Apakah penjajahan selalu berbentuk kekerasan seperti yang telah dilakukan oleh koloni Belanda atau Jepang di masa lampau?
Penjajahan di masa lampau salah satunya berkaitan dengan relasi kuasa yang tidak seimbang antara penguasa dengan masyarakat. Kondisi tersebut terjadi karena ada satu pihak yang memiliki kendali penuh, posisi atau sumber daya yang lebih unggul dibandingkan dengan kelas sosial lainnya.
Relasi yang tidak seimbang itu salah satunya berkaitan dengan kepemilikan senjata. Hal tersebut tentu akan menjadi tekanan bagi kaum yang lebih lemah agar takut dan tunduk dengan kesewenangan yang ada. Mungkin saat itu nyawa tidak banyak artinya bagi penguasa sehingga patuh menjadi satu-satunya pilihan yang bisa diambil oleh mereka yang memiliki kelas sosial paling rendah. Penguasaan ekonomi juga dikendalikan oleh mereka yang tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam seperti rempah dan hasil bumi tapi juga kepada para pekerja yang seringnya diupah jauh dari standar. Selanjutnya relasi yang tidak seimbang dari segi pengetahuan turut menjadikan proses grooming pemikiran kepada mereka yang tak pernah mendapat kesempatan untuk belajar seperti kaum elite.
Sementara di dunia modern relasi kuasa juga bisa masuk dalam ranah ekonomi, kebijakan, distribusi sumber daya dan ketergantungan masyarakat.
MBG sendiri merupakan proyek pemerintah yang memiliki skala besar tidak hanya cakupan tapi juga dana yang dialokasikan. Dilansir dari website fakultas hukum Universitas Indonesia pada awal tahun 2025 BGN menganggarkan dana sebesar 71 Triliun namun dalam implementasinya justru diluar prediksi karena menghabiskan dana sebesar 171 Triliun. Selanjutnya anggaran BGN di tahun 2026 berada pada kisaran 268 Triliun namun mirisnya anggaran yang dikeluarkan tiap hari untuk program tersebut bisa mencapai 855 Miliyar hingga 1,2 Triliyun perhari. Dan mungkin saja angka tersebut menjadi sejarah Indonesia bisa mengeluarkan dana sefantastis itu.
Pada mulanya program MBG dibuat untuk mengurangi angka stunting di Indonesia dengan sasaran anak sekolah tingkat TK-SMA, Balita, Ibu Hamil dan Menyusui. Namun bisa kita ketahui bersama bahwa beberapa masyarakat yang berprofesi sebagai profesional tenaga kesehatan mengatakan bahwa sasaran dari MBG tidak rasional karena stunting hanya bisa dicegah pada 1000 hari pertama kelahiran bayi. Itu artinya yang benar-benar membutuhkan program ini adalah calon orang tua yang akan menikah dan berpotensi memiliki keturunan. Sehingga calon bayi yang akan lahir kualitas gizi dan kesehatannya bisa terjamin.
Namun pada kenyataannya MBG justru menyasar kelompok masyarakat dengan berbagai lapisan ekonomi bahkan sempat terdengar isu bahwa kelompok mahasiswa juga sempat akan mendapatkan program ini. Saya rasa fakta ini semakin jauh dari tujuan dilahirkannya program ini. Menurut saya negara kita lebih membutuhkan pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Meski demikian bukan berarti makanan tidak penting bagi masyarakat. Hanya saja ketergantungan bantuan sosial melalui MBG ini akan menumbukan sikap malas karena ingin terus disuapi. Sementara ketika kualitas pendidikannya yang ditingkatkan maka saya rasa setiap orang akan lebih punya banyak pilihan dalam menentukan arah hidupnya. Istilahnya ketika diberikan ikan 2 kg maka satu hari saja mungkin bisa habis sementara jika diberikan kailnya maka manusia bisa berpikir untuk terus bertahan dan berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Apakah MBG jahat?
Mungkin pernyataan itu bisa kita refleksikan kepada diri sendiri. Karena ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan masyarakatnya?
Hal krusial yang paling ditakutkan dari program bantuan sosial yang besar bukan lagi siapa saja yang menerima manfaatnya melainkan ketergantungan yang dibangun dari kebiasaan yang kecil. Proyek sebesar ini juga perlu dilakukan evaluasi berkala dan pengawasan yang ketat untuk menghindari penyelewangan dana yang menariknya justru telah dilakukan oleh kepala BGN itu sendiri.
Melihat berbagai kontroversi yang terjadi dalam program ini bukan berarti MBG tidak ada sama sekali manfaatnya hanya saja seringkali fakta di lapangan yang menunjukkan kekurangan dari MBG selalu dikatakan sebagai buzzer atau antek-antek asing. Padahal jika kita renungi pada skala yang lebih yang mungkin tidak terpikirkan adalah limbah yang dihasilkan dari program MBG. Sebagai contoh tidak jauh di lingkungan saya beberapa anak tidak mau memakan MBG yang diberikan di sekolahnya. Meski tidak besar datanya tapi saya yakin di beberapa sekolah lain juga hal ini bisa saja terjadi.

Adapun beberapa fakta yang saya dapatkan dari ibu-ibu di lingkungan saya mengatakan bahwa ketika program MBG sempat dihentikan harga ayam dan telur menurun tajam sementara ketika program diadakan kembali, kedua harga bahan tersebut melonjak tajam. Melalui data ini saya rasa MBG pada satu sisi bisa memberikan sumber makanan untuk satu kalangan tapi dampak yang tidak terlihat justru ekonomi masyarakat menengah paling terdampak karena mereka yang menjadi tulang punggung perputaran ekonomi sebuah negara.
Jadi jika negara ini tetap mempertahankan MBG dengan tidak mengevaluasi sasaran secara akurat maka saya rasa program ini akan terus tumbuh menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan sosial. Sehingga munculah ketimpangan yang sangat jauh dari kemampuan pemerintah dengan kemampuan rakyatnya, dan ketika ketimpangan relasi semakin kuat ? bukankah itu termasuk penjajahan era modern? (*)