Ayo Netizen

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Oleh: Kin Sanubary
H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)

Ada masa ketika suara dari radio mampu membuat orang menghentikan sejenak aktivitasnya.

Pada era 1970-an hingga 1990-an, ketika televisi belum menjadi bagian dari setiap ruang keluarga dan internet masih jauh dari kehidupan sehari-hari, radio menjadi jendela imajinasi masyarakat. Sebuah radio transistor bisa dikerumuni beberapa orang. Mereka duduk berdekatan, menyimak dialog, tawa, suara langkah, bunyi senjata, hingga ketegangan sebuah cerita yang mengalun melalui gelombang udara.

Fenomena itu mengingatkan kita pada kedahsyatan Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita. Di Tatar Sunda, pengalaman serupa juga pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat melalui dongeng Sunda yang disiarkan radio.

Bedanya, panggungnya bukan studio televisi dan para tokohnya tidak terlihat secara kasatmata. Mereka hadir melalui suara. Justru karena hanya suara itulah, imajinasi pendengar berkembang sebebas-bebasnya.

Pada masa kejayaan dongeng Sunda melalui radio, setidaknya ada tiga nama pendongeng yang begitu dikenal dan memiliki tempat tersendiri di hati pendengar yaitu Drs. H. Ahmad Sutisna atau Wa Kepoh, Sobarna atau Mang Barna, dan H. Kuswadijaya atau Mang Jaya.

Mereka hadir dengan karakter suara, gaya bertutur, dan cara membangun suasana yang berbeda. Namun, ketiganya memiliki kesamaan yakni menjadikan bahasa Sunda sebagai kekuatan utama dalam menghidupkan cerita melalui radio.

Drs. H. Ahmad Sutisna, yang lebih dikenal dengan nama Wa Kepoh, lahir di Bandung, Jawa Barat, 15 Januari 1951 dan meninggal dunia pada 28 Desember 2013. Ia dikenal sebagai salah seorang seniman Sunda yang turut memberikan warna penting dalam perkembangan dongeng Sunda melalui media radio.

Kemampuan mendongengnya diperoleh secara otodidak. Dari pengalaman sebagai penyiar dan keterlibatannya dalam dunia radio, Wa Kepoh mengembangkan kemampuan membangun karakter suara, memainkan intonasi, serta menghidupkan suasana cerita.

Pada era 1980-an, ketika dongeng Sunda menjadi salah satu hiburan yang digemari masyarakat, namanya semakin dikenal. Salah satu cerita yang populer di kalangan pendengar adalah Si Rawing, karya Yat R., yang menghadirkan beragam tokoh seperti Si Rawing, Saraswati, Ki Debleng, Ki Gempar, Si Raja Pedang, Dewa Asmara, dan tokoh-tokoh lainnya.

Sementara itu, Sobarna atau Mang Barna bin Suwarman merupakan salah satu tokoh seniman Sunda yang dikenal melalui dongeng radio. Pada era 1970-an hingga 1980-an, dongeng Sunda Mang Barna dari Radio Lita menjadi perbincangan masyarakat di berbagai daerah Parahyangan.

Cerita yang dibawakannya memiliki beragam latar, mulai dari kisah sejarah, roman silat, horor, hingga cerita kehidupan. Salah satunya adalah Silalatu Gunung Salak, karya Aan Merdéka Permana. Melalui kepiawaiannya bertutur, Mang Barna turut menjadi jembatan dalam menjaga keberlangsungan bahasa dan tradisi lisan Sunda di tengah perkembangan media penyiaran.

Nama lainnya adalah H. Kuswadijaya atau Mang Jaya. Lahir di Kuningan, Jawa Barat, pada 1946, Mang Jaya dikenal sebagai tokoh yang turut berperan dalam melestarikan bahasa Sunda melalui dongeng yang disiarkan lewat radio.

Ia mulai mendongeng pada 1969–1974 di Radio Purnama Bandung. Namanya kemudian dikenal luas oleh pendengar Radio Linggarjati Kuningan. Dongeng Sunda yang dibawakannya menjadi hiburan ringan yang dinanti, terutama pada sore hari.

Bagi para pendengar, suara Mang Jaya bukan sekadar pengisi waktu. Dongeng menjadi teman, penghibur hati, sekaligus ruang untuk menikmati bahasa Sunda dalam bentuk yang akrab dan menyenangkan. Kini, Mang Jaya disebut masih aktif di Radio Rasilima FM.

Ketiga tokoh tersebut menjadi bagian dari satu zaman ketika radio bukan hanya sarana penyiaran, tetapi juga panggung kebudayaan. Melalui suara mereka, cerita-cerita Sunda masuk ke rumah-rumah, warung, tempat berkumpul, bahkan menjadi bahan pembicaraan masyarakat sehari-hari.

Di antara ketiganya, perjalanan Wa Kepoh memiliki kisah tersendiri.

Berawal dari Dunia Radio dan Elektronika

Wa Kepoh mulai mengenal dunia radio sejak masa kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Agama (STIA). Ketertarikannya terhadap dunia elektronika membuatnya aktif dalam organisasi radio komunikasi.

Kecintaan terhadap elektronika dan kebiasaannya berkomunikasi melalui udara kemudian menumbuhkan minat untuk menjadi penyiar. Pada 1978, ia mulai menekuni dunia penyiaran dan menjadi penyiar di sejumlah radio di Bandung, antara lain Radio Mandala dan Radio Sinta Bandung.

Beberapa tahun menjalani profesi sebagai penyiar, sekitar 1983 Wa Kepoh mulai melakukan refleksi terhadap kemampuannya. Ia merasa masih memiliki banyak hal yang harus dikembangkan.

Album rekaman sandiwara radio Wa Kepoh yang telah dikemas dalam bentuk kaset dan menjadi bagian dari dokumentasi perjalanan dongeng serta sandiwara radio Sunda. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)

Dari sinilah perjalanan Wa Kepoh tidak berhenti sebagai penyiar radio, selanjutnya merangkap juru dongeng dan mendapatkan kesuksesan.

Di samping menjadi penyiar di Radio Sinta, ia mulai mengembangkan berbagai kegiatan lain. Ia mengelola radio amatir sendiri dan terlibat dalam grup orkes dangdut. Di grup tersebut, selain menjadi pembawa acara atau MC, ia juga tampil sebagai penyanyi.

Dari hasil siaran dan berbagai pertunjukan itulah, perlahan ia membangun kemandirian di dunia penyiaran. Ia kemudian mendirikan Radio Suara Terunajaya Pameungpeuk, Garut Selatan, serta membeli Radio EMSA atau Manca Suara, yang sebelumnya dikenal sebagai Radio Volvo Bandung.

Pengalaman panjang di dunia radio itulah yang kemudian menjadi modal penting ketika Wa Kepoh semakin dikenal sebagai pendongeng Sunda.

Kekuatan utama dongeng radio terletak pada satu hal yaitu suara mampu menciptakan dunia yang tidak terlihat.

Pendengar tidak melihat wajah tokoh, tetapi dapat membayangkan bagaimana rupa mereka. Tidak ada gambar pertarungan, tetapi suara benturan senjata mampu membuat adegan seolah hadir di depan mata. Tidak ada latar pegunungan atau hutan, tetapi dialog, musik, dan efek suara dapat membawa pendengar memasuki tempat-tempat yang hanya ada dalam imajinasi.

Begitu pula dengan Si Rawing, karya Yat R., yang pada era 1980-an menjadi salah satu cerita yang dikenal luas oleh masyarakat Sunda.

Tokoh-tokohnya seperti Si Rawing, Saraswati, Ki Debleng, Ki Gempar, Si Raja Pedang, dan Dewa Asmara menjadi bagian dari ingatan para pendengar. Cerita berkembang melalui episode demi episode, membuat pendengar menunggu kelanjutan kisahnya.

Durasi sekitar 30 menit pun terasa singkat karena pendengar telah larut dalam jalan cerita.

Yang menarik, popularitas tokoh-tokoh tersebut tidak berhenti di dalam cerita. Nama tokoh dongeng bahkan terkadang digunakan sebagai julukan atau alias dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan betapa kuatnya daya hidup sebuah cerita yang disampaikan hanya melalui suara.

Popularitas Si Rawing kemudian juga melampaui medium radio. Cerita tersebut diangkat ke layar lebar dengan pemeran antara lain Barry Prima dan Yurike Prastika. Perjalanan dari radio menuju layar lebar memperlihatkan bagaimana sebuah cerita dapat berkembang setelah terlebih dahulu hidup dalam imajinasi masyarakat.

Masa kejayaan dongeng radio Sunda sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang hiburan.

Di balik cerita dan tokoh-tokohnya terdapat kehidupan sosial masyarakat pada zamannya. Ketika pilihan hiburan belum sebanyak sekarang, radio menjadi pusat perhatian bersama.

Satu pesawat radio bisa didengarkan oleh seluruh anggota keluarga. Tetangga dapat berkumpul. Anak-anak, orang tua, hingga orang-orang dewasa sama-sama menunggu cerita favorit mereka.

Setelah siaran berakhir, cerita kembali dibicarakan. Tokohnya diperbincangkan, alurnya ditebak, dan adegan tertentu diceritakan kembali kepada orang lain.

Dengan demikian, dongeng radio tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga menciptakan pengalaman bersama. Banyak orang mendengarkan cerita yang sama, pada waktu yang sama, melalui medium yang sama.

Dalam konteks kebudayaan Sunda, dongeng radio juga menjadi ruang penting bagi keberlangsungan bahasa. Ungkapan, humor, gaya dialog, peribahasa, serta cara bertutur Sunda hadir secara alami dalam kehidupan pendengar.

Radio pada akhirnya menjadi semacam panggung pertunjukan yang tidak membutuhkan gedung. Panggungnya adalah gelombang udara. Para pemainnya adalah suara. Dan penontonnya adalah jutaan imajinasi yang tersebar di rumah-rumah pendengar.

Zaman kemudian berubah.

Teknologi digital mengubah cara masyarakat menikmati cerita. Jika dahulu pendengar harus menunggu jadwal siaran, kini cerita dapat didengarkan kapan saja melalui berbagai platform digital. YouTube, media sosial, dan berbagai platform audio membuka ruang baru bagi lahirnya pendongeng dengan gaya dan pendekatan yang lebih beragam.

Namun, perubahan medium tidak serta-merta menghapus jejak para pendongeng radio generasi sebelumnya.

Justru dari mereka kita dapat melihat bahwa kekuatan sebuah cerita tidak selalu ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Suara, kemampuan bertutur, karakter tokoh, penghayatan, dan kekuatan imajinasi tetap menjadi inti dari sebuah dongeng.

Wa Kepoh adalah salah satu bagian dari perjalanan panjang tersebut.

Sebagai penghargaan atas kiprahnya di dunia penyiaran, Wa Kepoh memperoleh Lifetime Achievement Award VIII dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat pada 2015. Penghargaan tersebut diterima oleh pihak keluarga sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan dan kontribusinya di dunia penyiaran.

Kini Wa Kepoh telah tiada. Namun, jejak suaranya dan kiprahnya dalam dunia dongeng Sunda tetap menjadi bagian dari memori budaya masyarakat.

Ia bukan sekadar seorang penyiar atau pendongeng yang mengisi waktu siaran. Wa Kepoh adalah salah satu sosok yang ikut menyambungkan tradisi lisan Sunda dengan teknologi radio, membawa cerita dari mulut ke gelombang udara, lalu dari gelombang udara masuk ke ruang-ruang keluarga.

Bersama Mang Barna dan Mang Jaya, ia berada dalam satu generasi pendongeng yang menjadikan radio sebagai panggung kebudayaan.

Dan seperti Saur Sepuh yang pernah membuat pendengarnya terpaku menunggu kelanjutan cerita, dongeng Sunda di radio juga pernah menghadirkan kedahsyatan yang sama.

Sebuah suara mampu membuat satu keluarga berhenti sejenak.

Sebuah cerita mampu membuat satu kampung menunggu.

Dan dari suara yang mengalun melalui radio itulah, satu generasi belajar bahwa cerita tidak selalu membutuhkan gambar untuk menjadi hidup.

Cukup suara, imajinasi, dan cerita yang kuat, maka dunia pun terbuka. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam