Ayo Netizen

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Oleh: Priscilla Faustine Santoso
Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)

Kemudahan pembayaran digital telah mengubah kebiasaan mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dari uang tunai ke dompet digital (e-wallet). Berbagai fitur seperti kode QR, transfer antarpengguna, hingga pembayaran belanjaan membuat e-wallet sangat dekat dengan gaya hidup mahasiswa. Tingginya adopsi ini sejalan dengan data Bank Indonesia yang mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,22 miliar pada Mei 2026, atau tumbuh 28,14% dibanding tahun sebelumnya.

Meski praktis dan memiliki fitur pencatatan pengeluaran, kemudahan ini dapat mendorong perilaku konsumtif jika tidak diimbangi dengan kontrol diri. Kehadiran promosi seperti cashback, diskon, hingga fitur buy now pay later (BNPL) yang menurut OJK telah mencapai kredit Rp30,1 triliun per Mei 2026 berisiko memicu pembelian tak terencana. Hal ini sejalan dengan penelitian Ariwangsa dan Jayanatha (2023) yang menunjukkan bahwa penggunaan dompet digital berpengaruh terhadap perilaku konsumtif mahasiswa, sehingga penting bagi mahasiswa untuk mengelola keuangannya secara bijak.

Dompet Digital sebagai Sarana Transaksi Mahasiswa  

Dompet digital memberikan berbagai manfaat bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Mahasiswa dapat menyelesaikan pembayaran dengan cepat tanpa harus mencari mesin ATM atau menyiapkan uang tunai. Transaksi dapat dilakukan melalui pemindaian kode QR, transfer antarpengguna, ataupun pembayaran langsung melalui aplikasi. Sistem pembayaran digital membuat kegiatan ekonomi menjadi lebih praktis dan efisien karena pengguna dapat melakukan transaksi hanya melalui telepon pintar.

Selain mempermudah pembayaran, riwayat transaksi yang tersimpan dalam aplikasi dapat membantu mahasiswa mengetahui jumlah dan jenis pengeluaran yang telah dilakukan. Fitur tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana evaluasi keuangan karena mahasiswa dapat melihat pola penggunaan uang untuk makanan, transportasi, hiburan, belanja daring, maupun kebutuhan akademik. Apabila diperiksa secara berkala, riwayat transaksi dapat membantu mahasiswa mengenali kebiasaan belanja dan menentukan jenis pengeluaran yang perlu dikurangi.

Dari sisi keamanan, penggunaan dompet digital juga dapat mengurangi risiko kehilangan uang tunai karena dilengkapi dengan sistem perlindungan seperti kata sandi, kode OTP, dan verifikasi biometrik. Kemudahan transaksi dengan nominal kecil membuat dompet digital sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, dompet digital dapat menjadi sarana yang membantu pengelolaan keuangan apabila digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.

Kemudahan Transaksi Digital dan Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa  

Meskipun memberikan berbagai manfaat, kemudahan penggunaan dompet digital juga dapat mengurangi kesadaran mahasiswa terhadap jumlah uang yang telah dikeluarkan. Dalam transaksi tunai, seseorang dapat melihat secara langsung berkurangnya uang di dalam dompet sehingga lebih menyadari nilai pengeluaran. Sebaliknya, transaksi digital hanya menunjukkan perubahan saldo dalam bentuk angka sehingga pembayaran dapat terasa lebih ringan.

Saya juga pernah mengalami kondisi ketika beberapa transaksi kecil melalui dompet digital terasa tidak memberikan pengaruh besar terhadap keuangan saya. Pembelian makanan, minuman, atau layanan tertentu memang terlihat sederhana apabila dilihat satu per satu, tetapi setelah diperhatikan melalui riwayat transaksi, jumlah keseluruhannya dapat menjadi cukup besar. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa kemudahan pembayaran digital perlu disertai dengan kemampuan mengendalikan keputusan sebelum melakukan transaksi. Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian Waruwu dan Harianja (2024) mengenai pengaruh penggunaan dompet digital terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan dompet digital berpengaruh terhadap perilaku konsumtif mahasiswa, sehingga kemudahan transaksi digital perlu diimbangi dengan kemampuan dalam mengendalikan pengeluaran. 

QRIS TAP dirancang untuk memberikan pengalaman transaksi nontunai yang praktis dan menyeluruh, baik di sektor transportasi publik maupun pusat perbelanjaan modern. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Selain kemudahan transaksi, promosi digital juga menjadi faktor yang dapat mendorong perilaku konsumtif. Cashback, diskon, kupon, dan gratis biaya pengiriman dapat memberikan keuntungan apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang memang diperlukan. Namun, promosi tersebut juga dapat mendorong mahasiswa melakukan pembelian yang sebenarnya tidak direncanakan hanya karena adanya kesempatan mendapatkan harga lebih murah. Akibatnya, mahasiswa dapat menganggap keputusan tersebut sebagai bentuk penghematan, padahal jumlah pengeluaran tetap bertambah. Kemudahan pembayaran juga dapat membuat batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin tidak jelas. Barang yang awalnya tidak diperlukan dapat dianggap sebagai kebutuhan karena mudah ditemukan dan dibeli melalui aplikasi. Risiko tersebut semakin meningkat dengan adanya fasilitas paylater. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemudahan transaksi digital perlu diimbangi dengan kemampuan mahasiswa dalam mengendalikan keputusan keuangan agar penggunaan dompet digital tetap sesuai dengan kebutuhan. 

Peran Kontrol Diri dan Literasi Keuangan dalam Penggunaan Dompet Digital 

Kontrol diri menjadi salah satu faktor penting yang dapat mengurangi dampak negatif penggunaan dompet digital. Kontrol diri merupakan kemampuan seseorang dalam menahan dorongan, mempertimbangkan akibat keputusan, dan memilih tindakan berdasarkan tujuan jangka panjang. Mahasiswa dengan kontrol diri yang baik tidak langsung melakukan pembayaran ketika melihat promosi atau produk menarik, tetapi mempertimbangkan manfaat dan kondisi keuangannya terlebih dahulu. Dalam penelitian mengenai penggunaan e-money, perilaku konsumtif mahasiswa, dan peran kontrol diri,  Dewi, Herawati, dan Adiputra (2021)  menemukan bahwa kontrol diri mampu mengurangi pengaruh penggunaan e-money terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Temuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi pembayaran tidak secara otomatis menyebabkan mahasiswa menjadi boros. Dampak penggunaan dompet digital bergantung pada kemampuan pengguna dalam mengendalikan keputusan keuangan.

Selain kontrol diri, literasi keuangan juga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku penggunaan dompet digital. Literasi keuangan mencakup kemampuan menyusun anggaran, menentukan prioritas, memahami risiko, mengelola utang, serta mengambil keputusan keuangan secara rasional. Mahasiswa yang memiliki literasi keuangan baik akan memahami bahwa saldo dalam dompet digital tetap merupakan bagian dari uang yang dimiliki. Mereka juga dapat membedakan dompet digital sebagai alat pembayaran dengan paylater sebagai fasilitas kredit yang memiliki kewajiban pembayaran. Penelitian Ariwangsa dan Jayanatha (2023) yang membahas hubungan antara literasi keuangan, penggunaan dompet digital, dan perilaku konsumtif mahasiswa menunjukkan bahwa literasi keuangan dan penggunaan dompet digital berhubungan dengan perilaku konsumtif mahasiswa.

Strategi Membangun Perilaku Keuangan yang Sehat dalam Penggunaan Dompet Digital 

Sebagai pengguna dompet digital, saya mulai menerapkan beberapa kebiasaan untuk menjaga agar kemudahan transaksi tidak membuat pengeluaran menjadi kurang terkendali. Salah satu cara yang saya lakukan adalah menyusun batas pengeluaran berdasarkan kebutuhan utama, hiburan, dan pengeluaran lainnya. Pembagian tersebut membantu saya mengetahui jumlah uang yang dapat digunakan sehingga keputusan transaksi dapat dipertimbangkan dengan lebih baik. Selain itu, saya juga mulai memperhatikan riwayat transaksi secara berkala untuk melihat pola penggunaan uang. 

Dari catatan tersebut, saya dapat mengetahui jenis pengeluaran yang sering dilakukan dan mengevaluasi transaksi yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Penggunaan fitur promosi seperti cashback atau diskon juga perlu dipertimbangkan kembali sebelum digunakan. Saya menyadari bahwa adanya promosi tidak selalu berarti harus melakukan pembelian, karena keputusan tersebut tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan. Fasilitas paylater juga perlu digunakan secara hati-hati agar tidak menjadi alasan untuk melakukan pengeluaran di luar kemampuan.

Berdasarkan pembahasan tersebut, penggunaan dompet digital memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku keuangan mahasiswa. Dompet digital memberikan kemudahan, kecepatan, keamanan, serta efisiensi dalam melakukan pembayaran. Riwayat transaksi dalam aplikasi juga dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi pengeluaran. Namun, kemudahan transaksi, promosi, cashback, serta berkurangnya penggunaan uang tunai dapat mendorong pembelian impulsif dan perilaku konsumtif. Pengaruh tersebut akan semakin kuat apabila mahasiswa tidak memiliki anggaran, kurang mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mudah mengikuti gaya hidup dan tren. Risiko keuangan juga dapat meningkat apabila penggunaan dompet digital disertai fasilitas paylater yang tidak dikelola secara bertanggung jawab.

Dompet digital pada dasarnya bukan penyebab tunggal perilaku boros. Dampaknya bergantung pada cara mahasiswa memahami, menggunakan, dan mengendalikan fasilitas pembayaran tersebut. Mahasiswa perlu menjadikan kemajuan teknologi finansial sebagai sarana untuk membentuk perilaku keuangan yang lebih baik. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan literasi keuangan, menyusun prioritas, membatasi saldo, mencatat pengeluaran, serta memperkuat kontrol diri. Promosi dalam dompet digital sebaiknya digunakan hanya ketika sesuai dengan kebutuhan, bukan sebagai alasan untuk melakukan pembelian baru. Dengan sikap kritis dan disiplin, dompet digital dapat membantu mahasiswa mengelola transaksi secara efisien tanpa mengorbankan kestabilan keuangannya. Pada akhirnya, kemampuan mengendalikan penggunaan dompet digital merupakan bagian penting dari proses mahasiswa menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan bijaksana dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital. (*)

Reporter Priscilla Faustine Santoso
Editor Aris Abdulsalam