Ayo Netizen

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

Oleh: Muh Husen Arifin
Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)

Akhir-akhir ini masyarakat mengalami musibah berkepanjangan. Dari musibah ini kemudian masyarakat mengalami penurunan kepercayaan kepada kebijakan yang belum selesai. Sementara masyarakat menunggu kepastian di bawah musibah yang terus menerus.

Masyarakat tidak menginginkan musibah terjadi. Masyarakat terlalu banyak menanggung kebijakan yang tak menentu. Hingga masyarakat bergotong royong dalam menanggulangi musibah.

Lain masyarakat lain influencer. Masyarakat tidak mampu menyelesaikan musibah sendiri. Masyarakat membutuhkan uluran tangan dan bantuan yang konkrit. Sedangkan kehadiran influencer justru seharusnya membantu kondisi yang terjadi.

Keberadaan influencer memberikan pengaruh yang signifikan kepada masyarakat dalam menyelesaikan musibah demi musibah. Kekuatan influencer justru seharusnya menjadi senjata ampuh dalam bentuk apapun menggendong bahkan menyelesaikan secara tuntas atas musibah di negeri ini.

Masyarakat pun menggantungkan kehadiran influencer di tengah suntuknya masalah ini.

Bagian dari influencer tentu berhubungan dengan kemampuannya membentuk gerakan yang dilakukan. Gerakan ini adalah upaya untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat untuk musibah yang menimpanya.

Jutaan pengikut atau audiens di media sosial Instagram, Tiktok, YouTube, Facebook dan Twitter menjadikan kekuatan yang saling berkaitan. Influencer menjadikan platform digitalnya memberikan dampak yang besar. Ajakan influencer kepada pengikutnya untuk menjadi bagian dari programnya sangat mudah dan berpotensi menjadi gerakan masif dan bekerja serentak.

Maka sudah seharusnya influencer menggagas program positif dalam lingkup nasional melalui langkah yang tepat untuk melakukan kontribusinya. Entah di program pendidikan atau kemanusiaan, sebagaimana yang terjadi pada masyarakat saat ini.

Kehadiran influencer di sini juga terdapat sebuah andil yang besar namun demikian perlu strategi jitu agar influencer memaknai gagasannya tentang pendidikan empati dan simpati kepada masyarakat.

Bukan sekadar mencari untung dan membesarkan pengaruhnya semata, melainkan benar-benar menjadikan posisinya sebagai salah satu pilihan baginya bermanfaat kepada masyarakat.

Krisis Empati

Jauh sebelum munculnya influencer yang mengacak-acak konten yang tak etis. Krisis empati dari tokoh publik sering menyakiti masyarakat. Tetapi eksposurnya tidak viral.

Namun setelah platform digital diciptakan, marak konten nirempati menghiasi layar gawai setiap hari. Keniscayaan muncul. Masyarakat memiliki kubu berbeda. Pendukungnya membela. Yang menolak pun tak berdaya. Hanya saja klarifikasi demi klarifikasi bermunculan.

Krisis empati ini dapat ditelusuri, pertama, berkaitan eksploitasi kemiskinan dan musibah, nyatanya mereka membuat konten bantuan sosial namun lebih fokus mengeksploitasi kesedihan atau tangisan penerima bantuan demi dramatisasi konten, bukan murni mengedukasi kepedulian dan seperti membanggakan atas kontennya semata.

Kedua, mereka melakukan aksi usil yang merugikan, mempermalukan, atau membahayakan fisik dan mental orang asing demi memancing reaksi komedi. Amarah masyarakat pun tak terbendung.

Ketiga, merendahkan kelompok rentan dengan membuat humor atau parodi yang menjadikan penyandang disabilitas, ras, atau kelompok marginal sebagai lelucon. Tindakan ini rentan dalam hal mengolok-olok disabilitas.

Keempat, yang viral minggu ini dengan adanya ajakan mindfulness tetapi mengabaikan realitas kesulitan hidup masyarakat bawah. Fenomena ini tidak selalu lahir dari niat buruk, melainkan dari kebutaan terhadap hak istimewa (privilege). Yang dilakukan oknum lulusan kampus ternama di luar negeri dengan beasiswa namun membuat konten nirempati terhadap masyarakat yang sedang menghadapi krisis bencana asap dan kesulitan ekonomi yang tidak bisa dihindari hanya dengan mematikan gawai.

Krisis empati inilah yang mencemari aktivitas masyarakat dalam keadaan menderita.

Urgensi Pendidikan Empati

Segala gerak gerik influencer memberikan pengaruh antara positif dan negatif. Setiap konten yang diunggah sebagai pertimbangan bukan hanya mengejar target. Influencer memiliki tim kreatif. Dan kreativitasnya dalam bentuk konten mesti diarahkan.

Jika tidak, maka konten yang dihasilkan hanya mengejar target audiens dan penghasilan. Bukan mengedukasi kepada masyarakat. Buktinya tidak sedikit influencer justru bertindak gegabah, jika tidak mau disebut kekhilafan.

Konten yang muncul dikonsumsi masyarakat menjadi kontroversi. Viral. Tidak membawa kepada identitas konten yang mendidik.

Sedangkan masyarakat memiliki akses yang bisa diartikan berbeda-beda. Konten dari influencer menjadi lebih menunjukkan bahwa konten asal dibuat dan memiliki koneksi luas tanpa membatasi isi kontennya. Nirempati dalam membuat konten.

Dari hal tersebut, urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya. Seperti yang muncul pada salah influencer yang tidak mengetahui nasib masyarakat hanya penggiringan opini.

Pendidikan empati ini memiliki kaitannya dengan figur publik, notabene sebagai seseorang yang bertindak sebagai agen pembentuk karakter bagi generasi muda di era digital.

Ketika seorang influencer menunjukkan perilaku empati seperti mendengarkan cerita orang lain tanpa menghakimi atau menghargai perbedaan, memahami kondisi sosial di masyarakat, pada dasarnya mereka sedang mempraktikkan pendidikan empati.

Influencer yang menggunakan bahasa yang santun, inklusif, dan tidak merendahkan kelompok lain membantu menciptakan standar baru bahwa berempati itu mudah, peduli sesama itu mewah.

Tanpa harus menunjukkan kemewahan duniawi, atau membuat konten atas pencapaian bertujuan demi pengkauan audiensnya.

Pendidikan empati yang sederhana dapat ditunjukkan. Influencer yang memberi dukungan moril dan materil kepada masyarakat dari beragam program yang sesuai dengan kondisinya.

Tidak melulu berbunga-bunga dengan kata yang tidak relevan, ajakan yang tidak konsisten. Bahkan cenderung melukai masyarakat.

Pada dasarnya, pendidikan empati selalu disematkan pada diri kita. Bahkan kita diajarkan untuk selalu menghargai dan menghormati, saling mencintai, saling mendukung satu sama lainnya.

Peranan pendidikan empati tidak sekadar di sekolah, pelaksanaannya harus diwujudkan secara nyata untuk masyarakat. Salah satunya melatih empati digital, adanya prinsip kesadaran dan nurani di balik layar gawai yang dikomentari adalah manusia nyata dengan perasaan mendalam.

Nilai-nilai empati juga berkaitan dengan kecerdasan emosional. Maka dari itulah kehidupan bermasyarakat mengharuskan untuk menjunjung kedamaian, mau merasakan penderitaan masyarakat.

Wabil khusus, kita selalu belajar berempati terhadap isu sosial, kita meniti jalan empati dalam arus sosial dengan membawa identitas diri dan budaya. Beradab dengan empati lebih mulia, mari menyelami makna empati yang penuh cinta untuk masyarakat dan dunia. (*)

Reporter Muh Husen Arifin
Editor Aris Abdulsalam