Ayo Netizen

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Oleh: R.M.A. Ahmad Said Widodo
Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)

Bandung Raya, yang dikelilingi oleh pegunungan indah, menyimpan potensi bahaya geologi yang besar. Di balik pesona alamnya yang menakjubkan, terdapat ancaman nyata dari aktivitas vulkanik aktif. Letusan gunung berapi di wilayah ini dapat terjadi kapan saja. Hal tersebut berpotensi mengancam keselamatan jiwa dan merusak infrastruktur penting secara masif.

Keberadaan Gunung Tangkubanparahu dan sesar aktif menjadi sumber risiko utama bagi masyarakat. Sejarah mencatat bahwa aktivitas vulkanik di kawasan ini memiliki daya hancur yang sangat luar biasa. Masih banyak warga lokal maupun wisatawan yang belum sepenuhnya menyadari besarnya risiko bencana ini. Akibatnya, tingkat kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat masih tergolong sangat rendah.

Artikel ini hadir untuk mengupas tuntas karakteristik dan dampak ngeri dari ancaman vulkanik. Melalui pemahaman yang mendalam mengenai mitigasi bencana, kita dapat menekan risiko kerugian materiil. Mari kita tingkatkan kewaspadaan bersama demi keselamatan masa depan wilayah Bandung Raya. Selamat membaca dan mari peduli terhadap keselamatan lingkungan sekitar kita.

Bahaya Utama dari Letusan Gunung Berapi

Bahaya utama dari letusan gunung berapi dibagi menjadi 2 (dua) jenis berdasarkan waktu terjadinya, yaitu bahaya primer (langsung saat letusan) dan bahaya sekunder (setelah atau saat letusan akibat material luar).

Bahaya Primer (langsung saat letusan)

  1. lontaran material pijar, batuan pijar dan bom vulkanik yang dilontarkan secara eksplosif dari kawah dan membahayakan area di sekitar pusat aktivitas.
  2. awan panas (piroklastik), campuran material vulkanik (batuan, abu, lava) dan gas bersuhu sangat tinggi (300–700°C) yang mengalir menuruni lereng dengan kecepatan tinggi (>70 km/jam), sangat mematikan dan merusak apa saja yang dilewatinya.
  3. lava (leleran magma), magma cair bersuhu sangat tinggi yang keluar ke permukaan bumi, membakar dan merusak infrastruktur serta vegetasi di jalur alirannya.
  4. gas beracun, pelepasan gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO₂), hidrogen sulfida (H₂S) dan hidrogen klorida (HCl) dari dalam perut bumi yang dapat mengancam pernapasan.

Bahaya Sekunder (susulan/dampak lanjutan)

  1. hujan abu vulkanik pekat, material halus berukuran mikroskopis yang mengandung silika tajam. Abu ini dapat merusak atap bangunan, mencemari sumber air bersih, mengganggu pernapasan serta melumpuhkan jalur penerbangan
  2. banjir lahar dingin, campuran air hujan, abu dan material vulkanik di lereng yang mengalir deras menyusuri sungai-sungai, menghanyutkan jembatan, rumah dan fasilitas umum.
  3. tsunami dan longsor, letusan bawah laut atau runtuhnya tubuh gunung akibat aktivitas vulkanik dapat memicu gelombang tsunami atau longsoran puing besar.
  4. kelaparan dan lumpuhnya ekonomi, abu tebal yang menutupi ribuan hektar sawah merusak tanaman padi dan menyebabkan ancaman kelaparan serta krisis ekonomi jangka panjang bagi ratusan ribu pengungsi.

Sebagai contoh: tinggi kolom abu letusan Gunung Galunggung yang mencapai 31 hingga 35 kilometer menjadi ancaman mematikan bagi transportasi udara. Partikel mikro gelas vulkanik pada abu dapat meleleh di dalam mesin jet dan mematikan turbin seketika. Peristiwa terkenal terjadi saat pesawat British Airways Penerbangan 9 (1982) mengalami mati mesin total di udara setelah tidak sengaja menembus awan abu Galunggung, diikuti insiden serupa oleh Singapore Airlines.

Penyakit dan Gangguan Kesehatan Akibat dari Letusan Gunung Berapi

Penyakit utama akibat debu atau abu vulkanik meliputi gangguan pernapasan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), bronkitis, asma hingga silikosis dan iritasi mata.

Dampak Kontak Fisik Luar (paling cepat terjadi)

  1. konjungtivitis/iritasi mata, peradangan atau rasa perih dan merah pada mata karena gesekan partikel debu.
  2. iritasi kulit, kulit kemerahan, gatal atau dermatitis akibat kontak langsung dengan debu.

Gangguan Saluran Pernapasan Akut (jangka pendek)

  1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), penyakit paling umum akibat partikel debu halus yang masuk ke hidung dan tenggorokan.
  2. bronkitis akut, peradangan pada saluran bronkus yang membawa udara ke paru-paru.
  3. asma, penyakit saluran napas yang mudah kambuh atau memburuk saat menghirup debu vulkanik.

Penyakit Paru-Paru Kronis (paparan jangka panjang)

  1. silikosis, kerusakan paru-paru akibat paparan debu silika dalam jangka panjang.
  2. Pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis, penyakit paru akibat inhalasi debu vulkanik atau silika.

Pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis, adalah kata yang diciptakan oleh presiden National Puzzlers' League saat itu, Everett M. Smith, sebagai sinonim untuk penyakit yang dikenal sebagai silikosis. Ini adalah kata terpanjang dalam bahasa Inggris yang diterbitkan dalam kamus Oxford Dictionaries, yang mendefinisikannya sebagai "kata panjang buatan yang berarti penyakit paru-paru yang disebabkan oleh menghirup debu vulkanik yang sangat halus"

Silikosis adalah suatu bentuk penyakit paru akibat kerja yang disebabkan oleh menghirup debu silika kristalin atau abu silika dan ditandai dengan peradangan dan jaringan parut berupa lesi nodular di lobus atas paru-paru. Ini adalah jenis pneumokoniosis dan dikenal di Inggris sebagai paru-paru hitam. Kata pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis diciptakan pada 23 Februari 1935.

Pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis adalah kata terpanjang dalam bahasa Inggris. Kata tersebut dapat dianalisis seperti ini:

  1. Pneumono, dari Bahasa Yunani Kuno (pneúmōn) yang berarti paru-paru
  2. ultra, dari Bahasa Latin, yang berarti melampaui
  3. micro dan scopic, dari Bahasa Yunani Kuno, yang berarti tampak kecil, mengacu pada kehalusan partikel
  4. silico-, dari Bahasa Latin, silikon, mengacu pada debu silikat
  5. volcano, dari Bahasa Latin, mengacu pada debu vulkanik
  6. coni, dari Bahasa Yunani Kuno (kónis) yang berarti debu
  7. -osis, dari Bahasa Yunani Kuno, akhiran untuk menunjukkan kondisi medis

Daftar Nama Gunung Berapi di Jawa Barat dan Banten

Bandung Raya

  1. Gunung Malabar (2.343 mdpl) – stratovulkano, gunung berapi nonaktif/purba
  2. Gunung Patuha (2.434 mdpl) – stratovulkano, gunung berapi aktif/istirahat (Tipe B)
  3. Gunung Tangkubanparahu (2.084 mdpl) – stratovulkano, gunung berapi aktif (Tipe A)
  4. Gunung Wayang (2.198 mdpl) – kubah lava, gunung berapi aktif/istirahat (Tipe B)
  5. Gunung Windu (2.182 mdpl) – kubah lava, gunung berapi aktif/istirahat (Tipe B)

Di Luar Bandung Raya

Banten

  1. Gunung Karang (1.778 mdpl) – stratovulkano
  2. Gunung Krakatau (813 mdpl) – kaldera
  3. Gunung Pulosari (1.346 mdpl) – stratovulkano

Bogor – Cianjur - Sukabumi

  1. Gunung Gede (2.958 mdpl) – stratovulkano
  2. Gunung Kendang (2.608 mdpl) – stratovulkano
  3. Gunung Kiaraberes Gagak (1.511 mdpl) – stratovulkano
  4. Gunung Pangrango (3.019 mdpl) – stratovulkano non aktif
  5. Gunung Perbakti (1.699 mdpl) – stratovulkano
  6. Gunung Salak (2.211 mdpl) – stratovulkano

Garut

  1. Gunung Guntur (2.249 mdpl) – kompleks
  2. Gunung Kamojang (1.730 mdpl) – gunung berapi aktif/istirahat (Tipe B)
  3. Gunung Karahabodas (1.155 mdpl) – fumarol
  4. Gunung Talagabodas (2.201 mdpl) – stratovulkano

Tasikmalaya

  1. Gunung Galunggung (2.168 mdpl) – stratovulkano

Kuningan - Majalengka

  1. Gunung Ciremai (3.078 mdpl) – stratovulkano

Sumedang

  1. Gunung Tampomas (1.684 mdpl) – stratovulkano

Kesadaran dan kesiapsiagaan adalah kunci utama dalam menghadapi ancaman letusan gunung berapi di Bandung Raya. Kita tidak bisa memprediksi secara pasti kapan bencana besar akan melanda wilayah ini. Oleh karena itu, edukasi mengenai mitigasi harus terus digalakkan secara konsisten kepada seluruh lapisan masyarakat demi meminimalkan risiko korban jiwa.

Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk membangun sistem mitigasi yang tangguh. Penyediaan jalur evakuasi yang jelas serta simulasi bencana berkala merupakan langkah konkret yang harus segera dioptimalkan. Jangan sampai keindahan alam Bandung membuat kita terlena dan melupakan potensi bahaya yang mengintai di bawah permukaan bumi.

Mari jadikan pengetahuan dari artikel ini sebagai langkah awal untuk meningkatkan kewaspadaan bersama. Menjaga keselamatan diri dan keluarga adalah tanggung jawab kolektif yang tidak boleh diabaikan. Semoga Bandung Raya selalu aman, lestari dan warganya semakin siap menghadapi segala tantangan alam di masa depan yang tidak terduga. (*)

Reporter R.M.A. Ahmad Said Widodo
Editor Aris Abdulsalam