Ayo Netizen

Kamp Konsentrasi Jepang di Lembang

Oleh: Malia Nur Alifa
Nisan para korban kekejaman Jepang (dari Kamp Lembang) yang berlokasi di Ereveld Ancol, Jakarta. (Foto: Anggara)

Kamp konsentrasi Jepang atau kamp interniran adalah tempat penahanan yang didirikan oleh tentara Kekaisaran Jepang pada masa Perang Dunia II (1942–1945). Di Pulau Jawa khususnya adalah periode sangat sulit bagi orang-orang yang berkebangsaan musuh dari Kekaisaran Jepang. Kehidupan mereka menjadi buruk ketika pemerintahan Dai Nippon mengharuskan mereka masuk ke dalam kamp-kamp interniran.

Kehidupan di dalam kamp sangatlah berbanding terbalik dengan kehidupan warga Eropa khususnya dalam masa normal (sebelum Jepang datang). Kondisi para tahanan tersebut sangatlah buruk, mereka rentan terkena penyakit karena kondisi kamp yang sangat memprihatinkan. Hal itu diperparah dengan asupan makanan mereka yang sangat minim gizi dan tidak higienis. Dengan kondisi seperti itu sudah barang tentu angka kematian di kamp-kamp interniran atau konsentrasi Jepang di Pulau Jawa khususnya sangatlah tinggi.

Tidak terpenuhinya kebutuhan primer para tawanan kamp interniran atau konsentrasi Jepang merupakan salah satu cerminan kondisi Jepang yang saat itu berangsur-angsur terdesak dengan gempuran dari Sekutu, sehingga kebutuhan akomodasi seperti makanan dan obat-obatan tersedot ke para prajurit Jepang itu sendiri, sehingga bisa dibayangkan bagaimana mirisnya kondisi di dalam kamp.

Belum lagi para tahanan kamp interniran atau konsentrasi Jepang ini bergulat dengan akomodasi yang carut marut, mereka juga harus berjuang agar mental mereka tetap stabil. Dua kata yang terlintas dari beberapa narasumber saya yang mengalami langsung hidup di dalam kamp interniran adalah “membingungkan dan mengerikan”, kondisi ini akan terus membekas di dalam benak mereka.

Penyiksaan demi penyiksaan pun kerap terjadi di dalam kamp, terutama kamp laki-laki dewasa. Mode interogasi Kempeitai atau polisi militer Jepang adalah meliputi metode Waterboarding (penggenangan air ke saluran pernapasan), penyetruman, pencabutan kuku, hingga pemukulan secara brutal.

Selain itu sebagian dari para tahanan itu dipaksa untuk menjadi Romusha. Mereka membangun infrastruktur militer tanpa alat pelindung dan kerap mendapatkan siksaan para mandor. Yang paling mengenaskan adalah pembangunan jalur kereta api Burma-Thailand yang menewaskan ribuan tawanan perang.

Hal yang paling sering terjadi adalah hukuman disiplin yang ekstrem, seperti karena kesalahan-kesalahan kecil, salah satunya terlambat melakukan upacara Seikerei (membungkuk menghormati kaisar Jepang ke arah matahari terbit). Biasanya hukumannya adalah dijemur berjam-jam di bawah sinar matahari langsung. Yang paling terkenal adalah kejahatan seksual yang dilakukan para tentara Jepang kepada para wanita, untuk dijadikan Comfort Woman atau Jugun Ianfu.

Di Pulau Jawa, kamp interniran atau konsentrasi Jepang yang paling mengerikan adalah kamp konsentrasi Cideng yang ada di Jakarta Pusat. Kamp tersebut dipimpin oleh kapten Kenichi Sonei yang terkenal sangat sadis. Dan kamp Cideng ini adalah kamp khusus bagi para wanita dan anak-anak. Kamp ini sangat sesak, bayangkan sebuah lahan yang tidak terlalu besar harus menampung 10.000 tahanan wanita dan anak-anak.

Buku yang mencatat dengan rinci tentang kamp interniran Jepang di Lembang. (Sumber: Istimewa)

Di Bandung, kamp interniran atau konsentrasi Jepang terbesar khusus anak-anak dan wanita adalah Blomenkamp yang ada di kawasan Cihapit, setali tiga uang dengan kamp Cideng, mereka juga harus tinggal dalam lokasi perumahan yang tidak memadai.

Hingga akhirnya saya menemukan data bahwa di Lembang dalam periode pendudukan Jepang pun ternyata terdapat kamp interniran atau konsentrasi Jepang. Saya mendapatkan informasi ini bertahap dalam masa riset di 2009 hingga 2022. Terdapat dua orang narasumber yang pernah tinggal di kamp interniran atau konsentrasi Jepang di Lembang. Mereka saat itu baru berusia sekitar 9 tahun (seorang anak keturunan Belanda), dan yang satu lagi adalah anak pribumi yang saat itu berusia 12 tahun yang bertugas di kebun-kebun sayur sekitar kamp.

Dari dua narasumber ini diketahui bahwa kamp interniran atau konsentrasi Jepang di Lembang berada di kawasan N.V. Baroe Adjak. Tepatnya di 4 gedung utama (berjajar 3 rumah setelah kawasan Piknik Kopi Lembang sekarang), sayangnya salah satu gedung telah roboh sekarang.

Data lainnya saya dapatkan dari sebuah buku yang berjudul “Geillustreerde Atlas Van de Bersiapkampen in Nederlands-Indie 1945–1947”. Dari buku ini diketahui bahwa di Lembang terdapat beberapa rumah atau gedung dalam satu kawasan peternakan dan pertanian yang dijadikan satu buah kamp interniran. Kamp Lembang ini menahan hampir semua warga Eropa yang bermukim di Lembang, dan disatukan antara anak-anak, lelaki dan wanita dalam satu kamp, dan kamp tersebut dipimpin oleh seorang Jepang yang jarang berbicara. Sumber dalam buku ini menuliskan bahwa sumber informasi ini didapat dari laporan mingguan NEFIS pada tanggal 1 bulan April 1946, CAD, AA11 (narapidana ke pabrik kertas Padalarang), Quack, R.B. Laporan Rapwi, Bandung, NIOD, Ic 05493-054946, halaman 64–67.

Dalam buku tersebut mendeskripsikan kesamaan data lisan yang saya dapat dengan kedua narasumber yang saya temui di lapangan. Bahwa keadaan Kamp Lembang saat itu penuh sesak, bahkan ada yang tertidur di pinggiran teras dan kedinginan. Lahan gedung-gedung Baru Ajak tersebut ditutup oleh bilik dan kawat berduri, dan dijaga ketat oleh banyak militer Jepang yang berjaga. Hingga banyak dari para tahanan tersebut yang harus meregang nyawa akibat penyiksaan dan pembunuhan massal di dalam kamp tersebut. Hingga data yang mencengangkan pun saya temui bahwa lahan tempat eksekusi massal itu berada di kawasan peneropongan bintang.

Salah satu sahabat saya yang berdomisili di Jakarta mengunjungi Ereveld Ancol dalam sebuah kunjungan ke tempat-tempat bersejarah, dan ia menemukan makam-makam dari para korban yang dieksekusi di kawasan peneropongan bintang, Lembang. (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam