Sore itu di tengah hingar-bingar pasar baru. Ada beberapa toko yang bersiap-siap tutup karena jam operasionalnya sudah selesai. Ada beberapa ibu-ibu yang membawa beberapa kantong kresek di tangannya. Ada penjual yang merayu pembeli yang masih lewat di depan jongkonya untuk menghabiskan sisa dagangannya yang tinggal beberapa lagi. Dan di sudut gang pasar ini masih terdengar suara mengaji anak kecil dan beberapa orang dewasa yang sejenak merebahkan diri dan isi pikirannya sambil menunaikan shalat ashar.
Terdengar suara derap langkah anak-anak menuju pelataran mesjid. Suaranya nyaring saat memanggil dan meneriaki kawannya untuk bergegas mengaji. Beberapa diantaranya ada yang menunaikan shalat ashar. Ada yang mondar-mandir ke lantai 2 karena sudah terdengar suara ustad yang meminta murid-muridnya untuk melafalkan surat-surat pendek. Ada juga anak usia 3 tahun yang menangis karena meminta jajan, sementara kakanya menolak karena akan mengaji.
Mereka adalah anak-anak yang tumbuh di zaman yang berbeda. Sejak balita sudah terbiasa melihat penggunaan gawai. Mereka familiar dengan permainan digital, pemutaran video pendek dan berbagai macam jenis hiburan yang bisa dicari dengan sentuhan jari saja.
Namun menariknya di tengah aktivitas sekolah dan hiburan melalui media sosial--mereka masih memiliki ketertarikan untuk datang ke masjid -- tidak hanya untuk mengaji tapi juga melakukan interaksi sosial dengan anak-anak sebayanya.
Disini budaya Mengaji anak-anak menjadi menarik untuk dilihat. Tidak sekedar sebagai aktivitas keagamaan melainkan kehidupan sosial masyarakat di tengah perkotaan. Masjid menjadi ruang untuk mempertemukan anak-anak dari lingkungan sekitarnya. Mereka tak hanya belajar membaca Al-Qur'an tapi juga belajar duduk bersama. Mendengarkan ustad, menunggu giliran dan berinteraksi dengan teman sebayanya.
Tradisi sederhana tersebut menunjukkan bahwa modernitas tidak selamanya bisa menghapus kebiasaan lama. Kehidupan kota memang berubah secara dinamis dan masif tapi beberapa tradisi lama masih menemukan tempatnya. Bahkan di tengah padat dan sibuknya kota, mungkin aktifitas ini dianggap menjadi bagian yang penting.
Mengaji memberikan ruang aktivitas kepada anak-anak yang tidak selalu berkaitan dengan layar. Mereka pergi ke tempat yang sama, bertemu dengan orang-orang yang sama dan menjalani aktivitas secara bersama-sama. Menciptakan kegiatan yang tidak sepenuhnya bisa digantikan teknologi.
Namun berlangsungnya kegiatan mengaji diperkotaan tidak berjalan dengan sendirinya. Ada orang tua yang masih sadar akan pentingnya aktivitas mengaji. Ada teman-teman yang saling mengingatkan. Ada guru-guru yang senantiasa meluangkan waktunya. Juga pengurus masjid yang menyediakan ruang untuk kegiatan tersebut berjalan dengan nyaman. Ada pula masyarakat yang tetap menjaga aktifitas tersebut tetap berjalan.

Di tengah kota yang dinamis, mereka menjadi bagian kecil dari ekosistem yang masih mempertahankan tradisi.
Persoalan selanjutnya bukan sekedar anak-anak mau mengaji atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting bagaimana memastikan tradisi ini tetap hidup di tengah pilihan aktivitas yang beragam. Sebab suatu hari nanti pemandangan anak-anak pergi menuju mesjid menjadi suatu yang tidak biasa lagi. Menjadi aktivis yang mencolok di tengah modernitas perkotaan.
Dan ketika itu benar-benar terjadi maka yang bilang bukan sekedar aktivitas mengaji, melainkan ruang sosial bertemunya anak-anak dengan teman, guru, belajar lingkungan serta aktivitas keagamaan. (*)