Ayo Netizen

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Oleh: Sri Maryati
Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)

Bencana abu vulkanik, kabut asap karhutla dan polusi udara lainnya membutuhkan alat pelindung diri (APD) dengan standar yang baik. Prospek Bandung sebagai produsen APD sangat mendukung karena kota ini memiliki potensi industri yang kompatibel.

Terlebih untuk produsen APD untuk mata bisa bekerja sama dengan Rumah Sakit Mata Nasional Cicendo. Bencana alam silih berganti, belum lagi jika terjadi pandemi lagi, dibutuhkan alat pelindung yang multi fungsi yakni Full face Respirator. Sebagai solusi teknologi melindungi kesehatan mata dan organ pernafasan dari debu vulkanik dan bencana lainnya.

Terlebih hubungan antara kesehatan mata dan abu vulkanik sangat kritis dan berbahaya karena abu vulkanik bukanlah debu biasa, melainkan serpihan kaca vulkanik, silika, dan mineral tajam yang bersifat abrasif (mengikis) serta korosif.

Ketika partikel halus dan tajam ini berinteraksi dengan organ mata yang sensitif, dampaknya bisa berkisar dari iritasi ringan hingga kerusakan permanen pada penglihatan.

Dampak klinis abu vulkanik pada mata menyebabkan abrasi kornea atau luka gores pada kornea.  Serpihan silika yang tajam dapat menggores lapisan kornea. Kondisi ini memicu rasa nyeri hebat, sensasi mengganjal seperti pasir, dan beresiko menyebabkan infeksi serius.

Paparan abu juga bisa memicu peradangan pada konjungtiva atau selaput lendir mata. Gejalanya meliputi mata merah, gatal, bengkak, perih, dan berair secara berlebihan, Abu vulkanik segar seringkali diselimuti lapisan asam sulfat yang dapat menambah efek iritasi dan rasa terbakar yang menyengat saat mengenai air mata,

Perlindungan kesehatan mata terhadap bencana tidak bisa asal-asalan. Perlu teknologi perlindungan yang menggabungkan kacamata anti-debu vulkanik sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem dikenal dengan nama Full Face Respirator (Respirator Wajah Penuh) atau sistem PAPR (Powered Air-Purifying Respirator). Teknologi ini dirancang khusus untuk lingkungan ekstrim dengan tingkat paparan partikel abrasif serta terjadinya polusi hingga gas beracun.

Semua orang tidak menghendaki terjadinya bencana, namun mitigasi atau siap sedia jika terjadi bencana sangat penting.

Teknologi full face respirator dilengkapi dengan lensa anti gores polikarbonat standar militer. Lapisan ini mencegah permukaan kaca menjadi buram atau tergores akibat hantaman partikel silika vulkanik yang tajam. Dilengkapi dengan segel silikon kedap udara (Positive Pressure Seal) yang mengelilingi seluruh wajah (mata, hidung, dan mulut). Segel ini memastikan tidak ada celah mikro bagi abu halus untuk menyusup masuk akibat hembusan angin.

Dilengkapi katup buang ganda yang mengarahkan kelembaban nafas langsung ke bawah untuk mencegah pengembunan di dalam lensa pelindung mata. Sistem filter cartridge ganda menggunakan filter partikulat efisiensi tinggi (seperti standar P100 atau N95/N100) yang mampu menyaring hingga 99,97 persen partikel debu vulkanik yang paling halus sekalipun,

Untuk penggunaan jangka panjang di zona terdampak parah, terdapat teknologi Powered Air Purifying Respirator (PAPR). Teknologi ini berbentuk seperti helm astronot atau tudung wajah penuh yang terhubung ke mesin pompa udara mini di pinggang.

Mesin menyedot udara luar, menyaringnya dengan filter HEPA, lalu meniupkan udara bersih ke dalam ruang wajah secara konstan. Karena udara terus ditiupkan, mata tetap sejuk, lensa tidak akan mengembun, dan pengguna tidak perlu bersusah payah menarik napas secara manual seperti pada masker biasa.

Sungguh amat disayangkan semua alat diatas kini masih di impor. Padahal potensi dalam negeri mestinya bisa memproduksi sendiri. Khususnya kota Bandung yang banyak lembaga riset, tentunya bisa.

Selama ini alat dan APD yang diimpor memiliki merek dan standar yang valid di pasaran. Teknologi ini diproduksi oleh produsen alat keselamatan kerja (Safety PPE) global dengan sertifikasi standar internasional seperti NIOSH (Amerika) atau EN (Eropa)

Contohnya 3M Full Facepiece Respirator (Seri 6000 atau 7000) dan Honeywell North 5400 / 7600 Series.

Penjelasan terkait kesehatan mata (Foto: RSMN Cicendo)

Wilayah Indonesia sebagian besar masih dalam Kondisi cuaca panas akibat El Nino yang disertai dengan bencana kabut asap dan juga abu vulkanik akibat erupsi gunung api. Perlu dicatat dalam sebulan terakhir terjadi terjadi peristiwa enam gunung api meletus dengan waktu yang hampir bersamaan.

Perlu mitigasi ke depan agar kita tidak terjebak dalam situasi buruk yang mempengaruhi kesehatan mata dan pernafasan secara parah.

Ketika mata cedera, tidak jarang warga melakukan penanganan medis dengan cara yang salah. Bahkan kurang responsif untuk berobat ke rumah sakit mata.

Perlu dicatat penggunaan kacamata hitam biasa masih memiliki celah di samping. Jika memakai lensa kontak mesti segera dilepas karena partikel asap dapat terjebak di bawah lensa, menyebabkan luka gores pada kornea, dan memicu infeksi bakteri yang parah.

Jangan menggunakan air keran mentah karena berisiko membawa bakteri ke mata yang sedang terluka. Setelah terjebak dalam cuaca panas dan kabut asap, lakukan kompres mata dengan kain bersih yang dibasahi air es selama 10--15 menit untuk menurunkan peradangan dan meredakan perih.

Jika terjebak di dalam bangunan, tutup rapat semua celah. Nyalakan pembersih udara (air purifier) dengan filter HEPA, dan hindari menyalakan lilin, merokok, atau aktivitas yang menambah asap di dalam ruangan.Gunakan Masker Respirator: Selalu pakai masker N95 atau KN95.

Cara mengecek kesehatan mata akibat paparan debu atau abu dilakukan melalui deteksi mandiri gejala awal di rumah, yang kemudian divalidasi lewat pemeriksaan klinis oleh dokter spesialis mata (oftalmolog).

Suhu tinggi dan radiasi UV yang kuat juga dapat memicu sindrom mata kering akut hingga luka bakar pada kornea. Pemeriksaan medis oleh dokter mata jika gejala dan gangguan mata  menetap lebih dari 1--2 hari.

Paparan panas ekstrim pada pekerja merupakan masalah yang sering dijumpai dan dapat berakibat buruk bila tidak diantisipasi. Pemakaian APD yang tepat, pembatasan lamanya waktu paparan panas, desain ruangan, dan cek kesehatan rutin, diperlukan untuk mencegah kelainan akibat panas. Bahaya yang jelas akibat panas adalah dehidrasi, maka itu konsumsi cairan secara rutin dalam jumlah yang cukup banyak, harus dilakukan.

 Kondisi udara panas dan paparan kabut asap dan debu yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan mata masyarakat perlu program penanganan darurat oleh rumah sakit mata yang didukung oleh dokter yang cukup.

Kini peran Rumah Sakit Mata Cicendo di Bandung telah ditetapkan sebagai Pusat Mata Nasional (PMN), mempunyai tanggung jawab yang besar untuk meningkatkan derajat kesehatan mata masyarakat di Indonesia.

Sebagai PMN, Rumah Sakit Mata Cicendo memiliki peran vital dan komprehensif dalam mengatasi gangguan kesehatan mata akibat kabut asap dan polusi udara.

Peran ini mencakup penanganan medis tingkat lanjut, edukasi publik, hingga perumusan kebijakan kesehatan mata nasional.

Kontribusi dan peran nyata PMN RS Mata Cicendo dalam menghadapi dampak kabut asap  dan abu vulkanik antara lain pelayanan klinis khusus untuk pasien yang terpapar yang pekat memicu peradangan permukaan mata (konjungtivitis) hingga sindrom mata kering akut.

Menggunakan pemeriksaan canggih seperti IDRA (analisis lapisan air mata) serta terapi mutakhir seperti Intense Pulsed Light (IPL) untuk mengembalikan fungsi kelenjar air mata yang terganggu.

RS juga menangani kasus-kasus infeksi sekunder pada mata yang terjadi ketika selaput lendir mata melemah dan terluka akibat partikel mikro kabut asap (PM2.5). Oleh sebab itu perlu IGD Mata 24 Jam yang mampu menyediakan penanganan darurat bagi pasien yang mengalami trauma kimia akut, iritasi parah, atau masuknya partikel asing tajam ke kornea mata akibat polusi udara.  (SRI)

Reporter Sri Maryati
Editor Aris Abdulsalam