Ayo Netizen

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk. Meski telah mencapai puncak kekuasaan sebagai pemimpin negara, sosok yang menyebut dirinya sebagai “anak desa” ini tetap menyukai hidangan tradisional yang bersahaja. Cita rasa masakan kampung menjadi bagian dari kesehariannya sekaligus pengikat kenangan dengan tanah kelahiran.

Di balik kebiasaan tersebut, Siti Hartinah atau Ibu Tien memiliki peran penting. Sejak suaminya menjabat sebagai Panglima Kostrad hingga menjadi presiden, ia terbiasa menyiapkan sendiri atau mengawasi langsung penyajian menu kegemaran sang suami. Hidangan desa yang tersaji di meja makan tidak hanya mencerminkan perhatian seorang istri, tetapi juga membantu menjaga kedekatan Pak Harto dengan latar kehidupan yang membentuk dirinya.

Kesetiaan pada menu sederhana itu dapat dimaknai sebagai cerminan sikap hidup yang tetap membumi. Di tengah kemegahan istana, masakan sehari-hari yang akrab dengan kehidupan masyarakat menjadi pengingat akan asal-usulnya. Dalam pemaknaan ini, kesederhanaan di meja makan membawa pesan bahwa jabatan merupakan amanah dan tidak semestinya menjauhkan seseorang dari akar kehidupannya.

Meja makan di kediaman Cendana pun menjadi ruang tempat kebiasaan keluarga dan nilai-nilai kejawen hadir melalui kesederhanaan hidangan. Cita rasa yang akrab itu menghubungkan Pak Harto dengan masa kecil serta pengalaman sulit selama perjuangan kemerdekaan. Setiap suapan nasi, dalam gambaran tersebut, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan, melainkan juga ungkapan syukur atas kehidupan setelah berakhirnya masa penjajahan.

Akar Kebersahajaan: Filosofi Tempe, Tahu, dan Memori Desa Kemusuk

Bagi Pak Harto, tempe dan tahu bukan sekadar lauk pengisi perut. Kedua sumber protein nabati ini juga dapat dimaknai sebagai simbol keprihatinan, yakni nilai dalam budaya Jawa yang menekankan kesederhanaan dan pengendalian diri. Kedekatannya dengan hidangan tersebut berakar pada kehidupan masa kecil di Desa Kemusuk, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Pengalaman hidup yang serba terbatas turut membentuk seleranya yang tetap bersahaja hingga akhir hayat.

Salah satu olahan kegemarannya adalah tempe dan tahu goreng garit. Permukaannya dikerat agar bumbu lebih mudah meresap, kemudian digoreng hingga garing. Dengan bahan dan bumbu yang sederhana, hidangan ini menghadirkan cita rasa yang akrab dengan keseharian masyarakat desa. Secara metaforis, guratan garit dapat dibaca sebagai jejak pengalaman dan perjuangan hidup, meskipun pemaknaan tersebut merupakan tafsir atas hidangan itu.

Selain digoreng garit, tahu dan tempe juga disajikan sebagai bacem. Keduanya direbus bersama air kelapa, gula merah, dan bumbu hingga meresap, lalu digoreng sebentar sebelum dihidangkan. Sebagai bagian dari menu harian yang disiapkan Ibu Tien, bacem menghadirkan kehangatan masakan rumah. Ketelitian dalam pengolahannya sekaligus mencerminkan perhatian kepada keluarga dan upaya merawat tradisi melalui makanan.

Keripik tempe yang tipis, renyah, dan gurih turut melengkapi hidangan utama Pak Harto. Teksturnya memberi variasi pada sajian sekaligus memperlihatkan bahwa kenikmatan tidak selalu bergantung pada bahan yang mahal. Dari goreng garit hingga bacem dan keripik, olahan kedelai ini menjadi benang merah yang menghubungkan selera makan Pak Harto dengan kesederhanaan, kehangatan keluarga, dan kenangan akan kehidupan desa.

Simbolisme dalam Sajian: Makna Telur dan Sayur Asam

Masakan Jawa yang disantap Pak Harto dapat ditelusuri bukan hanya dari cita rasanya, tetapi juga dari nuansa filosofi kejawen yang menyertainya. Dalam pemaknaan ini, makanan menjadi sarana untuk merenungkan perjalanan hidup serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan sesamanya.

Telur, misalnya, dimaknai sebagai lambang awal kehidupan makhluk Tuhan. Pada hidangan telur pindang, rebusan daun jambu biji dan kulit bawang merah menghasilkan warna kecokelatan yang khas, yang dapat ditafsirkan sebagai simbol kematangan jiwa. Sementara itu, telur dadar ala Kemusuk memadukan telur dengan bumbu yang ditumbuk kasar. Perpaduan tersebut dapat dibaca sebagai gambaran persatuan dan kerukunan, ketika unsur-unsur yang berbeda menyatu sebagaimana keberagaman etnis dan budaya hidup berdampingan dalam harmoni.

Makna serupa juga dapat ditemukan dalam sayur asam. Perpaduan rasanya mencerminkan kehidupan yang diwarnai suka dan duka, kelapangan dan kesempitan. Dalam kerangka filosofi tersebut, hidangan ini menjadi pengingat untuk senantiasa bersyukur, bertawakal, dan mengingat Tuhan di tengah perubahan keadaan.

Pembacaan filosofis atas hidangan-hidangan ini membuka ruang untuk melihat sisi keseharian Pak Harto di luar atribut politiknya. Melalui makanan, kedekatannya dengan tradisi dan kearifan lokal dapat dipahami sebagai bagian dari ikatan dengan tanah kelahirannya. Dari sini, penelusuran berlanjut pada hidangan nasi yang menyimpan kisah perjalanan beliau di medan juang.

Napak Tilas Kuliner: Nostalgia Masa Perjuangan dan Wisata Lidah

Bagi Pak Harto, makanan menjadi salah satu cara mengenang masa lalu. Beliau gemar mencari kembali hidangan yang pernah disantap saat bergerilya di pelosok Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Menikmati sajian-sajian tersebut seolah membawanya kembali pada suasana dan pengalaman masa perjuangan.

Salah satu hidangan yang lekat dengan kenangan itu adalah nasi liwet Solo ala Ibu Tien. Nasi gurih yang dimasak dengan santan encer ini disajikan bersama suwiran opor ayam, sambal bajak, potongan telur pindang, sedikit areh, serta sayur labu siam berikut kuahnya. Kelengkapan lauk dan perpaduan rasanya menghadirkan kehangatan masakan rumah.

Kenangan lain hadir melalui gudangan, yakni sajian sayur-sayuran dengan urap kelapa yang mengingatkan beliau pada “zaman susah” selama penjajahan Belanda dan Jepang. Hidangan ini dilengkapi tempe atau tahu garit, ikan asin, telur godog, serta kerupuk gurih aneka warna. Keseluruhan sajian tersebut menjadi bagian dari ingatan tentang kehidupan yang sederhana pada masa itu.

Di samping hidangan sehari-hari, lontong Cap Go Meh dan nasi kuning turut melengkapi ragam sajian yang beliau nikmati. Keduanya lekat dengan suasana perayaan dan tradisi. Kehadirannya dapat dimaknai sebagai cerminan perjumpaan budaya sekaligus ungkapan syukur atas keberkahan hidup.

Kegemaran Pak Harto pada masakan tradisional juga mencakup ayam goreng Kalasan dan ayam panggang Klaten. Kedua hidangan dari kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah ini tetap beliau cari karena pengolahan tradisional dan cita rasa bumbunya yang meresap. Meski telah melanglang buana, seleranya tetap dekat dengan cita rasa rumah. Kedekatan inilah yang menjadi benang merah untuk menelusuri ragam lauk-pauk kegemarannya, termasuk sajian dengan pengolahan lebih rumit yang tetap berakar pada tradisi.

Ragam Lauk Pauk dan Sayuran: Dari Gulai hingga Olahan Ikan

Kekayaan rempah dalam hidangan favorit Pak Harto memperlihatkan kedekatan seleranya dengan hasil bumi Nusantara. Meski sebagian sajian memiliki cita rasa bumbu yang kuat, pengolahannya tetap mengikuti tradisi masakan Jawa yang menjaga kesegaran bahan serta keseimbangan rasa manis dan gurih.

Di antara olahan daging dan unggas, beliau menyukai dendeng manis, empal gepuk, gulai bebek, serta tongseng kambing muda. Sajian-sajian ini menawarkan perpaduan rasa dan aroma rempah, dengan bumbu yang meresap hingga ke serat daging. Sentuhan manis dan gurih menjadi pengikat cita rasa yang akrab dengan selera beliau.

Selain daging dan unggas, ikan juga mendapat tempat dalam menu kegemarannya, mulai dari pepes ikan mas dan ikan mujair goreng hingga gulai ikan. Kesukaannya pada ikan air tawar dapat dikaitkan dengan lingkungan masa kecilnya di kawasan Kemusuk dan Godean, daerah pedalaman yang jauh dari laut tetapi dekat dengan sumber perairan darat.

Ragam lauk tersebut dilengkapi sayuran tradisional, seperti sayur lodeh, sayur bobor, dan buntil daun singkong. Penggunaan santan encer memberi sentuhan gurih tanpa menutupi rasa alami sayuran. Pada sayur lodeh, kluwih turut memperkaya isi hidangan sekaligus menghadirkan makna simbolis. Dalam pemaknaan budaya Jawa, namanya kerap dihubungkan dengan kata luwih, yang berarti lebih, sebagai harapan akan kecukupan dan keberkahan bagi keluarga maupun masyarakat.

Sambal pun menjadi pelengkap yang tidak terpisahkan dari rangkaian hidangan tersebut. Sambal terasi dan sambal bajak memberi sentuhan pedas yang membangkitkan selera, sementara sambal goreng labu siam menambah variasi sajian di meja makan. Setelah menikmati hidangan utama yang kaya rempah, beliau biasanya menutup waktu makan dengan kudapan manis bertekstur lembut.

Kudapan dan Pencuci Mulut: Tradisi dalam Kelembutan

Sebagai penutup hidangan, Pak Harto menggemari jajanan pasar yang sederhana dengan cita rasa khas tradisional. Kehadiran kudapan ini turut melengkapi suasana kekeluargaan yang hangat di Cendana, terutama saat dinikmati bersama dalam waktu santai.

Di antara kegemarannya adalah kue lupis dan klepon, dua jajanan berbahan dasar ketan yang memadukan manisnya gula merah dengan gurihnya parutan kelapa segar. Pada lupis, gula merah cair disiramkan di atas sajian, sedangkan pada klepon, manisnya hadir sebagai isian yang lumer saat disantap. Bubur sumsum dan serabi juga menjadi pilihan, menghadirkan tekstur lembut dan rasa yang akrab sebagai penutup makan.

Ragam kudapan tersebut dilengkapi minuman tradisional. Untuk menghangatkan tubuh, beliau menyukai wedang jahe dan sekoteng. Sementara itu, es cendol atau es cincau dengan sirup gula merah menjadi pilihan untuk menyegarkan suasana. Dari jajanan hingga minuman, selera beliau tetap dekat dengan sajian sederhana yang lekat dengan keseharian masyarakat.

Secara keseluruhan, kegemaran kuliner Pak Harto menunjukkan bahwa makanan adalah manifestasi dari identitas diri, penghormatan pada tradisi Jawa, dan pengingat abadi akan sejarah perjuangan bangsa. Setiap hidangan yang tersaji di meja makan beliau, dari yang paling sederhana hingga yang kaya rempah, adalah untaian doa dan syukur atas perjalanan hidup yang panjang.

Kita dapat memaknai "kebersahajaan" ini sebagai sebuah catatan sejarah kuliner kepresidenan yang penting. Menu-menu tradisional ini sejatinya adalah "kompas moral" yang menjaga sang pemimpin tetap membumi, mengingatkan kita bahwa setinggi apa pun posisi yang diraih, akar tradisi dan nilai-nilai kesederhanaan adalah pondasi yang menjaga harkat dan martabat seorang manusia. (*)

Referensi:

  • Tim Dapur Anggrek. 2008. Lauk-Pauk Komplit Kegemaran Pak Harto. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.
  • Tim Dapur Anggrek. 2008. Sayur & Kudapan Lezat Kegemaran Pak Harto. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.
Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam