Ayo Netizen

Jika Pohon-Pohon di Kalimantan Bisa Bernyanyi dan Hewan di Dalamnya Bisa Bicara

Oleh: Dias Ashari
Orang utan di hutan Kalimantan. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Morgan)

Isu kebakaran di negeri kita memang tak pernah usai. Entah karena murni faktor alam yang tidak diprediksi dengan baik. Atau oknum yang berkepentingan yang sengaja membuat percikan api -- agar hutan terbakar untuk pembukaan lahan sawit.

Pembukaan sawit bukan hanya sekedar isu tapi memang fakta yang terjadi di lapangan. Dilansir graris.id bahwa hingga Agustus 2026, Kementrian Kehutanan telah mencatat lebih dari 107.000 hektar hutan dan lahan yang terbakar. Kalimantan memiliki porsi terbanyak dengan rincian sebagai berikut, Kalimantan Barat 28.780 hektare, Kalimantan Selatan 8.620 hektare, Kalimantan Tengah 4.729 hektare dan Kalimantan Timur 1260 hektare.

Masih dalam sumber yang sama banyak yang menyebutkan bahwa narasi faktor alamlah yang menjadi penyebab utama kebakaran yaitu EL NINO. Namun berdasarkan analisis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menunjukkan fakta yang berkebalikan bahwa sebesar 74% titik panas di Kalimantan berada di dalam konsesi perusahaan. Artinya, persoalan kebakaran ini bukan soal siapa yang membakar, melainkan bagaimana sistem agraria indonesia dapat mengatur relasi antara manusia, lahan dan api.

Manusia memang tidak pernah puas hingga raganya bersatu dengan tanah. Manusia dengan akal dan pikirannya yang diciptakan sempurna oleh semesta sudah seharusnya bisa membuat alam ini jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya. Namun kenyataanya tidak selalu begitu. Manusia selalu merasa bahwa bumi hanyalah miliknya seorang.

Mereka lupa bahwa siklus hidupnya berlangsung tidak lain dari bantuan mahluk hidup yang lainnya. Manusia bisa bernafas gratis dan bebas karena ada pohon yang menyumbangkan oksigennya. Lalu pohon-pohon juga menyerap karbon dioksida yang dikeluarkan oleh manusia saat menghembuskan nafas. Namun apa yang ditawarkan manusia kepada pohon ketika sudah memberikan manfaat bagi kehidupannya? Tidak ada, manusia justru menebangnya secara ilegal untuk keperluan industri, manusia membakar pohon-pohon untuk membuka lahan yang katanya proyek prestisius tapi masyaratnya sekitarnya tetap tidak sejahtera.

Jika pohon-pohon yang berdiri gagah di hutan kalimantan bisa bernyanyi mungkin lirik lagu yang berjudul "Sedia aku sebelum hujan" dari idgitaf bisa cukup mewakilinya.

"Ku yang lama disini, menjagamu tak patah hati"

Sebuah kesetiaan alam kepada manusia yang bernaung di dalamnya. Pohon-pohon besar yang hari tumbuh tentu mereka sudah hidup puluhan hingga ratusan tahun dan sejak benihnya tumbuh mereka sudah melindungi manusia tanpa diminta. Alam seperti pohon, hutan atau bumi, sudah sejak lama melindungi manusia dari udara yang kotor dan bahaya bencana alam yang mengancam kelestarian hidupnya. Mereka bersinergi memberikan tempat yang teduh dan perlindungan tanpa merasa lelah atau sakit meskipun manusia sering menyakitinya dengan merusak habitatnya. Lirik ini juga bermakna kalau kita harus menjaga apa yang melindungi kita sebelum semuanya terlambat.

"Sedia payung sebelum hujan, apa yang kau butuhkan, kuberikan"

Manusia harus memiliki kesadaran bahwa sebelum alam ini benar-benar marah dan mendatangkan marabahaya maka manusia harus menjaganya sebaik mungkin. Ketika alam sudah memberikan segala hal yang dibutuhkan manusia maka manusia juga harus memiliki kesadaran untuk memulihkannya.

Sementara jika hewan-hewan bisa bicara kepada manusia mungkin satu hal pertama yang bisa disampaikan adalah "Rumah kami adalah rumahmu juga". Ketika manusia merusak hutan dan mencemari sungai atau lautan maka sejatinya manusia juga sedang menghancurkan kehidupannya sendiri. Mungkin dampaknya tidak langsung terasa tapi perlahan manusia sedang menggadaikan masa depannya untuk kehancuran.

Mereka juga mungkin akan berkata "Kepunahan kami adalah awal bencana kalian", jika hewan terus dieksploitasi dan diganggu habitatnya maka keseimbangan alam akan hancur. Manusia akan kehilangan sumber makanan dari laut dan tumbuhan dari tanah yang tercemar. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam