Ayo Netizen

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Oleh: Totok Siswantara
Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)

Kondisi tata ruang Bandung yang kian padat menimbulkan kerawanan bahaya kebakaran. Pada musim kemarau yang  diperparah oleh fenomena El Nino potensi kebakaran kian membesar. Kawasan perumahan padat bisa diamuk si jago merah dalam waktu sekejap.

Kawasan industri dan pasar sangat rentan terhadap kebakaran skala luas. Kondisi tempat pembuangan akhir sampah yang ada di sekitar Bandung Raya semakin membuat masyarakat cemas akan terjadinya kebakaran.

Kapasitas dinas kebakaran perlu ditingkatkan terkait dengan mitigasi kebakaran. Kota Bandung sangat membutuhkan teknologi drone untuk mengatasi kebakaran di kawasan padat penduduk dan gang sempit yang sulit dilalui mobil pemadam.

Demikian juga penggunaan Bambi Bucket (ember air udara) sangat relevan untuk mengatasi kebakaran di kawasan industri atau di TPAS.

Dinas pemadam kebakaran dan penyelamatan perlu mengoperasikan drone penyemprot (sprayer) yang membawa selang dan nosel.  Selain itu drone juga dipakai untuk menurunkan perlengkapan darurat ke titik lokasi.

Drone bisa bekerja efektif untuk memindai titik api dan lokasi korban secara langsung (real-time).

Karakteristik Bambi Bucket

Kota Bandung perlu karakteristik Bambi Bucket yang sesuai dengan kondisi kota.Wadah air fleksibel yang ditarik helikopter ini untuk operasi water bombing. Sangat efektif untuk kebakaran hutan, lahan, atau area terbuka yang luas seperti Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS).

Keniscayaan, mitigasi kebakaran di Bandung perlu melibatkan startup builder yang karya inovasinya relevan dengan mitigasi kebakaran dan bencana kekeringan yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan makhluk hidup, usaha pertanian, peternakan dan aktivitas lainnya.

Inovasi untuk mitigasi kebakaran membutuhkan banyak sensor pintar. Kebutuhan ini bisa ditangani oleh startup  yang ada di kota Bandung. Termasuk pembuatan drone dan sistem mekanisasi pengairan yang berbasis IoT. Contoh sensor pintar itu adalah buatan Libelium perusahaan asal Spanyol. Sensor tersebut bisa diatur untuk mendeteksi kelembaban, suhu, dan perubahan tingkat CO2 dalam rentang waktu yang singkat. Sistem akan mengirimkan sinyal jika ada perubahan yang signifikan.

Fungsi drone bisa untuk pencitraan yang sangat membantu memantau wilayah dengan peningkatan suhu panas yang tak lazim. Kelebihan drone adalah bisa segera terbang untuk mengumpulkan data. Kekurangannya adalah cakupan wilayahnya yang terbatas, karena drone biasanya mengikuti jalur penerbangan yang sudah diprogram sebelumnya. Selain itu, daya tahan baterainya terbatas.

Kepedulian warga Bandung untuk mengatasi kebakaran perlu ditumbuhkan. Perlu inovasi teknologi dari startup untuk mengatasi kebakaran.

Belum lama ini terjadi kebakaran hebat yang terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, mengingatkan kita dengan kasus yang serupa yakni terbakarnya TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2023. Kedua kasus kebakaran tersebut menyebabkan polusi udara yang luar biasa dan membuat kehidupan masyarakat menjadi sengsara.

Hingga hari kelima pemadaman, luas area yang terdampak api diperkirakan telah mencapai 15 hektar. Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi indikasi bahwa pengelolaan sampah semakin amburadul.

Sejak TPA Sarimukti terbakar hebat sampai dengan TPA Jatiwaringin membara saat ini, belum ada solusi yang tepat. Kompleksitas masalah TPA tidak bisa hanya dilakukan dengan kunjungan dan himbauan semata.

Mestinya sejak TPA Sarimukti terbakar, KLH langsung membuat kebijakan mitigasi yang efektif dan sungguh-sungguh. KLH jangan menjadi macan ompong terkait dengan penyimpangan dan pelanggaran yang terjadi di TPA manapun.Karena bahaya kebakaran dan longsor setiap saat terus mengintip.

Berdasarkan analisis video drone thermal yang diterbangkan di lokasi terdeteksi adanya ratusan titik panas yang tersebar di berbagai titik tumpukan sampah. Hal ini membuat penanganan menjadi lebih kompleks karena lokasi TPA yang berdekatan dengan pemukiman warga.

Kegagalan Respon Awal

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)

Perlu kecepatan dan kesigapan untuk mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kawasan industri, termasuk kebakaran gunungan sampah di TPA.

Keniscayaan pentingnya strategi penanggulangan kebakaran. Perlu rekayasa drone dan Bambi Bucket.  Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot prediction. Memanfaatkan satelit data (NASA) dan meteorological inputs (NOAA) untuk memprediksi zona titik kebakaran potensial dengan tingkat akurasi 98.6 persen.

Pengertian awam mengenai Bambi Bucket adalah ember lipat berukuran besar biasanya warna oranye yang digantung di bawah helikopter untuk memadamkan api. Penemunya adalah SEI Industries Canada, dan sudah menjadi standar dunia buat aerial firefighting.

Indonesia perlu mengembangkan teknologi Bambi Bucket agar mekanismenya lebih efektif untuk mengatasi kebakaran. Bambi juga bisa dipakai menggunakan drone, bukan cuma helikopter.

Pada prinsipnya mekanisme Bambi Bucket adalah perangkat ember fleksibel yang digantungkan di bawah helikopter menggunakan kabel (sling) untuk operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Diciptakan oleh SEI Industries pada awal 1980-an, alat ini dirancang agar dapat dilipat, ringan, dan mampu mengambil air secara instan dari berbagai sumber seperti danau, sungai, atau tangki.

Materialnya terbuat dari kain tahan api yang kuat dan anti-robek. Pelepasan air (Dumping) dilengkapi dengan katup di bagian bawah yang dibuka menggunakan kendali elektronik dari dalam kokpit. Sistem katup ini melepaskan beban air dalam satu hentakan presisi tinggi untuk memadamkan titik api dengan dampak layaknya kolom air raksasa.

Penggunaan Bambi Bucket sebagai alat bantu Helikopter juga sangat penting untuk penanggulangan kebakaran. Iter Aero Industri berhasil merekayasa ulang dan memproduksi Bambi Bucket. Yakni kontainer yang dapat menampung sampai 4000 liter air. Desain produk itu dilengkapi dengan sistem pengambilan dan pembuangan air yang dapat dikendalikan secara jarak jauh.

Rancang bangun Bambi Bucket produksi dalam negeri dipelopori oleh perusahaan Iter Aero yang dipimpin oleh dosen ITB. Karya teknologi itu telah pakai oleh Komala Air untuk digunakan pada misi pemadaman kebakaran hutan dan perkebunan.

PT Komala Air menggunakan sistem Bambi Bucket pada armada helikopter mereka untuk menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (fire water bombing) di Indonesia.

Mitigasi karhutla hingga kebakaran TPA memerlukan drone yang menggunakan optical cameras,infrared sensors, dan Synthetic Aperture Radar (SAR) untuk mendeteksi api dan asap bahkan pada kondisi visibilitas rendah (malam, kabut, atau asap tebal). Model deep learning seperti AMSO-SFS bisa memperbaiki deteksi dengan fitur analisis spasial dan frekuensi secara simultan. Drone mampu melakukan real time monitoring selama patroli secara autonomous. Memberikan continuous surveillance tanpa blind spots.

Penggunaan autonomous firefighting drone yang dilengkapi dengan fire retardant sprayers atau payload release systems, drone dapat dioperasikan segera untuk memadamkan api kecil sebelum menyebar menjadi kebakaran besar. 

Dibandingkan dengan pesawat terbang dan helikopter, drone dapat terbang lebih rendah dan lebih dekat ke zona api lalu menerapkan retardant langsung ke hotspots dengan lebih efisien dan efektif. Adapun payload yang bisa dibawa oleh drone adalah fire extinguisher ball, dry chemical agent, water capsule (untuk small fire).

Teknologi dapat mendeteksi perubahan kecil dan menunjukkan sumber kebakaran dengan sangat akurat. Perlu desain nasional drone dengan spesifikasi yang handal dan telah memiliki sertifikasi.  Sangat luasnya wilayah yang berpotensi terjadinya karhutla, kebakaran TPA sampah, dan kebakaran lain membutuhkan unit drone dalam jumlah yang cukup banyak.

Fungsi drone untuk pencitraan sangat membantu memantau wilayah dengan peningkatan suhu panas yang tak lazim.Kelebihan drone adalah bisa segera terbang untuk mengumpulkan data.Kekurangannya adalah cakupan wilayahnya terbatas dan masalah daya tahan baterai. (TS)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam