Siang itu matahari sedang terik-teriknya di Babakan Dangdeur, Cibiru, Bandung dan sekitarnya. Setelah mengangkat jemuran, tiba-tiba Kakang, anak ketiga (5 tahun), datang menghampiri.
“Bah, ayo main ke sawah?”
“Sonten nya!” jawabku singkat.
Rupanya perkataan 'sore' itu belum cukup untuk tetap pergi ke serang.
“Ayo, Bah. Ayeuna. Engké teu aya Pa Petanina di sawah!”
Kakang terus merengek. Dari kejauhan memang terdengar suara mesin menderu. Sesekali terdengar suara anak-anak. Ada kehidupan lain di balik rumah, di hamparan sawah yang bagi orang dewasa biasa saja, tetapi tidak untuk bocah yang selalu menyimpan dan menjadi tempat bermain alakadarnya.
Tanpa berkata-kata, langsung menyusul dari belakang. Ternyata di sawah milik Pa Haji, seorang petani sedang membajak tanah dengan traktor.
Ku terdiam sejenak, seribu bahasa. Dulu, sawah dibajak munding. Kini, munding telah berganti “kerbau baja”.
Mesin menggantikan tenaga hewan. Suara dengusan kerbau berganti deru mesin. Tapak kaki munding di lumpur berganti roda dan pisau bajak yang terus berputar membelah tanah.
“Tuh kan, Bah. Mundingna teu aya. Diganti ku traktor, nya?” celoteh siswa PAUD Al-Hidayah.
“Muhun,” jawabku.

Konon, munding diprediksi punah tahun 2031. Pasalnya, populasi kerbau di Indonesia berada di ambang kepunahan bila penurunan terus berlanjut tanpa penanganan serius.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Iman Supriatna, menguraikan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2011–2013 yang menunjukkan terjadinya penurunan tajam populasi kerbau hingga satu juta ekor, serta penurunan sapi potong mencapai 2,5 juta ekor.
Keprihatinan ini makin diperkuat oleh rendahnya rasio kepemilikan ternak di Indonesia yang hanya sebesar 0,065 per penduduk (setara 65 ekor per 1.000 penduduk), jauh tertinggal dibandingkan Australia yang mencapai rasio 1,2. (Ayo Bandung, Selasa, 8 Desember 2015 | 06:41 WIB)
Kakang melihat traktor dengan rasa ingin tahu. Baginya, ini bukan sekadar pemandangan baru. Tetapi bagiku, kerbau yang tidak ada itu justru menghadirkan kerinduan mendalam pada masa lalu.
Pikiranku melayang ke era 1990-an, ke kampung halaman di Bungbulang, Garut Pakidulan.
Saat itu, sawah-sawah dibajak dengan munding. Pesawahan terasa begitu dekat dengan kehidupan anak-anak. Tanah menjadi arena bermain. Lumpur menjadi bagian dari kegembiraan. Dengan cara bermain perang-perangan tanah, berlari di pematang, bercanda dengan kerbau.
Ada munding bule yang sering menjadi bahan candaan.
Bila ada kawan memakai baju merah, teriakan spontan terdengar. “Awas Munding bule!” Anak-anak tertawa bersama. Sungguh sederhana sekali. Justru dari kesederhanaan itulah yang sekarang terasa mahal.
Puluhan tahun berlalu. Kini berdiri di pinggir sawah bukan lagi sebagai anak yang berlari mengejar kerbau, melainkan sebagai seorang ayah yang menemani anaknya melihat traktor.
Satu generasi berganti. Zaman dan perkembangan teknologi berubah. Tapi tanah tetaplah tanah yang harus dibajak sebelum ditanami. Dengan tetap membutuhkan sentuhan tangan manusia. Tetap menjadi tempat benih ditanam dan harapan ditumbuhkan.
Ya, yang berubah hanya alatnya. Dulu pakai kerbau, sekarang menggunakan traktor. Tiba-tiba Kakang memecahkan lamunanku.
“Bah, kenapa Pa Petani tidak pakai sepatu ya membajak sawah?”
“Sésah atuh Jang!” celetukku.
“Kan bisa pakai sepatu boot,” katanya sambil tertawa.
Bocah yang sudah ikut les di tempat Belajar Musi itu sempat-sempatnya berkata sepatu boot dan mendekat, sambil menunjuk kaki Pa Petani.
“Coba lihat, Bah. Tidak pakai sepatu kan!”
“Muhun. Éta mah nyeker, Men!”
Kakang tertawa terbahak-bahak. Ku ikut tersenyum.
Rupanya, pertanyaan sederhana dari seorang anak ternyata bisa membuka percakapan tentang relasi manusia dengan alam (tanah, sawah).
Ihwal bagaimana pekerjaan yang terlihat sederhana dari kejauhan sesungguhnya membutuhkan keberanian untuk berkotor-kotor dengan lumpur.
Ingat, nasi yang kita makan setiap hari bermula dari tanah yang dibajak, benih yang ditanam, dan keringat petani yang jarang kita pikirkan.

Minimnya Ruang Bermain, Alih Fungsi Sawah
Di sekitar sawah yang tinggal berpetak dan bisa dihitung dengan jari akibat tergerus zaman, modernisasi yang berubah menjadi beton, rumah, kos-kosan, hunian sederhana.
Anak-anak laki-laki asyik bermain layang-layang. Bocah perempuan berjalan di pematang sawah sambil bernyanyi, makan jajanan, dan bercengkerama.
Mengingat Kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan fasilitas bermain anak di Kota Bandung saat ini masih sangat minim.
Parahnya, luas RTH publik di Bandung berkisar di angka 12% hingga 15% dari total wilayah, jauh dari syarat minimal 30% yang diwajibkan. (www.dpkp.bandung.go.id)
Bila di Cibiru masih ada air buat nyawah, maka untuk di daerah Gedebage sudah minim, bahkan kering kerontang.
Dalam liputan bertajuk Nestapa Petani Gedebage Hadapi Kemarau dan Gagal Panen dijelaskan musim kemarau dan El Niño memicu gagal panen di Gedebage. Petani kesulitan air, Pemkot menyiapkan antisipasi, WALHI mendesak solusi ekologis.
Dampak kekeringan ekstrem ini mulai dirasakan sejak bulan April (bulan kelima), lebih awal dari biasanya, tanpa adanya bantuan musim kemarau basah seperti dua tahun sebelumnya.
Salah seorang petani garapan, Jajat (50 tahun), harus menelan pil pahit ketika lahan perkebunan sayur seluas satu hektare, lahan persawahan seluas dua hektare miliknya mengalami gagal panen total.
Padahal, telah mengeluarkan modal sewa lahan sebesar Rp3 juta per tahun. Akibatnya, harus menganggur selama lebih dari dua bulan dan kehilangan sumber pendapatan rutin dua bulanan untuk keluarganya.
Kelangkaan air di Gedebage diperparah oleh ketiadaan mata air di sekitar lahan pertanian, sehingga sekitar enam petani terdampak terpaksa bergantung pada air limpasan parit, selokan, sumur buatan sederhana.
Saepudin (62 tahun), mengeluhkan ketersediaan air yang sangat terbatas, sehingga pengisian pompa air pribadi miliknya hanya dapat dilakukan secara berkala setiap tiga hari sekali.
Dengan bertani sejak tahun 1982 pada lahan sawah seluas satu hektare, mengungkapkan bantuan dari Pemerintah Kota Bandung sejauh ini masih sebatas pupuk dan belum pernah mencakup bantuan mesin pompa air. Situasi ini memaksa para petani mendesak pemerintah untuk segera turun tangan membenahi sumber air dan saluran irigasi.
Secara ilmiah, kondisi yang dialami para petani sejalan dengan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat musim kemarau 2026 berlangsung bersamaan dengan fenomena El Niño.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan El Niño mulai aktif sejak akhir April dengan intensitas lemah dan diprediksi meningkat ke tingkat moderat pada triwulan ketiga (Agustus hingga Oktober 2026).
Durasi kemarau tahun ini mengalami pergeseran menjadi lebih panjang, yang mencapai 13–15 dasarian dan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir. Tentunya, kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, gangguan irigasi, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Menanggapi ancaman kekeringan itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung melaporkan dari total area pemetaan, sekitar 100 hektare lahan pertanian di Kota Bandung masih dalam kondisi terkendali.
Kepala DKPP Gin Gin Ginanjar mengidentifikasi sejumlah titik rawan yang membutuhkan perhatian khusus, 5 hektare lahan di Gedebage dan 10,5 hektare lahan Hati Suka Tani (HST) yang kekurangan air, serta 1 hektare lahan yang mengalami kekeringan tingkat ringan.
Pihak DKPP memprediksi puncak musim kemarau ekstrem baru akan terjadi pada September dan Oktober 2026, yang mengakibatkan potensi kekeringan diperkirakan masih bisa meluas.
Sebagai bentuk respons dan solusi, Pemkot Bandung menyiapkan strategi penanganan jangka pendek dan jangka panjang untuk menekan risiko kekeringan. Solusi ini meliputi penyediaan mesin pompa air, perbaikan jaringan irigasi, pemeliharaan dan pembangunan sumur-sumur dangkal buatan di sekitar area persawahan.
Khusus wilayah Gedebage yang kerap mengalami masalah ganda (banjir saat musim hujan dan kekeringan saat kemarau) pemkot berencana menghubungkan sistem drainase perairan serta mengelola sistem irigasi primer dan sekunder yang terhubung dengan kolam penampungan air buatan, meskipun masih terkendala kewenangan pengelolaan.
Di sisi lain, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat menyoroti krisis air yang meluas di berbagai kawasan Jawa Barat, seperti di Kabupaten Bekasi yang mencakup 39 titik kekeringan di sembilan desa (mengancam 13.985 jiwa); di Kabupaten Majalengka yang berdampak pada 30 desa.
Divisi Disaster WALHI Jabar, Aldi Maulana, mengkritik respons pemerintah yang dinilai reaktif dan primitif, seperti penetapan status darurat, pembagian air tangki, dan pompanisasi, sebagai bentuk "pengalihan biaya" (cost shifting).
WALHI menegaskan kekeringan berulang ini adalah cerminan kegagalan sistemik akibat alih fungsi lahan di area hulu dan pengabaian batas-batas ekologis demi kepentingan investasi.
Solusi fundamentalnya, WALHI Jawa Barat mendesak pemerintah beralih ke manajemen risiko berbasis keadilan ekologis dengan mengharmonisasikan RTRW, KLHS, dan RPPLH agar daya dukung lingkungan dijadikan batas mutlak pembangunan.
WALHI memberikan rekomendasi solusi konkret yang meliputi, penghentian izin pembangunan komersial di kawasan resapan air, restorasi ekosistem hulu, integrasi pemanenan air hujan berbasis komunitas melalui kewajiban pembuatan sumur resapan, biopori, dan penampungan air.
Untuk perlindungan petani kecil, WALHI mendorong adanya jaminan asuransi gagal panen (puso) tanpa birokrasi rumit dan penerapan program diversifikasi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim. (Tirto, 2 Aug 2026 07:00 WIB).

Merawat Ingatan, Merayakan Kebersamaan
Sawah bukan sekadar lahan pertanian semata, melainkan ruang sosial. Tempat anak-anak belajar mengenal alam. Ruang perjumpaan tetangga bertemu. Menjadi pejuang rupiah bagi orang dewasa bekerja. Tempat percakapan kecil berlangsung tanpa harus direncanakan.
Bi Mimin, tetangga yang biasa menyapa dan berkata, “Panas atuh, Yah!”
“Muhun. Ieu hoyong ningal Munding nu aya traktorna,” jawabku.
“Sanes ti enjing-enjing ningalina?” ujarnya sambil berseloroh. "Nya kitu, sok diajak tadi mah. Da teu emut ka sawahna."
Di tengah-tengah panas yang menyengat, Kakang masih betah. Sambil menunggu Pa Petani menyelesaikan pekerjaannya, pemilik rambut ikal yang enggan dipotong ini malah mengajak bermain ayam-ayaman dari rumput.
Aturannya sederhana, yang kalah, rumputnya harus dicelupkan ke air sawah yang baru saja dibajak. Babah berkali-kali kalah dan tibalah waktunya Kakang tertawa lepas.
Saat permainan itu mulai membosankan, Kakang mengubah rumput yang sama menjadi alat pancing-pancingan ikan.
Begitulah cara anak-anak yang tidak membutuhkan banyak benda untuk bahagia. Rumput bisa menjadi ayam, pancingan. Sawah bisa menjadi lapangan permainan. Lumpur menjadi sumber tawa riang.
Ya, dunia anak-anak memang tidak serumit (dunia) orang dewasa. Terkadang kita yang sering merasa harus membeli banyak hal (waktu, kesempatan) agar anak bahagia. Padahal, bocil justru bisa menemukan kegembiraan dari sesuatu yang sederhana.
Pasalnya, yang dibutuhkan kadang bukan mainan mahal. Apalagi tempat wisata yang jauh. Bukan pula layar yang terus menyala. Hanya membutuhkan ruang dan waktu yang mau menemani.

Traktor akhirnya berhenti. Pa Petani selesai membajak sawah. Bersiap-siap pulang. Sebelum kembali ke rumah, Kakang mengajak mampir ke warung untuk membeli jajanan.
Di saat perjalanan pulang, justru kembali memikirkan sawah tadi. Tentang munding yang telah digantikan traktor. Ihwal masa kecil yang telah digantikan masa dewasa.
Soal permainan tanah yang perlahan digantikan game di layar. Perjalanan waktu yang tidak pernah bisa kita minta kembali.
Hidup ini ibarat sawah. Tanahnya harus dibajak agar siap ditanami. Kenangan harus disimpan supaya kita tidak kehilangan akar. Anak-anak mesti diberi ruang agar tumbuh dengan pengalaman, bukan sekadar pengetahuan.
Sebab suatu hari nanti, Kakang akan tumbuh besar. Terkadang tidak lagi mau diajak bermain ayam-ayaman dari rumput.
Bisa jadi lupa pernah berdiri di pinggir sawah pada siang yang panas itu. Boleh khilaf siapa yang kalah dan siapa yang rumputnya dicelupkan ke air sawah.
Tapi tidak dengan tubuh dan jiwanya yang menyimpan aktivitas remeh temeh. Pernah ada seorang ayah (Babah) yang mau meninggalkan jemuran, berjalan ke sawah, melihat traktor, bermain rumput, lalu mampir ke warung bersamanya.

Waktu boleh membajak banyak apa saja, tetapi (semoga) kasih sayang tidak pernah ikut terbajak. Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan, beton. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh bak benih yang ditanam di tanah, yang diam-diam, perlahan, tumbuh, lalu suatu hari menjadi pohon yang menaungi perjalanan hidup.
Walhasil, inilah makna pulang yang sesungguhnya. Bukan sekadar kembali ke rumah. Berusaha menemukan makna sejati di tengah-tengah perubahan zaman dengan segala dinamikanya. Ya, masih ada sesuatu yang tetap tumbuh, harus dirawat, mulai dari rasa cinta, kenangan, sampai waktu (kesempatan) yang pernah kita berikan kepada anak-anak untuk menyiapkan masa depannya. (*)