Ayo Netizen

Badut, Mimpi, dan Rizki

Oleh: Ibn Ghifarie
Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))

Malam yang dingin untuk wilayah Babakan Dangdeur Cibiru Bandung dan sekitarnya. Bada magrib, sepulang dari Pekalongan, masih menyimpan rasa syukur atas keberhasilan UIN Sunan Gunung Djati Bandung mempertahankan gelar Juara Umum PORSI JAWARA II PTKIN se-Jawa dan Madura dari tanggal 9-13 September 2026.

Sebanyak 22 medali yang terdiri dari 10 emas, 5 perak, dan 7 perunggu berhasil mengantarkan kampus kebanggaan urang Jabar itu kembali ke puncak klasemen. Uniknya, pada malam itu, cerita tentang kemenangan datang bukan dari arena pertandingan, melainkan dari layar ponsel.

Selepas isya, Aa Akil, anak kedua (11 tahun), pulang dari pengajian. “Bah, udah lama datang, boleh pinjam HP, enggak?”

“Mangga, A.”

Jari kecilnya menggeser beranda Instagram. Tiba-tiba berhenti pada video viral. Seorang laki-laki mengenakan toga, wajahnya dirias seperti badut. “Kok Aa enggak ketemu? Kan ada di kampus waktu wisuda?”

“Emang Aa ke mana?” tanyaku.

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))

Merayakan Kemenangan, Berbagai Kebahagiaan

Laki-laki dalam video itu bernama Muhammad Hakim (@badutbandung_kakhakim12), mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Baru saja mengikuti prosesi wisuda ke-109, Sabtu, (12/9/2026).

Bukan toga yang membuatnya berbeda. Melainkan wajah badut yang dikenakannya setelah prosesi wisuda selesai. Rupanya, di balik riasan itu, ada perjalanan panjang seorang mahasiswa yang membagi waktu antara kuliah dan bekerja.

Dalam liputan Humas UIN Bandung dijelaskan Hakim mulai menekuni profesi badut sejak semester tiga, saat sang ayah meninggal dunia. Dengan bekerja menghibur anak-anak di acara ulang tahun dan berbagai kegiatan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya.

“Jadi intinya perjalanan saya mulai profesi badut ini di semester tiga atau ketika ayah meninggal. Jadi ketika ayah Hakim meninggal, Hakim mulai menggeluti dunia badut karena buat cari-cari tambahan untuk kehidupan,” ungkapnya.

Selama kurang lebih lima tahun, pekerjaan itu menjadi bagian dari kesehariannya. Ada ruang kelas, tugas, dan ujian. Ada pula acara ulang tahun, anak-anak yang menunggu hiburan, serta kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Dua dunia yang berjalan beriringan. Hakim mengaku tidak pernah mendapat perlakuan merendahkan karena profesinya. Hatta, beberapa kali berkolaborasi dengan organisasi mahasiswa dalam kegiatan sosial untuk menghibur anak-anak.

“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada yang meremehkan. Bahkan banyak sekali teman-teman juga mengapresiasi dengan adanya Kak Hakim menjadi seorang badut ulang tahun,” ujarnya.

Riasan badut yang dikenakan saat wisuda bukan sekadar keinginan tampil berbeda. Melainkan Hakim ingin berbagi kebahagiaan bersama teman-teman yang selama ini menjadi bagian dari perjuangannya.

Caranya dengan membagikan makanan ringan dan kartu ucapan selamat wisuda. Wajah badut itu menjadi media untuk merayakan keberhasilan dan menghormati profesi yang telah membiayai pendidikannya.

“Alasannya itu karena pengen berbagi kebahagiaan bersama teman-teman berjuang. Meskipun di hari bahagianya Hakim, Hakim juga ingin membahagiakan orang lain,” katanya.

Ada sesuatu yang sederhana, tetapi dalam, dari pilihan berharga. Hakim tidak menyembunyikan jalan yang telah dilaluinya. Justru membawa identitas profesinya ke hari kelulusan. Ihwal pekerjaan yang halal tidak perlu disembunyikan. Setiap perjuangan memiliki martabat. Mimpi tidak selalu diraih melalui jalan yang mudah.

Pikiran teringat pada Aa Akil yang duduk di kelas enam sekolah dasar. Sering melihat dunia dengan cara sederhana. Baginya, badut itu seseorang yang membuat suasana menjadi riang. Walhasil, di balik wajah yang dicat, ada manusia dengan kebutuhan, asa, harapan, dan perjuangan yang berdarah-darah.

Kita sering mengenal seseorang dari apa yang tampak. Padahal, di balik penampilan, selalu ada cerita yang tidak selesai kita baca. Seragam, toga, pakaian kerja, riasan badut, semuanya hanya lapisan luar.

Ingat, yang lebih penting dan utama itu bagaimana seseorang menjalani tanggung jawabnya. Hakim memilih membawa identitas profesinya ke hari wisuda karena tidak ingin melupakan jalan yang telah dilaluinya. Jalan yang membawanya sampai pada gelar sarjana.

Kini, setelah menyandang gelar sarjana, Hakim berharap dapat mengikuti seleksi CPNS. Ya, dengan tidak ingin meninggalkan profesi badut yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Baginya menjadi badut bukan sekadar pekerjaan sampingan. Profesi itu telah mengantarkannya melewati masa-masa sulit. Menjadi sumber penghasilan, pengalaman, dan pertemanan sejati. (www.uinsgd.ac.id)

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Media (Dipenuhi) Badut Bedebah

Dut badut badut badut badut badut badut zaman sekarang

Mong ngomong ngomong ngomong ngomong ngomong ngomong ngomong sembarang

Di televisi

Di koran-koran

Di dalam radio

Di atas mimbar

Gut manggut manggut manggut manggut manggut manggut seperti badut

Ya iya iya iya iya iya iyalah iya iya

Selama ini dunia (media cetak, online) kerap dipenuhi Badut, seperti dalam lirik lagu "Badut” karya Sawung Jabo dan Iwan Fals dalam album Swami, sungguh terasa sangat relevan dengan zaman sekarang. "Aku badut, badut yang bisa tertawa sedih..." Baris sederhana itu bukan sekadar gambaran sosok pelawak panggung semata.

Representasi manusia, (kita semua), yang dalam tekanan realitas sosial, politik, dan media, dipaksa, justru dengan sukarela tampil seperti badut. Ya, berbicara lantang tanpa kedalaman, menyampaikan pendapat tanpa dasar, dan menjadi tontonan massal tanpa menyadari ihwal diri sendiri telah kehilangan integritas.

Ibarat sekelompok orang yang ingin beraudiensi dengan Komisi reformasi Polri, setelah gagal (tidak) jadi beraudiensi, karena tidak sesuai dengan daftar saat memohon bertemu, berbeda saat akan bertemu, seolah-olah pihak komisioner menolak, dan “menghukum", satu contoh yang masih hangat. Masing-masing pihak sudah memberikan keterangan pada awak media, tinggal mata hati kita yang menilainya, siapa yang "melucu”.

Ingat, media sosial menjadikan semua orang sebagai "panggung". Dulu, tidak semua orang punya mimbar. Untuk berbicara di ruang publik, seseorang harus melalui seleksi sosial, profesional, dan intelektual. Kini semuanya selesai dengan satu klik gawai di tangan, kamera terbuka, dan unggahan meluncur tanpa refleksi.

Sungguh fenomena ini melahirkan apa yang semakin sering kita lihat. Orang berbicara tanpa riset. Opini dilempar seperti dagelan. Fakta dikaburkan demi sensasi. Argumentasi diganti drama. Popularitas menjadi ukuran kebenaran semu.

Dalam situasi ini, kita seperti dikelilingi parade badut yang saling berebut perhatian. Mereka tertawa, marah, memaki, memprovokasi, tetapi sebenarnya rapuh dan kosong di dalam. Lirik lagu "Badut" menangkap perasaan itu manusia yang menjadi pusat perhatian tetapi sekaligus bahan tontonan. Menampilkan diri dengan gagah, tetapi sesungguhnya tidak punya pijakan makna.

Parahnya, nuansa politik, komentar, dan keriuhan tanpa isi. Aktivitas "asal bicara” kini tidak hanya ada di media sosial. Di televisi, debat politik, dialog publik, bahkan rapat-rapat resmi negara pun sering berisi hujatan, sindiran, tanpa argumen yang berpihak pada publik.

Orang tak lagi sibuk membawa solusi. Yang mereka kejar itu "narasi menang", memojokan lawan bicara di mata penonton. Siapa yang paling keras. Siapa paling viral. Siapa yang paling disorot kamera.

Seorang pengamat dengan bangga mengucapkan, “bajingan tolol, dungu" entah kata-kata kotor apalagi, atau kelompok yang mengaku ilmuwan, peneliti dengan kata-kata berbagai hujatan pada yang dituduhkannya.

Dalam sirkus, panggung media menuntut tontonan, bukan pemikiran. Banyak figur publik terjebak menjadi performer, bukan negarawan; menjadi komentator, bukan pemikir; menjadi badut, bukan pemimpin. Padahal, bangsa tidak berjalan oleh tepuk tangan dan celetukan, tetapi oleh kedewasaan intelektual dalam membaca persoalan.

Segala kecerdasan publik diganti seni menyerang. Setiap hari kita disuguhi ocehan. "Asal Viral, Maka Benar"; "Asal Trending, Maka Penting"; "Asal Nyambung dengan Emosi Massa, Maka Mendapat Pembenaran."

Ironisnya, masyarakat ikut terbawa arus. Kita jadi bangsa yang ahli berkomentar, tetapi miskin kehendak mempelajari sesuatu lebih dalam. Dalam lagu "Badut", kita merasakan kritik yang tajam terhadap manusia yang terjebak pencitraan. “Dunia tertawa melihat tingkahmu..."

Ini sindiran untuk zaman sekarang, kita bangga tampil di muka umum, tetapi tidak sadar menjadi obyek pergunjingan yang sebenarnya tidak membawa perubahan apa-apa. Memang kita semua berpotensi menjadi badut. Kritik lagu ini justru paling tajam ketika diarahkan ke dalam diri kita sendiri. Kita semua pernah menjadi badut media.

Saat membagikan berita yang belum jelas kebenarannya. Ketika marah (caci-maki) di kolom komentar tanpa membaca isi keseluruhan. Waktu merasa paling benar hanya karena mendengar dua menit potongan video. Saat membela tokoh, kelompok, atau kepentingan tanpa pengetahuan memadai.

Media sosial memberi ruang bagi kita semua untuk unjuk bicara. Namun ruang itu malahan membentuk kita menjadi cepat bereaksi, lambat mencerna, rajin menilai, malas memahami.

Padahal, Iwan Fals dan Sawung Jabo, lewat lagu "Badut", mengingatkan ihwal manusia modern bisa tampil hebat di luar, tetapi di dalam hatinya tersisa kekosongan. Kita jadi pelawak bagi diri sendiri, karena pendapat yang kita keluarkan belum tentu memiliki pijakan nilai kebenaran.

Tontonan menjadi kebiasaan dan kebiasaan menjadi budaya. Gejala yang mengkhawatirkan itu ketika “asal bicara” bukan lagi fenomena individu, tetapi berubah menjadi pola budaya.

Tentunya, kebiasaan ini dilakukan oleh salah satu media lewat talkshow mendahulukan drama dibanding analisis. Konten viral lebih dihargai daripada tulisan mendalam. Pernyataan emosional lebih cepat dilirik daripada fakta.

Ketika itu berlangsung terus-menerus, kualitas ruang publik turun secara struktural. Ilmu kalah oleh meme. Solusi kalah oleh ejekan. Masa depan kalah oleh trending hari ini. Kita mulai terbiasa dengan keseluruhan circus dagelan ini, dan lupa petuah bangsa besar tidak dibangun oleh orang yang cerewet, tetapi oleh mereka yang berpikir, meneliti, dan bergerak.

Perlukah kita kembali belajar diam. Barangkali itulah pesan tersirat lagu “Badut”. Bukan sekadar kritik, tetapi ajakan refleksi. Di era penuh kegaduhan ini, justru kemampuan paling penting itu berhenti sejenak sebelum bicara; memahami sebelum menilai; mengambil jarak sebelum berkomentar; menimbang sebelum menekan tombol "kirim".

Diam bukan berarti tidak peduli. Justru menunjukkan kedewa saan mengambil sikap. Barangkali kita butuh kembali belajar menjadi manusia yang berbicara karena tahu, bukan karena ingin didengar. Akhir kata sudut pandang ini, jangan sampai kita dipaksa menjadi badut.

Lagu "Badut" terasa bak pesan lintas zaman. Ketika diciptakan, untuk menggambarkan situasi sosial tertentu pada masa itu. Namun hari ini, justru menjadi cermin tajam bagi era digital. Di tengah dunia yang dibanjiri suara, opini, konten, dan komentar. Kita perlu menjaga kewarasan berpikir; Kita harus memelihara etika bicara; Kita perlu mengingat bahwa suara yang paling berharga bukan yang terdengar paling keras, tetapi yang disampaikan paling bermakna.

Sebab jika tidak, kita akan terjebak pada ironi abadi, menjadi badut dalam hidup sendiri, tertawa di luar, tetapi sedih dan kosong di dalam. Bukankah itu tragedi di balik komedi terbesar zaman ini. Semoga kita menjadi sang pemberi makna dalam dunia yang fana ini. (Ahmad Sihabudin, ‎Asep Rachmatullah [Editor], 2026:63-68)

Merawat Imajinasi, Merayakan (Kewarasan) Selebrasi

Kembali kepada Kak Hakim. Ada sesuatu yang menarik dari pilihan berharga itu, bila sebagian orang ingin melupakan masa-masa sulit setelah mencapai keberhasilan. Hakim justru mengingatnya. Dengan membawa kembali warna-warni riasan badut, bukan untuk menutupi perjalanan, melainkan untuk menghormatinya.

Pasalnya, mimpi tidak selalu datang melalui pintu yang besar. Kadang-kadang, hadir lewat pekerjaan sederhana. Senyum anak-anak. Seseorang yang tetap berusaha meski kehilangan orang yang dicintai.

Urusan rizki, memang tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan. Kadang bisa hadir lewat kesempatan bekerja, teman yang mendukung, keluarga yang mendoakan, keberanian untuk tetap melangkah ketika keadaan terasa berat.

Malam semakin larut. Aa Akil masih memegang ponsel. Video Hakim telah selesai diputar. Saat memandang anak itu, lalu teringat pada satu urusan, betapa sering kita mengajarkan anak-anak untuk bermimpi, tetapi lupa pada mimpi yang perlu ditemani doa, ikhtiar bersama.

Hakim pernah bermimpi menjadi sarjana. Untuk mewujudkannya, bekerja sebagai badut. Tidak menunggu kehidupan menjadi sempurna. Justru menjalani apa yang bisa dilakukan, satu hari demi satu hari.

Dengan demikian, toga itu bukan hanya simbol kelulusan. Tanda seseorang telah melewati perjalanan panjang. Riasan badut itu bukan sekadar warna di wajah. Jadi pengingat ihwal di balik setiap mimpi, ada kerja keras yang tidak selalu terlihat.

Ingat, mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal, sekecil apa pun terlihat, dapat menjadi jalan yang sangat besar bagi seseorang untuk mencapai mimpinya.

Malam itu, kita belajar dari Kak Hakim badut yang berhasil menjadi sarjana. Hidup tidak selalu meminta kita tampil sempurna. Kadang-kadang, hidup hanya meminta kita tetap berjalan. Dengan wajah yang penuh warna, langkah yang sederhana, dan keyakinan setiap ikhtiar memiliki tempat di hadapan-Nya. (*)

Reporter Ibn Ghifarie
Editor Aris Abdulsalam