Ayo Netizen

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)

Memahami kuliner bukan sekadar soal mengecap rasa di ujung lidah, melainkan membaca artefak budaya yang merekam jejak migrasi dan asimilasi manusia. Di tanah Pasundan, kehadiran komunitas Arab telah memahat identitas sosio-kuliner yang mendalam. Makanan di sini menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan pesisir utara hingga dataran tinggi Jawa Barat dengan tanah Hadramaut di Yaman dan Baghdad di Irak.

Narasi besar ini bermula di Cirebon melalui sosok Syarif Abdurrachman, putra Sultan Maulana Sulaeman dari Baghdad. Catatan sejarah menyebutkan bahwa beliau datang untuk berguru kepada Sunan Gunung Jati, yang kemudian memerintahkannya untuk bermukim di kawasan Panjunan. Dari titik inilah, komunitas tersebut meluas hingga ke daerah Jagabayan. Di Jagabayan, masyarakat keturunan Arab membangun fondasi ekonomi yang khas, mayoritas sebagai penjual minyak wangi dan pengelola toko buku, yang hingga kini masih menjadi penanda identitas kawasan tersebut.

Proses asimilasi terjadi secara organik; para imigran pria dari Hadramaut yang datang tanpa membawa istri kemudian menikahi wanita setempat. Fenomena ini menciptakan profil demografis baru yang harmonis, di mana tradisi Timur Tengah melebur lembut dengan kearifan lokal Sunda. Akar sejarah di Cirebon inilah yang kemudian menjadi premis bagi terbentuknya kantong-kantong permukiman Arab yang lebih formal dan terstruktur di wilayah Bogor melalui kebijakan kolonial.

Bogor: Episentrum Empang dan Warisan Wijkstelsel 1835

Kawasan Empang di Bogor Selatan berdiri sebagai monumen hidup kebijakan Wijkstelsel tahun 1835, sebuah regulasi kolonial yang mengelompokkan premukiman berdasarkan etnis. Wilayah yang dulunya bernama Sukahati ini bertransformasi menjadi pusat gravitasi budaya Arab di Bogor. Pusat aktivitas ekonominya berada di Pasar Kambing dekat alun-alun. Kualitas hidangan di sini selalu terjaga karena pasokan kambingnya diambil langsung dari peternak Ciampea dan Cihideung.

Diversifikasi usaha di Empang sangat kaya, mencerminkan kebutuhan spiritual dan estetika. Mulai dari perlengkapan ibadah hingga biang parfum "gaul" bermerek internasional serta wewangian klasik seperti Hajar Aswat, Kasturi, Seribu Bunga, hingga Malaikat Subuh. Namun, daya tarik utamanya tetaplah pada barisan destinasi kuliner yang menawarkan rasa autentik.

Tabel Perbandingan Destinasi Kuliner Utama di Bogor

Nama Destinasi

Menu Andalan

Karakteristik dan Keunikan

Sate Gate

Sate Kambing, Nasi Kebuli, Marag, Martabak Mesir

Menggunakan istilah "Gate" (bahasa Sunda gaul berarti "enak sekali"). Menjadi titik kumpul favorit warga keturunan Arab setempat.

Sate Pak Rebing

Sate Kambing, Sop Kambing, Gule

Legenda yang berdiri sejak 1980-an di dalam gang. Sate empuk dengan bumbu kacang yang khas, meski bumbunya cenderung tawar untuk menonjolkan rasa daging.

RM. Balad

Nasi Kebuli Kambing/Ayam

Presentasi apik dengan taburan bawang goreng melimpah, didampingi olahan daging kambing dan rendang sapi yang gurih.

Ali Baba

Masakan Timur Tengah dan Shisha

Populer di kalangan anak muda sejak dibuka pertengahan 2008. Keunikannya terletak pada variasi shisha rasa Ice Cappuccino.

Mid East Restaurant

Nasi Briani, Kapsah, Mendi

Konsep homey dengan ruang privat dan kolam ikan. Menyajikan Teh Adeni yang kaya akan rempah penghangat tubuh.

Peran Empang sebagai pusat tradisional ini kemudian menjadi kompas bagi pergeseran tren kuliner Arab menuju wilayah dataran tinggi yang lebih komersial di kawasan Puncak.

Fenomena Warung Kaleng: Transformasi Sosio-Kuliner di Puncak dan Cisarua

Nasi biyani. (Sumber: Pexels | Foto: Julia Filirovska)

Melintasi jalur Cisarua, kita akan menemukan enklave budaya yang distingtif di Desa Sampay, Sindang Subur, dan Tugu Selatan. Kawasan yang dikenal dengan nama "Warung Kaleng" ini telah bermutasi menjadi "Kampung Arab" modern. Dominasi budaya ini begitu kuat sehingga papan nama toko dan petunjuk jalan ditulis dalam alfabet Arab, bahkan banyak penduduk lokal yang kini fasih berkomunikasi dalam bahasa Arab.

Dinamika kawasan ini sangat dipengaruhi oleh kunjungan musiman wisatawan Timur Tengah, terutama antara bulan Maret hingga Juni saat musim panas di negara asal mereka mencapai puncaknya. Kehadiran massal ini membawa dampak sosial yang kompleks, termasuk fenomena "kawin kontrak" atau nikah siri yang menjadi rahasia umum di wilayah tersebut.

Secara gastronomi, Puncak menawarkan spesialisasi yang mendalam. Restoran Ya Hala, yang berada di bawah manajemen yang sama dengan Restoran Hadramaut di Jakarta (est. 1998), menyajikan keautentikan melalui Chicken Mahmar dan Fattoush. Sementara itu, Royal Aljazeerah yang dibuka tahun 2012 memperkenalkan hidangan seperti Muttabal (pasta terong yang dicocol dengan roti Hobus) dan Laham Magalgal.

Bagi pencari kudapan ringan, Habibi Cafe mempopulerkan Roti Pisang Madu sebagai penyeimbang rasa rempah yang kuat. Popularitas Puncak ini pada akhirnya merambah ke pusat urban yang lebih progresif seperti Bandung.

Bandung: Modernitas dan Adaptasi Kuliner Timur Tengah di Paris van Java

Di Bandung, kuliner Arab mengalami rekontekstualisasi untuk memenuhi standar gaya hidup urban yang sadar kesehatan. Restoran Qahwa di Jalan Progo, yang mulai beroperasi pada November 2011, menjadi pelopor dalam strategi ini. Mereka tidak hanya menyasar pecinta kuliner umum, tetapi secara cerdas membidik segmentasi pasar calon jemaah umrah, haji, dan instansi pemerintah.

Standar kualitas yang diterapkan di Bandung sangat tinggi, terutama dalam pengolahan daging kambing. Mereka hanya menggunakan kambing muda di bawah usia 5 bulan. Untuk memastikan daging bebas dari "aroma prengus" yang tajam dan memiliki tekstur lembut, kambing yang telah dipotong digantung terbalik agar darahnya mengalir tuntas, serta diproses tanpa melalui pencucian air yang bisa merusak aroma alami daging.

Inovasi lainnya terlihat dari penggunaan beras Abukas yang rendah karbohidrat (sekitar 15%) dan sajian Smoothies Kurma sebagai minuman favorit yang segar. Secara estetika, interior restoran di Bandung seringkali dihiasi ornamen Pakistan yang eksklusif, dibuat langsung secara manual (hand-made) dari bulu domba, memberikan sentuhan kemewahan di tengah alunan pertunjukan belly dance yang memeriahkan suasana akhir pekan.

Sayangnya, sejak 31 Desember 2023 restoran ini tercatat tutup permanen di beberapa direktori peta. Belum ada informasi resmi mengenai pembukaan kembali atau kepindahan alamat baru.

Fakta Menarik dan Elemen Pendukung Kebudayaan Arab

Menikmati sajian Arab di Jawa Barat bukan cuma soal urusan lidah, melainkan sebuah pengalaman sensoris yang utuh. Di kawasan sejuk seperti Cisarua, kehangatan Teh Adeni—dengan racikan kapulaga, kayu manis, cengkih, dan susu—hadir sebagai penawar dingin. Suasana makin lengkap dengan riuhnya budaya shisha sebagai sarana bersosialisasi, yang kini ragam rasanya terus bertransformasi dari buah-buahan klasik hingga Bubble Gum dan Ice Cappuccino.

Nuansa khas Timur Tengah ini kian kental lewat arsitektur dan tata ruangnya. Gaya lesehan berpajang karpet tebal serta bantal penyangga punggung menghadirkan kenyamanan tersendiri. Bahkan, beberapa bangunan sengaja mengadopsi elemen estetika tenda haji, seperti atap putih ikonik pada Masjid Muqsith.

Di balik layar, keberadaan toko-toko seperti Toko Dini atau Abu Dawood menjadi urat nadi kehidupan komunitas ini. Dari beras Basmati, bumbu instan, hingga air zamzam dan madu impor, semuanya didatangkan langsung dari Timur Tengah. Bahan-bahan yang dulunya asing ini kini berakulturasi halus, bahkan menjelma jadi kebutuhan harian warga lokal.

Jejak kuliner Arab di Tatar Sunda pun sukses bermutasi—dari yang awalnya sekadar penawar rindu komunitas migran, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan kuliner Jawa Barat. Kuncinya ada pada fleksibilitas; menjaga autentisitas tradisi di koridor bersejarah seperti Cirebon dan Empang, sembari membuka diri pada adaptasi komersial yang dinamis di Puncak dan Bandung.

Pada akhirnya, kuliner membuktikan dirinya sebagai media asimilasi yang paling cair. Dari jejak sejarah Syarif Abdurrachman di Panjunan hingga gurihnya sate gate di Jalan Empang, ini adalah kisah tentang bagaimana satu kebudayaan bertahan dengan cara memperkaya kebudayaan lain. Di tengah gempuran modernisasi, merawat narasi dan kualitas rasa ini adalah modal utama agar warisan kuliner Arab di Jawa Barat terus hidup melintasi generasi. (*)

Referensi:

  • Ulung, Gagas dan Deerona. 2014. Jejak Kuliner Arab di Pulau Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam