibat adanya perubahan jumlah besar air yang menjadi uap panas. Pada saat dipanaskan, satu meter kubik air akan berubah menjadi 1.600 meter kubik uap, yang akan menghasilkan letusan vertikal uap, air, abu, bom vulkanik, dan puing-puing batu, bila batuan penutupnya tidak kuat. 

Walau letusannya kecil dan berupa letusan freatik, tapi menjadi penting, karena pascaletusan tahun 2019, merupakan momentum kelahiran gunungapi baru di Kawah Ratu. Gunungapi baru telah lahir. Inilah miniatur gunungapi. Ukurannya kecil, namun sudah memperlihatkan adanya endapan material letusan yang membentuk lereng gunung yang melingkar. Dan, di dalam kawah mininya, terjadi penurunan dasar kawah yang membentuk cekungan. Ketika air meteorik turun di kawah kecil yang baru terbentuk, dengan dasar kawah yang kedap air, maka air meteorik itu tertampung menjadi danau kawah kecil. Dari tepian bibir Kawah Ratu, terlihat air danau kawahnya kehijauan yang segar, merupakan perpaduan warna belerang dengan air. 

Kegembiraan atas kelahiran gunungapi, belum punya nama walau sudah lahir tujuh tahun yang lalu. Atas kelahiran gunungapi kecil itu, rasanya nama yang cocok dengan ukuran gunungnya adalah Gunung Alit. Gunung berarti gunungapi, dan alit diambil dari Bahasa Sunda yang berarti kecil, karena memang gunungapi itu masih sangat kecil. Itulah miniatur gunung api. Mari menjadi saksi atas kelahiran gunungapi, dan akan bertumbuh bila nanti terjadi letusan-letusan berikutnya. Material letusan itu akan mengendap di lerengnya, sehingga akan menambah ketinggian dinding kawah, yang akan menambah volume air danau kawahnya.

Sebagai pembanding tentang kelahiran gunungapi, contoh pertama, lahirnya gunungapi dari kaldera Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sejak letusan tahun 1913. Oleh masyarakat setempat, gunung api yang baru lahir itu dinamai Doroafitoi. Doro berarti gunung, afi berarti api, dan toi berarti kecil. Contoh kedua, dari kaldera Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, lahir Gunung Barujari. Baru berarti baru, dan jari berarti jadi. Gunungapi yang baru jadi, baru terbentuk. Kelahiran gunung api baru dari kaldera gunung api yang terbentuk pascaletusan 1883, terbentuk sejak letusan-letusan bawah laut pada Desember 1927, dan muncul di atas permukaan laut pada Januari 1928. Gunung yang baru lahir itu dinamai Gunung Anak Krakatau, gunungapi anaknya Gunung Krakatau. Dan ada gunungapi yang lahir dari lereng Gunung Ranaka di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Desember 1987. Ranaka berasal dari kata rana yang berarti telaga atau danau, dan ka berarti burung gagak. Gunung Api baru ini kemudian oleh peneliti dinamai Gunung Anak Ranaka, gunungapi anaknya Gunung Ranaka. Padahal masyarakat Manggarai, Flores, menamainya Gunung Namparnos. Nampar berarti tebing, dan nos berarti kerak gosong sisa pembakaran.   

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu. Van Bemmelen membuat sketsa puncak Gunung Tangkubanparahu dengan kawah-kawah yang jumlahnya mencapai 12 kawah, seperti yang muat ulang oleh Dr JA Katili dalam bukunya Pengantar Geologi Umum (Jilid 2, 1962). 

Kawah itu cekungan yang terbentuk karena adanya letusan gunungapi, sebagai lubang utama tempat keluarnya magma, gas gunungapi, dan material letusan gunungapi lainnya.

Menurut M Nugraha Kartadinata (2005), Gunung Tangkuban Parahu lahir dari kaldera Gunung Sunda. Kawah pertama yang terbentuk adalah Kawah Pangguyangan Badak, yang letusan-letusannya terjadi antara 90.000 tahun sampai 40.000 tahun yang lalu. Sebagai penanda posisi Kawah Pangguyangan Badak adalah menara penerima dan pemancar yang didirikan di pinggir Kawah Pangguyangan Badak, di sebelah barat Kawah Upas. Selain letusan eksplosif, terjadi juga letusan efusif yang mengalirkan lava hingga jauh di lembah-lembahnya. Antara 40.000 tahun sampai 10.000 tahun yang lalu terjadi letusan-letusan yang membentuk Kawah Upas. Pascaletusan 10.000 tahun yang lalu, Kawah Ratu terbentuk, yang posisinya berada di sebelah timur dan sejajar dengan Kawah Upas.  

Perlu ada pemetaan dengan menggunakan teknologi yang mudah dan terjangkau biayanya, misalnya pemetaan menggunakan pesawat drone. Pentingnya pemetaan itu untuk mengetahui dimensi Gunung Alit secara akurat. Berapa linggi lereng Gunung Alit dari dasar Kawah Upas, berapa volume air danau kawah saat pemetaan, berapa meter garis tengahnya, berapa luasnya, dll.

Data itu penting untuk diketahui dan dimaknai untuk melakukan mitigasi bencana bila Gunung Alit meletus di kemudian hari. Sebab, walau terjadi letusan freatik kecil, karena terdapat air danau kawah di Gunung Alit, maka letusannya akan menghamburkan bebatuan ke udara bersamaan dengan uap panas, air panas, abu, dan material magmatik.

Bila lembaga yang mempunyai otoritas dalam bidang kegunungapian sudah menaikkan status keaktifan gunungnya, maka keputusan itu tidak boleh ditawar-tawar lagi oleh siapapun. Dan, masyarakat pun harus paham, tidak perlu mendatangi gunung itu untuk alasan apapun bila sudah ditentukan berapa km jarak amannya. Jalan terbaiknya adalah tidak boleh mendekat dalam radius yang sudah ditentukan. Ada saatnya, ketika gunungapi itu tenang, masyarakat boleh mendekat, dan ada saatnya pula harus menjauh, membiarkan gunung apinya bekerja sesuai dinamikanya. (*)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam