Membicarakan hak pesepeda di jalan raya memang bukan masalah sederhana yang bisa diselesaikan dengan begitu saja. Saya mengingat untuk pertama kalinya tentang topik ini karena tulisan itu menjadi momen pertama kalinya saya masuk ke dalam enam kategori dengan tulisan terbanyak sekitar tahun menjelang pandemi. Bahkan dulu ayobandung.id masih belum terbentuk.
Tulisan tentang pesepeda yang menyehatkan atau justru mencelakkan saya tulis karena melihat secara langsung kejadian kecelakaan di depan tempat kerja saya-- beruntungnya tidak ada korban hanya ada luka-luka saja di bagian kaki salah satu anggota komunitas pesepeda.
Menurut saya jalan raya kita di Kota Bandung memang sejak awal tidak diperuntukkan bagi mereka yang suka bersepeda. Kenapa? karena negara kita memang belum mendukung ke arah sana.
Sepeda belum dijadikan sebagai moda transportasi pilihan untuk mengakses aksebilitas dengan jarak yang jauh. Sepeda hanya kendaraan yang biasa digunakan untuk sekedar hobi yang sering dimainkan di lapangan saja. Meski demikian hadirnya berbagai komunitas sepeda membuat valuenya naik. Sepeda menjadi salah satu alat yang digunakan bagi pecintanya untuk berolahraga. Memuaskan rasa bahagia dengan tracking ke beberapa daerah yang memiliki kontur yang lebih tinggi.
Berbeda dengan beberapa negara maju yang menjadikan sepeda sebagai alat transportasi utama yang digunakan sebagai mobilitas kehidupan sehari-hari. Maka tidak heran tingkat kecelakaan disana sangat minim karena jalan didominasi oleh sepeda.
Sementara untuk jalur mobil dan bus memang tidak sepadat di negara kita. Lalu jalur khusus sepeda pun memang digunakan dengan semestinya dan aturan yang dibuat juga ditaati dengan benar. Tentu berbeda dengan negara kita yang masih sulit untuk sekedar membenahi hal sederhana saja dalam dirinya. Itu kenapa ada beberapa faktor yang menurut saya jalan raya kita memang bukan untuk pesepeda.

Pertama, di Bandung sendiri Seokarno Hatta memang terkenal dengan julukan jalur tengkorak karena kerap kali memakan korban. Bagi saya yang awam dengan dunia transportasi-- sejauh ini memandang dari sudut pandang yang saya pahami saja. Menurut saya jalur Seokarno Hatta memang tidak diperuntukkan untuk mereka yang bersepeda tidak hanya karena jalurnya yang tidak disediakan. Karena jika pun ada dengan kondisi jalanan yang ramai dan banyak kendaraan besar dengan kecepatan tinggi tentu sangat rawan menyerempet kendaraan lain yang ukurannya lebih kecil.
Kedua, di kota dan negara kita sepeda memang bukan transportasi yang banyak dipilih oleh masyarakat untuk mobilitas. Sehingga jumlah kendaraan roda dua seperti motor kerap kali menjamur dan mendominasi di jalanan.
Tak dipungkiri karakter masyarakat kita yang sebagian besarnya suka dengan hal yang instan tentu sepeda bukan menjadi hal utama dan yang diutamakan fasilitasnya oleh pemangku kebijakan. Itu kenapa meskipun di sebagian jalan sudah difaslitasi jalur khusus untuk yang memakai sepeda. Kenyataannya masih banyak disalahgunakan baik untuk parkir kendaraan motor atau mobil, dijadikan tempat berjualan bahkan ketika macet tiba banyak kendaraan motor yang tidak sabar dan mengambil jalur khusus untuk mereka yang memakai sepeda.
Ketiga, minimnya mitigasi atau pencegahan kecelakaan di jalan transportasi. Sejauh ini meski tingkat kecelakaan di Indonesia tinggi tapi belum ada solusi yang tepat untuk memperbaikinya. Bahkan tak hanya di jalan raya di jalur kereta pun yang seharusnya minim resiko tetap saja banyak terjadi kecelakaan. Dan yang sangat disayangkan penyebabnya lebih banyak karena masyarakat kita yang melanggar lajur perlintasan kereta api.

Jadi menurut saya sembari memperbaiki kualitas dengan menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung untuk transportasi kita. Kesadaran berkendara juga perlu dipupuk sedemikian rupa agar bisa meminimalisir angka kecelakaan. Tak hanya itu negara dan masyarakat harus sama-sama saling bersinergi untuk mengalihkan transportasi yang ramah energi seperti sepeda untuk menjadi komoditas utama di jalanan.
Entah kapan kesadaran itu bisa menekan dealer-dealer yang semakin menjamur di negara kita ? bahkan ketika negara yang memproduksi kendaraan motor itu pun tidak memprioritaskan jenis transportasi itu untuk digunakan di negaranya ? Sampai kapan kah kita terus-terus menjadi korban produksi ? menjadi masyarakat konsumtif karena menggunakan transportasi bukan berdasarkan kebutuhan melainkan status sosial semata. (*)