Ayo Netizen

Festival Film Bandung: Konsisten Merawat Apresiasi Perfilman Indonesia

Oleh: Kin Sanubary
Para penerima Penghargaan Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2026 berfoto bersama usai acara penganugerahan. (Foto: Agus Wahyudi)

Sabtu, 22 Agustus 2026, menjadi salah satu catatan tersendiri bagi penulis ketika mendapat undangan untuk menghadiri perhelatan akbar Festival Film Bandung (FFB) 2026 yang diselenggarakan di Hotel Horison Ultima, Kota Bandung. Di tengah gemerlap panggung penghargaan dan hadirnya para insan perfilman, malam itu bukan sekadar menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada para sineas, tetapi juga menjadi ruang untuk menengok kembali perjalanan panjang sebuah tradisi yang telah tumbuh dan bertahan selama 39 tahun.

Festival Film Bandung bukan sekadar seremoni tahunan. Selama hampir empat dekade, FFB telah menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia, menjadi ruang apresiasi bagi para sineas, sekaligus saksi atas perubahan karya, teknologi, industri, serta selera penonton dari masa ke masa.

Dari Bandung, tradisi apresiasi itu terus dirawat.

Dari Pengamatan Film hingga Tradisi Penghargaan

FFB lahir dari kepedulian sejumlah seniman, budayawan, pengamat, dan pencinta film di Bandung. Pada awal kehadirannya, para penggagas FFB tidak sekadar berbicara tentang film, tetapi terjun langsung mengamati dan menonton film-film yang diputar di berbagai bioskop di Bandung.

Dari pengamatan tersebut kemudian lahir gagasan untuk memberikan penghargaan kepada film dan insan perfilman yang dinilai memiliki kualitas, pencapaian artistik, maupun keistimewaan tertentu.

Tradisi penghargaan itu pada mulanya berlangsung sederhana. Pengumuman penerima penghargaan pernah dilaksanakan di berbagai tempat, mulai dari rumah makan, bioskop, hingga hotel. Dalam perjalanan berikutnya, ajang penghargaan FFB bahkan pernah disiarkan secara langsung melalui stasiun televisi.

Dari tradisi yang sederhana tersebut, FFB perlahan tumbuh menjadi salah satu forum apresiasi film yang memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan perfilman nasional.

Memasuki 2004, FFB kembali menyelenggarakan kegiatan festival dengan format yang semakin berkembang. Kegiatan festival bahkan sempat dibawa ke sejumlah daerah di luar Bandung. Momentum tersebut menjadi bagian dari perjalanan kebangkitan kembali perfilman Indonesia setelah melewati masa yang penuh tantangan.

Menyaksikan Perubahan Dunia Sinema

Perfilman Indonesia terus bergerak dan mengalami perubahan. Produksi film nasional semakin meningkat, jumlah penonton tumbuh, sementara karya-karya sineas Indonesia semakin berani menghadirkan cerita, gagasan, dan pendekatan artistik yang beragam.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital ikut mengubah wajah industri film. Cara masyarakat memproduksi, mendistribusikan, menonton, hingga membicarakan film tidak lagi sama seperti beberapa dekade sebelumnya.

Kemunculan berbagai platform digital dan media sosial juga membuat apresiasi terhadap film menjadi semakin terbuka. Sebuah karya tidak hanya diperbincangkan di ruang bioskop atau media massa, tetapi juga dapat menjadi percakapan luas di ruang digital.

Di tengah perubahan tersebut, FFB terus berupaya melakukan regenerasi.

Forum Film Bandung tidak hanya menjadi ruang pemberian penghargaan bagi para sineas, tetapi juga menjadi tempat bertemunya berbagai unsur perfilman dan kebudayaan. Di sanalah pengalaman generasi terdahulu bertemu dengan energi generasi baru.

Keberadaan FFB menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi apresiasi terhadap karya-karya film Indonesia, sekaligus mencatat perjalanan dan dinamika dunia sinema dari perspektif Bandung.

39 Tahun Merawat Apresiasi

Kini, setelah 39 tahun perjalanan, FFB menunjukkan konsistensi sebuah forum yang tumbuh dari Bandung dan turut memberikan warna bagi perkembangan perfilman Indonesia.

FFB ke depan diharapkan tetap menjadi rumah bagi para insan film, seniman, budayawan, pengamat, maupun masyarakat pencinta film. Keberagaman tema, kekayaan cerita, serta unsur budaya Nusantara diharapkan terus mendapatkan ruang dalam karya-karya perfilman Indonesia.

Di tengah perkembangan zaman dan perubahan media yang begitu cepat, keberadaan FFB tetap memiliki arti penting.

FFB bukan semata-mata tentang siapa yang menerima penghargaan. Lebih dari itu, FFB berbicara tentang bagaimana sebuah karya dihargai, bagaimana perjalanan perfilman dicatat, dan bagaimana kecintaan terhadap film Indonesia terus dirawat dari generasi ke generasi.

39 tahun FFB bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah perjalanan panjang dalam merawat kecintaan, apresiasi, dan ingatan terhadap film Indonesia.

Daftar Peraih Penghargaan Festival Film Bandung 2026

Aming, peraih penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji Film Indonesia melalui film Ghost in the Cell, berfoto bersama penulis dan Rosyid E. Abby, Panitia Pelaksana FFB 2026. (Foto: Agus Wahyudi)

Film Indonesia

1. Film Indonesia Terpuji

- Pangku

2. Sutradara Terpuji Film Indonesia

- Reza Rahadian — Pangku

3. Pemeran Utama Wanita Terpuji Film Indonesia

- Claressa Taufan — Pangku

4. Pemeran Utama Pria Terpuji Film Indonesia

- Jared Ali — Children of Heaven

- Reza Rahadian — Semua Akan Baik-Baik Saja

5. Pemeran Pembantu Pria Terpuji Film Indonesia

- Aming — Ghost in the Cell

6. Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Film Indonesia

- Meriam Bellina — Senin Harga Naik

7. Penulis Skenario Terpuji Film Indonesia

- Johanna Wattimena & Bernadus Raka — Nobody Loves Kay

8. Penata Artistik Terpuji Film Indonesia

- Rini Sri Handayani — Na Willa

9. Penata Kamera Terpuji Film Indonesia

- Vera Lestafa — Dopamin

10. Penata Editing Terpuji Film Indonesia

- Aline Jusria — Dopamin

11. Penata Musik Terpuji Film Indonesia

- Ofel Obaja Setiawan — Na Willa

Serial Televisi

1. Pemeran Pria Terpuji Serial Televisi

- Fendy Chow — Terikat Janji

2. Pemeran Wanita Terpuji Serial Televisi

- Adhisty Zara — Beri Cinta Waktu

Serial Web

1. Serial Web Terpuji

- Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral

2. Sutradara Terpuji Serial Web

- Lucky Kuswandi — Ratu Ratu Queens: The Series

3. Pemeran Utama Pria Terpuji Serial Web

- Yesaya Abraham — Secret High School

4. Pemeran Utama Wanita Terpuji Serial Web

- Wulan Guritno — Mama-Mama Pengejar Cinta

5. Pemeran Pembantu Pria Terpuji Serial Web

- Randy Martin — Generasi D'Bijis

6. Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Serial Web

- Alexandra Gottardo — Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Lifetime Achievent

- Christine Hakim

Film Impor Terpuji

1. Backrooms — Film Horor Psikologis Terpuji

2. Hamnet — Film Drama Sejarah Romansa Terpuji

3. Hukum — Film Horor Misteri Terpuji

4. Hoppers — Film Animasi Terpuji

5. It Was Just an Accident — Film Thriller Terpuji

6. Kokuho — Film Epik Budaya Terpuji

7. Marty Supreme — Film Drama Olahraga Terpuji

8. Obsession — Film Horor Romansa Terpuji

9. One Battle After Another — Film Aksi Thriller Terpuji

10. Project Hail Mary — Film Fiksi Ilmiah Terpuji

11. The Furious — Film Laga Terpuji

12. The Sheep Detectives — Film Komedi Detektif Terpuji

Lifetime  Achievement FFB 2026

Christine Hakim, Lima Dekade Mengabdikan Diri untuk Film Indonesia

Christine Hakim menerima penghargaan Lifetime Achievement Festival Film Bandung (FFB) 2026 atas dedikasi dan kiprahnya yang panjang dalam perfilman nasional. (Foto: Agus Wahyudi)

Nama Christine Hakim sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang perfilman Indonesia. Lebih dari sekadar aktris, Christine Hakim merupakan salah satu figur penting yang ikut menjaga marwah dan keberlangsungan sinema Indonesia selama lebih dari lima dekade.

Lahir di Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956, Herlina Natalia Christine Hakim mengawali perjalanan di dunia film pada 1973 melalui Cinta Pertama karya Teguh Karya. Debut tersebut langsung mengantarkannya meraih Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita dengan Pujian pada Festival Film Indonesia 1974.

Sejak saat itu, Christine terus menunjukkan konsistensinya melalui berbagai karakter dalam film-film penting Indonesia. Sejumlah karyanya antara lain Sesuatu yang Indah, Pengemis dan Tukang Becak, Di Balik Kelambu, Kerikil-Kerikil Tajam, hingga Tjoet Nja' Dhien yang kemudian semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu aktris penting dalam sejarah perfilman Indonesia.

Perannya sebagai Cut Nyak Dhien dalam Tjoet Nja' Dhien menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya. Film tersebut meraih Piala Citra Film Terbaik pada FFI 1988, sementara Christine Hakim memperoleh Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik.

Namun, kiprah Christine tidak berhenti pada dunia seni peran. Ia juga terlibat sebagai produser dalam sejumlah film, termasuk Daun di Atas Bantal, Pasir Berbisik, dan Serambi.

Daun di Atas Bantal kemudian tampil di Festival Film Cannes pada 1998, menjadi salah satu momen penting yang membawa karya sinema Indonesia ke panggung internasional.

Kiprahnya di dunia internasional semakin terlihat ketika Christine Hakim dipercaya menjadi anggota dewan juri Festival Film Cannes ke-55 pada 2002. Kehadirannya di salah satu festival film paling bergengsi di dunia tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam membawa nama perfilman Indonesia ke ruang internasional.

Pengabdian Christine Hakim terhadap perfilman Indonesia juga telah mendapatkan berbagai pengakuan. Selain sederet Piala Citra, ia menerima berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri, termasuk Satyalancana Wira Karya dan Bintang Budaya Parama Dharma, serta berbagai penghargaan di bidang kebudayaan dan perfilman.

Menariknya, perjalanan Christine Hakim hingga kini belum berhenti. Namanya masih hadir dalam film-film Indonesia generasi baru. Filmografinya mencatat keterlibatannya dalam sejumlah karya mutakhir, termasuk Bila Esok Ibu Tiada, Siksa Kubur, Pangku, Sukma, dan Semua Akan Baik-Baik Saja.

Bagi Festival Film Bandung 2026, penghargaan Lifetime Achievement kepada Christine Hakim menjadi bentuk penghormatan atas perjalanan panjang seorang seniman yang tidak hanya membangun karier melalui seni peran, tetapi juga ikut merawat ekosistem, sejarah, dan martabat perfilman Indonesia.

Lima dekade berkarya menjadikan Christine Hakim bukan sekadar saksi perjalanan sinema Indonesia.

Ia adalah bagian dari perjalanan itu sendiri.

Sebuah nama yang melewati berbagai zaman, perubahan industri, pergantian generasi, hingga memasuki era digital.

Christine Hakim dan perfilman Indonesia adalah dua perjalanan yang telah lama berjalan beriringan. Lifetime Achievement FFB 2026 menjadi penghormatan atas dedikasi panjang tersebut.

FFB Menggunakan  Istilah “Terpuji”, Bukan “Terbaik”

Ada satu hal menarik yang menjadi ciri khas Festival Film Bandung. Dalam setiap penghargaan, FFB menggunakan istilah “Terpuji”, bukan “Terbaik”.

Penggunaan istilah tersebut bukan sekadar upaya untuk tampil berbeda dari festival film lainnya. Di balik kata “terpuji” terdapat filosofi yang telah menjadi bagian dari tradisi penilaian FFB sejak awal.

Regu Pengamat FFB menyepakati penggunaan kata “terpuji”, yang bermakna mendapat pujian atau patut dipuji. Istilah tersebut tidak semata-mata dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu yang berada pada posisi “paling” atau “nomor satu”.

Ada sikap penting yang hendak ditegaskan melalui pilihan kata tersebut: FFB tidak ingin membuat klaim bahwa sebuah karya merupakan satu-satunya yang terbaik dibandingkan karya lainnya.

Sebaliknya, predikat “terpuji” menjadi ajakan kepada masyarakat untuk memberikan perhatian lebih terhadap karya-karya yang dinilai memiliki kualitas, gagasan, pencapaian artistik, maupun keistimewaan tertentu.

Penghargaan diharapkan dapat mendorong tumbuhnya apresiasi dan wawasan penonton terhadap film Indonesia, sekaligus membuka ruang untuk membandingkannya dengan karya lain, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Karena itu, penerima predikat terpuji dalam satu kategori dapat lebih dari satu. Yang dihargai bukan semata-mata posisi sebagai “yang pertama”, melainkan sesuatu yang membuat sebuah karya layak mendapatkan pujian, perhatian, dan diperbincangkan.

Pada akhirnya, filosofi “terpuji” memperlihatkan karakter FFB sebagai forum apresiasi.

Bukan sekadar mencari siapa yang paling unggul, tetapi memberi penghormatan kepada karya dan insan film yang layak diapresiasi.

Dan mungkin di situlah kekuatan Festival Film Bandung selama 39 tahun: bukan hanya membagikan penghargaan, tetapi ikut menjaga budaya menonton, mengapresiasi, mendiskusikan, dan mencintai film Indonesia.

Dari Bandung, apresiasi itu terus dirawat.

Dari satu generasi ke generasi berikutnya.

39 tahun FFB adalah 39 tahun perjalanan merawat film, merawat apresiasi, dan merawat ingatan tentang sinema Indonesia. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam