Ayo Netizen

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Oleh: Muh Husen Arifin
Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Celetukan masyarakat sering berakhir kepada negeri ini memiliki sumber daya mausia yang pintar dan berhasil menciptakan inovasi dan kreativitasnya tinggi. Namun belum ada optimalisasi yang memberikan solusi efektif.

Upaya menyebutkan bahwa urgensi kepada sekolah menengah khusus berkaitan mitigasi bencana sudah sangat mendesak. Sementara gagasan ini masih belum ada.

Padahal membentuk sekolah mitigasi bencana (SMB) ini bukanlah hal yang sederhana memang, tetapi SMB ini mendahului untuk mengantisipasi terkait bencana yang selalu hadir di negeri ini.

Tidak ada yang dapat menghindari bencana, adapun pendekatan dari pemerintah sudah sangat dinantikan. Melalui BNPB pun melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). SPAB ini mengantarkan informasi dan pengetahuan yang tepat bagi murid di sekolah dasar dan menengah.

SPAB ini sudah terbentuk namun masih menyisakan pertanyaan, benarkah sudah diimplementasikan secara masif?

Oleh karena itu, diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Terutama sekolah yang terdampak dan rawan adanya bencana. Terjadinya bencana tentu akan menghancurkan sekolah dan juga terdampaknya pada murid dan seisi sekolah.

Maka dibutuhkan pemerintah pusat menegaskan benarkah penting mendirikan sekolah khusus untuk mitigasi bencana.

Evaluasi dan Perencanaan Pembentukan SMB

Dari tahun 2026 berjalan kini kita dihadapkan oleh bencana demi bencana. Tahun 2026 sama seperti tahun sebelumnya. Bencana tetap terjadi. Namun kewaspadaan dari bencana ini mesti ditegaskan.

Banyaknya masyarakat terdampak dari bencana. Perlu ada revisi dan evaluasi yang matang. Situasinya karena bencana yang terus dihadapi memerlukan pantauan dan evaluasi yang benar-benar terencana.

Dari setiap evaluasi diperlukan pula laporan yang spesifik tidak sekadar asal bapak senang (ABS). Jika ABS yang didahulukan akan memperparah hasilnya. Maka setiap terjadi bencana lebih mendahulukan ABS.

Laporan yang fiktif dan ABS pada saat evaluasi akan mengungkap bahwa bencana seolah menjadi komoditi. Karena mengejar anggaran yang dicairkan dan mengaharap agar kinerja yang dianggap terbaik. Dampaknya berkepanjangan.

Tidak dapat diterima hasilnya jika ABS saja, maka dari itu evaluasi total harus didengar dari evaluasi di lapangan dengan konkrit.

Setelah melakukan evaluasi maka harus ada tindak lanjutnya. Tindak lanjut harus mengedepankan solusi yang tepat. Insiatif untuk mengerjakan hasil evaluasi ditindak dengan sebenarnya.

Sejak tahun 2000 hingga 2024, Indonesia mencatat sekitar 12-15% dari total kejadian gempa bumi di dunia (Adi, 2024). Maka data ini menjadi pembahasan yang penting. Indonesia mesti menyelamatkan generasinya. Evaluasinya harus tegas dan cepat. Kesiapan pemerintah tidak bisa sekadar evaluasi sederhana.

Setelah melakukan evaluasi menyeluruh dan tindak lanjut secara cepat dan tanggap. Maka pembentukan sekolah mitigasi bencana (SMB) menjadi urgen dan disegerakan.

Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)

Pembentukan SMB ini harus ditindaklanjuti dengan pandangan bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki peristiwa bencana yang cukup besar dan membutuhkan kondisi yang relatif harus disiapkan dengan keilmuan yang mumpuni.

Kurikulum pada SMB ini harus berdasarkan pengalaman Indonesia menangani bencana. Kaitannya agar relevan dengan situasi di setiap lokasi bencana. Pemerintah menghadirkan SMB ini sama dengan pentingnya mendirikan sekolah nasional terintegrasi. Justru inilah waktu SMB disiapkan dan didirikan dengan seksama dan disegerakan secepatnya.

Percepatan pendirian SMB ini membentuk masyarakat agar lebih siap dan aware kepada diri sendiri dan menyiapkan generasi di masa mendatang lebih tegas dan siap pada peristiwa bencana yang akan terjadi.

Benarkah SMB Sebagai Solusi?

Membincang solusinya, SMB sebagai solusi yang sangat tepat untuk jangka panjang. SMB ini memiliki kekhasan untuk Indonesia. Bahkan SMB ini mencerminkan bahwa Indonesia tegas ingin menjadikan masyarakat lebih siap dan memberikan kesiapsiagaan bencana.

Prioritas membangun SMB ini kaitannya untuk membangun mental masyarakat atas fenomena bencana yang ada di sekitarnya. Lewat SMB ini pula lulusannya bisa menjurus ke pendidikan tinggi yang berkaitan dengan pendidikan kebencanaan ataupun yang relevan dengan ilmu pengetahuan kebencanaan. Tidak sekadar itu, SMB bisa membentuk murid tahu kepedulian atas sekitarnya.

Pemerintah juga bersiap jika SMB ini didirikan di setiap desa atau kelurahan. Untuk menampung murid sejak dini. Bahkan bangunan sekolah harus memiliki struktur sesuai standar kebencanaan. Yang dapat dipelajari dari rekam jejak negara Jepang.

Dari negara Jepang sebagai gambarannya, juga negara Amerika dan Portugal. Gambaran negara-negara yang sudah tepat menyelesaikan setiap fenomena bencananya. Umumnya negara yang sudah selesai mengatasi kebencanaan telah memiliki kesadaran penuh pentingnya proses pemahaman dan wawasan kebencanaan dari masyarakatnya.

Maka tidak ada salahnnya, gagasan menghadirkan sekolah mitigasi bencana di Indonesia sebagai solusi yang terjamin bagi masyarakat agar masyarakat siap dengan segala hal dalam kebencanaan.

Pembangunan SMB ini sama dengan menyiapkan makanan bergizi gratis. Seharusnya tidak ada permasalahan dengan anggaran. Melainkan perlu dibentuk kecakapan agar SMB benar-benar terwujud.

SMB ini melambangkan bahwa pendidikan kebencanaan sangat berharga bagi Indonesia, yang dikhususkan kepada masyarakat generasi emas. Sebab itulah, SMB mendesak untuk didirikan. SMB merepresentasikan Indonesia di level pendidikan.

Adapun guru dan tenaga kependidikan disaring dari PNS dan P3K penuh waktu juga paruh waktu. Sejenak kita berpandangan, energi bagi terwujudnya SMB ini sama halnya bahwa bencana yang datang dapat diatasi.

Kurikulumnya dapat diintegrasikan dan ditentukan oleh pemerintah melalui mekanisme sinergi kementerian. Artinya, tidak ada masalah jika SMB ini disiapkan dan didirikan untuk menjaring pahlawan dari bencana yang ada di negeri kita.

Hasilnya, SMB bisa mencetak lulusan yang siap guna untuk meneruskan cita-cita bangsa, menjadikan lulusan siap apabila bencana terjadi, menciptakan generasi tanggap bencana, generasi yang memiliki kepedulian atas bencana.

Tidak ada salahnya pula, SMB ini bekerjasama dengan perguruan tinggi dalam negeri untuk menggagas ilmu pengetahuan kebencanaan yang reflektif dan mudah diaksesnya.

Dari sini kita bisa mereviu jika SMB cocok bagi Indonesia. Dasar dari itu pula masyarakat mudah untuk memahami betapa bencana yang terjadi meski tidak dapat diprediksi. Namun masalah kebencanaan tidak diunsurkan melempar batu sembunyi tangan. Tetapi lulusan SMB mendapatkan ijazah dari Kemdikdasmen. SMB bisa memastikan ketermpilan bagi semua murid. Gagasan  ini wajib direalisasikan tidak sekadar menunggu pergantian kurikulum atau presidennya. (*)

Reporter Muh Husen Arifin
Editor Aris Abdulsalam