Ayo Netizen

Dari I Hate Monday Menjadi 'Dimanusiakan' Pengalaman Tak Terduga di BP Kebudayaan Jabar

Oleh: pungkit wijaya
Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)

Senin pagi itu, matahari menyapa dedaunan area Bandung Timur, Ujungberung. Saya tiba dengan sepeda motor menuju area parkir gedung Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat.

Dari rumah jalur kota menuju timur rasanya malas sekali berangkat ke situ. Pasalnya, saya berlawanan dengan arah matarahi bergerak. Oh, mungkin orang bilang bilang I hate Monday, karena hari itu adalah mesin penggunting libur. Akan tetapi, karena satu hal yang mesti diselesaikan saya pun tiba di gedung tersebut.

Sebagai calon penerima Dana Indonesia Raya 2026, dengan sedikit rasa malas itu saya tiba di area balai, sebuah gedung birokrasi yang tidak terlalu luas dengan cat yang membosankan coklat tua, seperti warna dasar Kementrian Kebudayaan. Ya, karena Balai Pelestarian Kebudayaan perpanjangan tangan dari lembaga itu khususnya di wilayah Jawa Barat.

Dari data sebaran yang diunggah sosial media Instagram BP Kebudayaan Jabar data calon penerima provinsi Jawa Barat memang paling tinggi diantara daerah lain. Ini cukup luar biasa, misalnya saja kota Bandung terdapat sekitar sembilan puluh sembilan orang, sementara Kabupaten Bandung, kabupaten Bogor dan Depok di bawahnya. Sementara data usulan untuk kegiatan pendayagunaan ruang publik menempati kegiatan tertinggi.

Baiklah, setelah bicara data saya akan melanjutkan perjalanan itu. Seorang lelaki menyapa saya dengan sumringah, ia berkata silakan naik ke atas di lantai dua untuk bimbingan penerima Dana Indonesiaraya. Saya pun berjalan menuju ruangan itu dengan menaiki tangga. Terlihat lima orang dengan satu orang yang menggenakan seragam coklat yaitu perempuan sedang berbicara serta mengambilkan sebuah kertas di atas meja untuk satu dan dua orang lelaki tamu. Ia pun berbincang kemudian mencoba menghantarkan tamu itu ke dalam ruangan. Sementara saya, memotret aktivitas pengisian daftar hadir di meja tersebut. Kemudian disambut ramah oleh front line dua orang wanita. Masuklah saya dengan nomor antrian lima belas.

Di dalam ruangan peserta dengan semangat sedang mencoba menjelaskan sesuatu di depan laptop kepada petugas berbaju putih itu. Saya pun mencoba duduk dan menikmati suasana suhu dan udara saja.

Namun, saya teringat kepada perempuan yang menghantar tamu tadi. Oia, itu kalau tidak salah namanya Ibu Retno Raswaty, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat (BP Kebudayaan Jabar). Saya pernah melihat beliau di sosial media saya.

Lalu saya pun mulai berpikir, wah barangkali Bu Retno sedang melakukan pelayanan publik yang tidak hanya melakukan service tapi ia memberikan hospitaly, pasalnya ia sampai turun kaki mengantar beberapa tamu penerima manfaat Dana Indonesiaraya 2026.

Bagi saya, ini cukup menarik, karena saya beberapa waktu lalu pernah berada di Industri (F&B) yang erat kaitannya dengan hospitaly saya sedikit paham tentang bagaimana pelayanan agar orang merasa diakui bukan hanya melakukan "service" alakadarnya saja, sehingga menimbulkan experience bagi "pengunjung". Ia tidak hanya dilayani karena bukan raja, bukan pula sebagai orang asing yang datang dari planet lain, tapi kedatangan "tamu" dianggap sebagai manusia, ia suaranya didengar dan diberikan hal kecil dengan tulus. Utamanya, oleh keseluruhan pegawai yang ada di situ baik yang berstatus pegawai negeri atau bukan.

Sambil menikmati suhu dan udara itu, saya pun menyeduh secangkir kopi hitam. Ini membuat saya lebih bersemangat dan bertenaga. Kemudian bercakap dengan pikiran lain: " lah, itukan Standart Operasional (SOP) seperti di banyak industri hospitaly lain donk", ujar saya dalam dialog. Akan tetapi, jika hanya sebatas SOP justru hal kecil dengan tulus tidak akan membentuk experience yang lain: yang merasa dimanusiakan.

Oleh karena itu, saya melihat bahwa hospitaly itu bekerja memanusiakan manusia, meskipun ini balai kebudayaan yang mesti berbudaya santun dan baik, seterusnya karena sudah dipastikan diberi gaji dan tunjangan oleh negara yang sifatnya wajib melayani degan hati, tapi jika itu tidak tertransfer dengan baik tidak akan sampai kepada pengunjung dan tidak memberikan experience positif.

Dalam tegukan kedua, saya pun berpikir, jika banyak lembaga negara lain bisa memberikan hospitaly dengan cara seperti yang diterapkan BP Kebudayaan Jabar: memanusiakan manusia itu akan menjadi lain, meskipun saya tidak tahu lain lembaga negara yang lain sudah menerapkan itu atau tidak. Yang mesti diingat, karena internal kepegawaian itu tergantung kepala, yang layak dipuji adalah Bu Retno karena mampu mentransfer itu bukan hanya menerapkan. Seperti buah lampu, jika sudah nerap belum tentu bisa mentransfer cahaya jika aliran listriknya mati.

Saya pribadi tidak mengenal jelas balai ini dan kepalanya, tapi rasanya dimanusiakan oleh manusia itu lebih okeh: pelayanan pegawai yang lain ramah dengan pertanyaan yang rudet terkait pendampingan revisi Rancangan Anggaran Biaya (RAB) hingga petugas kantin di situ. Ini luar biasa. (*)

Reporter pungkit wijaya
Editor Aris Abdulsalam