Ayo Netizen

Ketika Sempadan Sungai Tergusur, Bandung Kehilangan Nilai Luhur

Oleh: Totok Siswantara
Salah satu aliran sungai di Kota Bandung yang tidak punya sempadan dan ekosistemnya rusak akibat pencemaran berat. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Bencana kekeringan mulai mencekam. Desa dan kota mengalami kekurangan air untuk sanitasi maupun irigasi pertanian.  Kondisi musim kemarau yang seperti itu membuat orang melihat ke sungai.

Namun sungai sudah banyak yang rusak, debitnya sangat minim bahkan mengalami pencemaran berat. Lebih tragis lagi sempadan sungai tergusur oleh bangunan. Sehingga ekosistem sungai kian rusak parah. Seperti yang terlihat  pada 15 sungai yang mengalir di Kota Bandung.

Ketika sempadan sungai yang melewati Bandung tergusur oleh bangunan, maka kota ini kehilangan nilai luhur yang diajarkan oleh nenek moyang.

Sempadan sungai adalah kawasan di kiri dan kanan palung sungai yang berfungsi sebagai ruang penyangga untuk melindungi kelestarian fungsi sungai, mencegah erosi, dan mengamankan aliran air.

Wilayah ini bertindak sebagai batas perlindungan alami antara ekosistem perairan dan daratan. Fungsi utama sempadan sungai adalah menjaga aliran air agar tidak meluap atau menyebabkan banjir. Menahan erosi dan longsor di pinggir sungai. Menyaring kotoran atau bahan pencemar sebelum masuk ke air. Menjadi tempat hidup bagi tumbuhan dan hewan.

Sebenarnya ada peraturan dan batasan yang tidak boleh dipakai untuk membangun rumah atau gedung permanen. Jarak batas aman (garis sempadan) berbeda-beda, tergantung ukuran sungai dan apakah berada di dalam atau di luar kota. Pemanfaatan hanya diizinkan secara terbatas untuk fasilitas umum seperti jembatan, pipa air, atau kabel listrik.

Kearifan tentang Air

Bandung lestari alamnya jika segenap warga kota terus berusaha memuliakan air dan memahami siklus hidrologi.

Kota Bandung perlu berpikir keras untuk menghadapi kondisi curah hujan dengan berbagai intensitas lalu ditabung untuk kehidupan yang berkelanjutan. Banyak cara kota Bandung menabung hujan, seperti adanya danau, situ, embung, kolam retensi hingga bendungan.

Kota Bandung mestinya sudah memiliki solusi yang bagus untuk mitigasi bencana hidrometeorologi. Baik bencana banjir maupun kekeringan yang berakibat krisis air.

Jangan sampai kota Bandung kehilangan filosofi, ilmu dan kearifan tentang air. Filosofi pemuliaan air seharusnya menjadi visi kota yang komprehensif. Sebagai cara pandang positif segala sesuatu tentang air yang dibakukan dalam kaidah ilmu hidrologi. Perlu rekayasa sosial agar masyarakat tidak semakin cenderung sewenang wenang terhadap air dan siklusnya.

Budaya pemuliaan air dan ilmu pengetahuan terkait sungai harus dihidupkan lagi lewat kurikulum pendidikan maupun swadaya masyarakat. Agar kepedulian dan kecintaan masyarakat akan sungai bisa tumbuh dan sekaligus menjadi solusi untuk mengatasi masalah pencemaran sungai dan kasus-kasus perusakan lingkungan.

Pemahaman terhadap pemuliaan dan pemaknaan air memiliki akar yang kuat dalam masyarakat Sunda.  Masyarakat memiliki warisan budaya kearifan lokal terkait air. Aliran sungai yang lestari tergambar dalam bentuk seni budaya berupa irama musik degung.  Lagu-lagu tradisional degung menggambarkan lingkungan budaya perairan sungai.

 Bagi masyarakat Sunda, mata air dalam kawasan tertentu disebut mata air Kabuyutan yang dikeramatkan.

Kondisi hidrologi wilayah Kota Bandung dilewati oleh 15 sungai sepanjang 265,05 km, yaitu Sungai Cikapundung, Sungai Cipamokolan, Sungai Cidurian, Sungai Cicadas, Sungai Cinambo, Sungai Ciwastra, Sungai Citepus, Sungai   Cibedug, Sungai Curug Dog-dog, Sungai Cibaduyut, Sungai Cikahiyangan,  Sungai  Cibuntu,  Sungai  Cigondewah,  Sungai Cibeureum, dan Sungai Cinanjur. Sungai-sungai tersebut selain dipergunakan sebagai saluran induk dalam pengaliran air hujan, juga oleh sebagian kecil penduduk masih dipergunakan untuk keperluan MCK.

Kota Bandung juga termasuk dalam wilayah Daerah Pengaliran Sungai (DPS) Citarum bagian hulu. Secara Nasional, DPS ini sangat penting karena merupakan pemasok utama waduk Saguling dan Cirata yang digunakan sebagai pembangkit  tenaga listrik, pertanian, dan lainnya.

Saat  ini  kondisi  sebagian  besar  sungai  di  Kota  Bandung  telah mengalami pencemaran. Sungai   Cikapundung merupakan salah satu sungai vital yang mengalir membelah Kota Bandung . Namun sungai ini  telah banyak kehilangan fungsi ekologisnya.

Wujudkan Ketahanan Air  

Yang paling relevan bagi bangsa Indonesia adalah tentang ketahanan air. Ketahanan sumber daya air sangat menentukan ketahanan pangan suatu bangsa.

Setetes air  memiliki arti penting ketika populasi dunia meningkat pesat dan kekurangan air menjadi masalah yang sangat serius. Pembangunan infrastruktur pengairan oleh bangsa-bangsa di dunia sungguh luar biasa.

Jika kita  melihat visi pengairan bangsa Tiongkok yang luar biasa, terlihat visi pengairan Indonesia ternyata masih kerdil. Kita masih terbelakang dalam pembangunan infrastruktur pengairan. Bahkan sistem irigasi saat era kolonial Belanda dulu beberapa hal tentang pengairan ternyata lebih baik.

Indonesia tergolong masih lemah dalam pembangun infrastruktur pengairan. Padahal. potensi sumber daya air kita  tergolong lima besar dunia. Ironisnya sebagai bangsa mengaku sebagai negara agraris justru kurang visioner dalam membangun infrastruktur pengairan. Baik untuk sanitasi rumah tangga, peternakan, perikanan, industri maupun untuk pertanian. Kini perkembangan dunia semakin menuju kepada sistem irigasi pertanian yang menyalurkan air secara langsung ke akar tumbuhan dengan jumlah yang pas.  

Penyelenggara pemerintah dan masyarakat semakin menyadari betapa berharganya sumber daya air dan bagaimana penggunaan serta pengelolaan air secara efisien. Teknologi irigasi yang didukung oleh bendungan merupakan solusi untuk menghadapi kekeringan dan cara yang tepat untuk meningkatkan produksi pangan nasional.

Pembangunan bendungan merupakan upayanya untuk memaksimalkan tabungan air hujan. Selain bendungan, embung  penampung air juga harus banyak dibangun dengan peruntukan utama untuk mengairi lahan pertanian. Pembangunan bendungan tidak hanya ditujukan untuk keperluan penampungan air saja namun bersifat multifungsi. Yakni untuk pembangkit listrik, pengendalian banjir, perikanan, dan rekreasi.

Betapa pentingnya pendayagunaan tetes-tetes air untuk menumbuhkan tanaman. Patut kita renungkan arti setetes air yang luar biasa kegunaannya. Kisah itu berawal di tahun 1930-an, di tengah gurun Negev.  

Seorang insinyur pengairan bernama Simcha Blass menemukan fenomena penting. Ia memperhatikan bahwa satu pohon di tanahnya tampaknya bertumbuh lebih cepat daripada tanaman di sekitarnya.

Ternyata ada pipa air yang bocor dekat pohon tersebut sehingga mengairi tanah di sekitarnya, setetes demi setetes dalam waktu yang teratur. Lalu Blass mulai berinovasi dan akhirnya berhasil menciptakan sistem irigasi tetesan yang terkenal hingga kini. Sistem ini dikembangkan di gurun pasir Tiongkok sehingga negeri ini mampu memproduksi pangan untuk rakyat yang jumlahnya terbesar di dunia. Bahkan kelebihan produknya bisa diekspor.

Masalah koordinasi pengelolaan air selama ini terjadi tumpang tindih dan respon yang lambat terkait masalah distribusi dan kebutuhan air untuk pertanian, industri dan rumah tangga. Hingga kini pengelolaan air belum efektif. Padahal laju peningkatan kebutuhan air mencapai 12 persen per tahun.

Laju peningkatan kebutuhan air irigasi mencapai 12 persen per tahun. Rendahnya perluasan sawah irigasi di Indonesia antara lain disebabkan oleh kecilnya anggaran untuk membangun infrastruktur irigasi dan derasnya konversi lahan sawah beririgasi sejak dua dasawarsa terakhir, khususnya di pulau Jawa. (*)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam