Ayo Netizen

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Oleh: R.M.A. Ahmad Said Widodo
Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)

Aku tiba di Terminal Kebon Kalapa, Bandung dari kunjunganku ke Majalaya, Bandung. Waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB dini hari Minggu awal Januari 1986. Lelah, lapar dan kedinginan, ingin rasanya menikmati sepiring nasi panas, sepotong dada ayam goreng, sepotong tempe goreng, lalapan sayur segar, sambal dadak bledag dan teh panas di Rumah Makan Ampera Masakan Sunda, Kebon Kalapa.

Sehabis makan lahab dini hari itu aku ingin menikmati segelas kopi tubruk yang dijual seorang emang bakul pikul kopi tubruk yang khas. Selain kopi tubruk si emang juga menyediakan aneka makanan lain: combro, misro, deblo, makanan kukus/rebus sarupaning beubeutian singkong, ubi, talas, ganyong, garut dan kacang tanah, juga kacang kedelai, jagung, pisang kepok, pisang tanduk dan lain-lain) serta rokok tembakau kretek/kretek filter.

Aku nikmati seteguk demi seteguk dengan penuh rasa nikmat. Rasa dan aromanya yang khas, mungkin perpaduan antara kopi Arabika 50% dan kopi Robusta 100%. Jadi ada rasa masam, pahit dan manis berpadu menjadi satu. Aku nikmati juga sepotong combro dengan beberapa buah cabai rawit. Pedasnya terasa nikmat dan mantap.

Kopi itu terasa sangat akrab di lidahku, mungkin juga kopinya hasil menyangrai sendiri atau bisa jadi beli pada salah satu toko dan pabrik kopi, seperti: Kopi Aroma, Kopi Kapal Selam, Javaco Koffie, Kopi Malabar atau Tjia Lie Hong Kopi. Sejujurnya aku patut acungi jempol karena kenikmatan rasanya. Inilah aroma dan rasa khas kopi dari Priangan, khususnya wilayah Bandung Selatan. Memang sudah sejak zaman Preangerstelsel (1720-1871) dan Cultuurstelsel (1830-1870) kopi Priangan terkenal ke seantero dunia dengan sebutan Java Coffee mengalahkan Mocha Coffee dari Yaman (yang berasal dari Ethiopia).

Kini Terminal Kebon Kalapa (1964-1996) sudah tiada, berganti wajah, berganti fungsi dan bertransformasi menjadi pusat perbelanjaan yang dikenal sebagai ITC Kebon Kalapa. Lokasi tersebut kini menjadi pusat komersial yang memadukan area pertokoan dengan sebagian kecil fasilitas transit untuk angkutan umum kota sebagai Terminal Abdul Muis.

Sampai detik ini aku masih mencari bakul pikul kopi tubruk yang khas, seperti si emang tahun 1986 itu. Sayang sekali pencarianku belum juga menemukannya. Kebanyakan hanyalah Starling (Starbuck Keliling), yang bagiku kurang begitu otentik. Aku kangen minum kopi tubruk seperti si emang itu. Rasanya bagiku ‘legenda’ banget. (*)

Reporter R.M.A. Ahmad Said Widodo
Editor Aris Abdulsalam