Ayo Netizen

Miliaran Pemirsa Saksikan Pemakaman Lady Di

Oleh: bram herdiana
Putri Diana. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: John MacIntyre)

Goodbye England's rose

(Selamat tinggal mawar Inggris)

May you ever grow in our hearts

(Semoga kau selalu tumbuh di hati kami)

You were the grace that placed itself

(Kau adalah keanggunan yang menempatkan diri)

Where lives were torn apart

(Di tempat di mana hidup tercerai-berai)

Candle In The Wind, Elton John

Awal September 1997 saat prosesi pemakaman Lady Diana, sekitar 2.000 orang memenuhi Westminster Abbey dan lebih dari 32 juta warga Inggris menyaksikan melalui televisi, dunia seolah berhenti sejenak untuk mengikuti sebuah peristiwa yang berlangsung di London. Bahkan, dari berbagai laporan yang dikutip memperkirakan bahwa antara 2 hingga 2,5 miliar orang di seluruh dunia menyaksikan siaran tersebut, termasuk masyarakat Kota Bandung diantaranya melalui stasiun tv nasional yaitu RCTI dan Kompas.

Prosesi tersebut menjadikannya salah satu tayangan televisi paling banyak ditonton dalam sejarah. Angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia menunjukkan bagaimana sebuah peristiwa dapat melampaui batas negara, budaya dan bahasa. Pertanyaannya, mengapa begitu banyak orang tertarik untuk menontonnya?

Fenomena ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan alasan bahwa peristiwa tersebut melibatkan keluarga kerajaan Inggris saja. Ada sejumlah faktor sosial, budaya, politik, psikologis, dan media yang saling berinteraksi sehingga menciptakan perhatian global yang luar biasa.

Pertama, keluarga kerajaan Inggris merupakan salah satu institusi paling terkenal di dunia. Meskipun Inggris bukan negara dengan jumlah penduduk terbesar, monarkinya memiliki pengaruh simbolik yang sangat kuat. Selama berabad-abad, kerajaan Inggris telah menjadi bagian dari sejarah dunia melalui kolonialisme, diplomasi, dan hubungan internasional.

Akibatnya, tokoh-tokoh kerajaan dikenal jauh melampaui batas Inggris sendiri. Nama-nama seperti Ratu Elizabeth II dan Lady Diana. Peristiwa yang melibatkan mereka secara otomatis menarik perhatian media global. Westminster Abbey sendiri telah menjadi lokasi berbagai peristiwa kerajaan penting selama berabad-abad, sehingga memiliki nilai historis dan simbolis yang besar.

Kemudian manusia pada dasarnya tertarik pada cerita. Peristiwa kerajaan sering kali disajikan sebagai sebuah kisah yang mudah dipahami: ada tokoh utama, konflik, harapan, dan momen puncak. Dalam kasus pernikahan kerajaan misalnya, media membangun narasi “dongeng modern” tentang seorang perempuan biasa yang menikah dengan seorang pangeran. Narasi semacam ini memberikan unsur romantisme yang dapat diterima oleh masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. Daya tarik cerita dan simbolisme kerajaan merupakan faktor utama yang membuat masyarakat terus mengikuti perkembangan mereka.

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)

Faktor berikutnya adalah peristiwa tersebut menawarkan tontonan visual yang sangat spektakuler. Manusia memiliki ketertarikan alami terhadap upacara besar, kemegahan, dan simbol-simbol kekuasaan. Prosesi kereta kerajaan, pakaian resmi, musik seremonial, bangunan bersejarah, hingga ribuan tamu undangan menciptakan pengalaman visual yang sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam era televisi saat itu, unsur visual sangat menentukan tingkat ketertarikan penonton. Upacara kerajaan menghadirkan kombinasi antara sejarah, tradisi, dan kemewahan yang menjadi daya tarik tersendiri.

Faktor lainya yaitu peristiwa besar kerajaan sering kali menjadi momen sejarah yang disadari oleh masyarakat saat itu juga. Banyak orang menonton karena mereka merasa sedang menyaksikan sesuatu yang akan dikenang dalam buku sejarah. Ketika sebuah peristiwa diberi label sebagai “bersejarah”, masyarakat terdorong untuk menjadi saksi langsung. Mereka tidak ingin hanya membaca tentangnya di kemudian hari, tetapi ingin mengalami momen tersebut secara langsung bersama jutaan orang lainnya. Perasaan menjadi bagian dari sejarah menciptakan hasrat yang kuat untuk menonton.

Begitupun peran media global jadi faktor yang sangat menentukan. Jaringan televisi dari berbagai negara menyiapkan segalanya untuk meliput acara kerajaan. Banyak stasiun televisi bahkan menyiarkan acara tersebut secara penuh selama berjam-jam. Ketika media memberikan perhatian yang sangat besar terhadap suatu peristiwa, masyarakat cenderung menganggap peristiwa itu penting dan layak diikuti. Dengan kata lain, media tidak hanya melaporkan perhatian publik, tetapi juga membantu menciptakan perhatian publik itu sendiri.

Terakhir faktor unsur emosi kolektif yang sangat kuat. Jika peristiwa tersebut berupa pemakaman, seperti pemakaman Lady Diana atau Lady Di pada tahun 1997, jutaan orang menonton karena merasa memiliki hubungan emosional dengan tokoh yang meninggal. Diana dipandang sebagai figur yang dekat dengan masyarakat dan memiliki citra kemanusiaan yang kuat.

Kesedihan yang dirasakan tidak hanya terjadi di Inggris, tetapi juga di berbagai negara. Dalam konteks ini, menonton siaran langsung menjadi cara bagi masyarakat untuk mengekspresikan duka bersama. Tidak mengherankan jika pemakaman Diana ditonton oleh sekitar 32 juta orang di Inggris dan diperkirakan mencapai 2 hingga 2,5 miliar penonton secara global.

Dengan demikian miliaran orang menonton bukan semata-mata karena mereka tertarik pada keluarga kerajaan Inggris. Mereka tertarik karena peristiwa tersebut memadukan sejarah, emosi, simbolisme, media, teknologi, dan kebutuhan manusia akan cerita yang bermakna. Ketika semua faktor itu bertemu dalam satu acara, hasilnya adalah sebuah fenomena mendunia yang mampu menyatukan perhatian dunia selama beberapa jam. Inilah alasan mengapa sebuah upacara yang hanya dihadiri sekitar 2.000 orang di Westminster Abbey dan dapat disaksikan oleh miliaran orang di berbagai penjuru bumi ini, menjadi salah satu acara televisi yang paling banyak ditonton dalam sejarah. (*)

Reporter bram herdiana
Editor Aris Abdulsalam