Tulisan ini mengajak pembaca mengenal tujuh gunung tertinggi yang ada di kota Bandung — bukan hanya dari ketinggiannya, tetapi juga dari legenda dan cerita yang hidup di sepanjang jalurnya.
Tujuh gunung yang dijuluki Seven Summits Bandung Raya ini, bukan sekadar deretan puncak dengan ketinggian berbeda. Melainkan masing-masing dari keberadaan gunung tersebut menyimpan sejarah panjang, jalur pendakian dengan tantangan unik, dan legenda yang diyakini secara turun-temurun oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Dari Gunung Tangkuban Parahu yang lekat dengan legenda Sangkuriang hingga puncak-puncak lain yang menyimpan kisah dan karakter masing-masing, gunung-gunung di Bandung menjadi ruang pertemuan antara alam, legenda, dan perjalanan manusia.
- Gunung Kendang 2.617 MDPL
Gunung Kendang adalah gunung yang paling tinggi di kawasan Bandung Timur, nama kendang sendiri menurut masyarakat setempat diyakini diambil dari suara gemuruh dari perut gunung yang mirip pukulan alat musik kendang atau gendang. Gunung ini termasuk gunung berapi berbentuk kerucut atau komposit dengan lereng yang curam di bagian puncak dan lebih landai di bagian kaki gunung. Ketinggianya sekitar 2.617 meter di atas permukaan laut (mdpl). Berada di Desa Neglawangi, Kecamatan Kertasari. Jalur pendakian yang sulit dan memakan waktu yang cukup lama menjadikan gunung ini kurang populer di kalangan pendaki. Tak heran, hanya pendaki berpengalaman yang bisa menaklukan gunung tersebut. Trek pendakiannya perlu melewati perkebunan teh dan ladang sayur milik warga sebelum mamasuki hutan. Estimasi waktu menuju puncak sekitar 5 hingga 9 jam perjalanan.
Jalur Pendakian
Hanya ada dua jalur untuk mendaki gunung kendang yaitu: jalur pendakian via Desa Neglawangi, Kertasari dan via Kampung Lodaya, Kecamatan Kertasari.
Legenda Masyarakat
Gunung ini juga menyimpan legenda tentang Kala Paksa cerita cerita tentang cinta dan ratapannya seorang raksasa yang jatuh cinta kepada Dewi Rara seorang putri dari seorang petapa. Konon karena cintanya bertepuk sebelah tangan, raksasa tersebut dikurung di dalam Gunung Kendang oleh seorang yang sakti bernama Jaya. Masyarakat yang hidup di sekitar gunung beranggapan ketika bencana banjir bandang terjadi saat itu lah raksasa sedang bersedih dan menangis.
- Gunung Patuha 2.434 MDPL
Gunung Patuha yang memiliki ketinggian 2.434 mdpl, adalah salah satu gunung tertinggi di kawasan Bandung Selatan. Nama patuha sendiri diyakini berasal dari kata “pak tua” berasal dari keyakinan masyarakat yang percaya bahwa gunung ini adalah gunung yang tertua di wilayah Bandung.
Jalur Pendakian
Pendakian ke puncak Patuha bisa dimulai dari Kampung Cipanganten, Kecamatan Rancabalu atau melalui kawasan wisata Kawah Putih. Berdasarkan catatan geologi, gunung patuha pernah mengalami dua kali letusan besar, letusan pertama menghasilkan Kawah Saat (kata Saat diambil dari bahasa Sunda yang berarti kering), sementara letusan kedua melahirkan Kawah Putih yang terkenal dan menjadi objek wisata hingga saat ini.
Legenda Masyarakat
Seperti gunung-gunung lainnya gunung Patuha menyimpan legenda yang diyakini oleh masyarakat sekitar. Pada masa penjajahan Belanda di Nusantara, penduduk setempat menganggap kawasan Gunung Patuha merupakan tempat angker dan tidak ada yang berani mendekati dan mendaki puncaknya karena takut mendapat bencana. Bahkan burung-burung yang melintas di atasnya akan mati secara tiba-tiba. Keyakinan tersebut baru bisa dipatahkan pada tahun 1837 oleh ahli geologi asal Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, yang membuktikan bahwa burung-burung yang melintas dan mati tiba-tiba disebabkan oleh gas belerang dari kawahnya, bukan karena kekuatan gaib.
- Gunung Malabar 2.343 MDPL
Gunung Malabar adalah salah satu gunung yang paling terkenal di wilayah Bandung Selatan. Nama gunung ini diyakini berasal dari kata Sunda kuno labar-lébér yang berarti meluber atau melebar. Hal ini merujuk pada bentuk gunung yang besar dengan lereng yang meluas ke segala arah, gunung ini memiliki beberapa puncak dan puncak tertingginya disebut Puncak Besar dengan ketinggian 2.343 mdpl.
Jalur Pendakian
Ada tiga jalur yang bisa digunakan untuk pendakian gunung malabar yaitu: Pertama, Pendakian via Cinyirun, Kampung Cinyirun, Pangalengan. Kedua, jalur pendakian via Kopi Magma, Ketiga, jalur pendakian via Gunung Puntang atau Gunung Haruman, Banjaran. Waktu tempuh rata-rata untuk mencapai Puncak Besar adalah sekitar 5 hingga 6 jam perjalanan.
Legenda Masyarakat
Legenda yang paling melekat pada Gunung Malabar adalah kaitannya dengan sosok legenda di masa lalu yaitu Prabu Siliwangi, raja dari Kerajaan Pajajaran. Nama "Malabar" dipercaya oleh sebagian masyarakat berasal dari kata babar yang berarti lahir. Konon, Prabu Siliwangi lahir di kawasan Gunung Malabar ini. Di gunung ini juga terdapat Sungai Cigeureuh, yang diyakini sebagai tempat pertama kali bayi Prabu Siliwangi dimandikan. Air Terjun Siliwangi yang ada di gunung malabar adalah sebuah air terjun (curug) yang disebut sebagai Curug Siliwangi, yang dipercaya sebagai tempat mandi sang raja di masa lalu. Selain legenda Kerajaan Pajajaran, Gunung Malabar juga menyimpan sejarah modern yang menarik. Di lerengnya terdapat sisa-sisa stasiun Radio Malabar, yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1923 sebagai pemancar radio jarak jauh terbesar di dunia pada masanya.
- Gunung Bukit Tunggul 2.209 MDPL
Gunung Bukit Tunggul merupakan puncak tertinggi di kawasan Bandung Utara, secara geologis, gunung ini terbentuk dari sisa letusan Gunung Sunda Purba pada zaman prasejarah. Nama "Tunggul" sendiri merujuk pada bentuk puncaknya yang menyerupai sisa pangkal pohon besar yang telah ditebang.
Jalur Pendakian
Ada dua jalur alternatif yang banyak dipilih untuk mendaki gunung tersebut sampai ke puncak, jalur pendakian gunung bukit tunggul via taman bincarung yang berada di Kampung Pasir Angling, Desa Sutenjaya, Kecamatan Lembang dan pendakian via Perkebunan Kina Bukit Tunggul berada di Desa Cipajalu, Kecamatan Cilengkrang.
Legenda Masyarakat
Seperti gunung Tangkuban Parahu gunung Bukit Tunggul erat kaitannya dengan legenda Sangkuriang. Trek pendakian didominasi jalur menanjak terus menerus, melewati kebun warga, hutan pinus, punggungan bukit, sebelum masuk ke hutan. Waktu tempuh rata-rata untuk mencapai puncaknya adalah sekitar 2 hingga 4 jam perjalanan.
- Gunung Tangkuban Parahu 2.086 MDPL
Gunung Tangkuban Parahu adalah ikon wisata alam Jawa Barat yang menyimpan cerita legenda dan fenomena geologi menarik. Terletak sekitar 20 km di utara Kota Bandung, gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Subang. Secara geologis, gunung tangkuban parahu adalah gunung api aktif. Asal usul nama “Tangkuban Parahu” diambil dari bahasa Sunda yang berarti “Perahu Terbalik”, gunung ini sangat erat kaitannya dengan legenda Sangkuriang.
Jalur Pendakian
Terdapat tiga jalur untuk mencapai puncaknya yaitu: Pertama, jalur pencakian via Cikole. Kedua, jalur pendakian via Jayagiri. Ketiga, jalur pendakian via Trek 11 Sukawana.
Legenda Masyarakat
Diceritakan, Sangkuriang jatuh cinta pada ibunya sendiri, yang bernama Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niatnya, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membuat sebuah perahu besar dalam waktu satu malam . Saat usahanya gagal karena fajar datang lebih cepat, Sangkuriang menendang perahu itu hingga jatuh terbalik dan berubah menjadi Gunung Tangkuban Parahu. Gunung Tangkuban Parahu memiliki sekitar 13 kawah, dengan tiga yang paling populer adalah Kawah Ratu, Kawah Upas, dan Kawah Domas.
- Gunung Burangrang 2.050 MDPL
Gunung Burangrang memiliki ketinggian 2.050 mdpl, bersebelahan langsung dengan Gunung Tangkuban Parahu dan masih bagian dari hasil letusan Gunung Sunda Purba.
Jalur Pendakian
Ada tiga jalur yang bisa digunakan untuk pendakian Gunung Burangrang sampai ke puncak, Pertama, jalur pendakian via Legok Haji, Kampung Legok Haji, Desa Pasirlangu, Kedua, Jalur Komando, Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Ketiga, jalur pendakian via Desa Pesanggrahan, Kecamatan Bojong, kabupaten Purwakarta.
Legenda Masyarakat
Dalam legenda Sangkuriang, Gunung Burangrang dipercaya berasal dari tumpukan ranting kayu (dalam bahasa Sunda, rangrang berarti jarang) yang digunakan Sangkuriang untuk membuat perahu raksasa dalam upayanya meminang Dayang Sumbi. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang menendang perahu tersebut yang kemudian menjadi Gunung Tangkuban Perahu, sementara tumpukan rantingnya berubah menjadi Gunung Burangrang. Waktu tempuh rata-rata untuk mencapai puncaknya adalah sekitar 2 hingga 4 jam perjalanan. Medannya berupa tanah, akar pohon, dan beberapa tanjakan curam dengan pemandangan hutan pinus.
- Gunung Tambakruyung 1.994 MDPL
Gunung Tambakruyung memiliki ketinggian 1.994 mdpl, secara administratif, puncaknya tepat berada di garis perbatasan antara Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, dengan Desa Mekarwangi, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat. Asal usul nama “Tambakruyung” bukanlah sebutan asli masyarakat setempat. Secara turun-temurun, warga Kampung Waluri menyebut gunung ini dengan sebutan Gunung Guruyung atau Gunung Tambaga Guruyung. Nama ini berasal dari dua kata, yaitu "tambaga" yang berarti tembaga, dan "guruyung" yang berarti air yang berlimpah. Gunung ini memiliki dua puncak dengan medan yang didominasi oleh jalur setapak menanjak, melewati kebun kopi, hutan pinus, hingga vegetasi tropis yang cukup rapat.
Jalur Pendakian
Untuk mencapai puncak, pendaki biasanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Pendakian paling umum untuk mendaki puncaknya, bisa melalui Kampung Waluri, Desa Lebakmuncang, Ciwidey. Legenda yang berkaitan dengan gunung ini adalah adalah legenda tentang dua cabe besar yang konon berada di puncaknya.
Legenda Masyarakat
Menurut cerita yang beredar di masyarakat, kedua cabe tersebut berwarna hijau, dan dipercaya bahwa jika keduanya berubah menjadi merah, maka dunia akan mengalami kiamat. Hingga kini, kabarnya hanya satu cabe yang telah berubah warna . Terlepas dari mitos ini, masyarakat setempat memiliki beberapa pantangan (tabu) yang tidak dianjurkan selama pendakian, seperti berkata sompral (pongah/menantang), bersiul, dan bertepuk tangan.
Tujuh gunung tersebut memperlihatkan bahwa alam tidak pernah berdiri sendiri. Di balik ketinggian dan jalur yang menantang, ada legenda yang diwariskan kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya. Puncak mungkin menjadi tujuan bagi setiap pendaki, tetapi perjalananlah yang nantinya meninggalkan cerita. Sebab gunung tidak hanya meminta kita untuk menaklukkannya, melainkan mengajak kita untuk mengenal, menghargai, dan menjaga apa yang ada di dalamnya. (*)