PORTAL media lokal mewartakan sebuah truk boks bermuatan galon air mineral mengalami kecelakaan di Mekarwangi, Lembang, Bandung Barat, Sabtu (26/9/2026) malam lalu. Truk itu tidak sedang tersesat dalam arti klasik. Pengemudinya justru sedang mengikuti petunjuk yang dianggap paling dapat dipercaya pada zaman kiwari: Google Maps.
Sialnya, sang pengemudi rupanya tidak mengetahui bahwa rute yang dipilih akan membawanya ke jalan dengan kontur tanjakan ekstrem. Kendaraan kemudian kehilangan tenaga, mati mesin, mundur, dan menabrak dua kendaraan serta bagian bangunan rumah warga. Tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian ditaksir sekitar Rp150 juta.
Kejadian seperti itu menambah pajang kisah tentang Google Maps yang salah menunjukkan jalan. Tetapi, kalau kita ulik, persoalannya tidak sesederhana itu.
Menentukan posisi
Google Maps pada dasarnya adalah sistem navigasi. Ia membantu pengguna menentukan posisi, arah, rute, dan perkiraan perjalanan. Google sendiri menjelaskan bahwa Maps menyediakan petunjuk belokan demi belokan, informasi lalu lintas, pembaruan rute, serta beberapa pilihan untuk menghindari jalan tertentu.
Masalahnya muncul ketika sebuah jalan tidak lagi hanya dipandang sebagai garis yang menghubungkan titik A dan titik B. Bagi mobil kecil, sebuah ruas jalan mungkin biasa saja. Bagi truk yang membawa muatan berat, jalan yang sama dapat menjadi persoalan fisik. Tanjakan mengubah kebutuhan daya mesin. Berat kendaraan mempengaruhi percepatan dan kemampuan mempertahankan kecepatan. Panjang dan kemiringan tanjakan juga ikut menentukan.
Federal Highway Administration Amerika Serikat mencatat bahwa kendaraan berat pada umumnya bergerak lebih lambat di tanjakan karena karakteristik fisiknya, termasuk daya mesin dan berat kendaraan. Pada turunan, persoalannya berubah, di mana kendaraan harus mengendalikan tambahan gaya gravitasi dan mempertahankan kemampuan pengereman.
Dengan kata lain, sebuah rute memiliki dua paras. Ada paras geografis yang dapat dilihat oleh peta, dan ada paras fisik yang harus dihadapi kendaraan dan sang pengemudi. Peta mengetahui bahwa jalan itu ada. Kendaraan dan pengemudi harus membuktikan bahwa ia mampu melewatinya.
Maka, penting membedakan “jalan yang dapat dilalui” dengan “jalan yang sesuai untuk kendaraan tertentu.” Perbedaannya terdengar kecil, tetapi implikasinya bisa besar. Sepeda motor, sedan, minibus, bus, dan truk bermuatan tidak membawa kemampuan mekanis yang sama. Bahkan dua truk dengan dimensi serupa dapat memiliki kemampuan menanjak berbeda karena mesin, rasio transmisi, berat aktual, kondisi kendaraan, dan beban yang dibawa.
Persoalan keselamatan
Penelitian yang terbit dalam Case Studies on Transport Policy pada tahun 2022 bahkan secara khusus meneliti penggunaan Google Maps di Indonesia dengan pendekatan Failure Mode and Effects Analysis.
Penelitian itu menemukan persoalan keselamatan ketika informasi rute tidak mempertimbangkan aspek keselamatan jalan atau kesesuaian kondisi jalan dengan jenis kendaraan. Ini bukan berarti Google Maps otomatis menjadi penyebab setiap kecelakaan, tetapi menunjukkan adanya jarak antara fungsi navigasi dan penilaian keselamatan kendaraan di lapangan.
Menariknya, Google memang memiliki data mengenai pembatasan kendaraan berat. Dokumentasi untuk mitra data Google mencantumkan pembatasan berdasarkan tinggi, lebar, panjang, berat, jumlah sumbu, hingga kategori kendaraan tertentu.
Namun, dokumentasi yang sama juga menyebut bahwa pembatasan tersebut, pada saat ini, tidak ditampilkan pada peta. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata apakah informasi itu ada, melainkan bagaimana informasi tersebut digunakan dalam proses navigasi yang diterima pengemudi.
Google Maps juga telah memiliki pengaturan profil kendaraan tertentu. Pengguna dapat memilih jenis mesin, misalnya bensin, diesel, hibrida, atau listrik. Tetapi, fitur tersebut belum sama dengan memasukkan profil teknis sebuah truk secara lengkap, yang mencakup berat kendaraan dan muatan, panjang, lebar, tinggi, jumlah sumbu, atau kemampuan menanjaknya.
Karenanya, teknologi navigasi khusus kendaraan berat menjadi masuk akal untuk dikembangkan. Penelitian mengenai sistem navigasi truk dalam uji lapangan di Belanda menunjukkan bahwa ketika informasi mengenai pembatasan fisik dan legal kendaraan berat dimasukkan ke dalam sistem, pilihan rute truk dapat bergeser dari jalan-jalan kecil menuju jalan yang lebih sesuai untuk kendaraan besar.
Penelitian itu juga menemukan bahwa pengemudi tidak selalu mengikuti rute yang disarankan, sehingga keputusan manusia tetap menjadi bagian penting dalam sistem tersebut.
Tentu saja, tidak adil jika seluruh kesalahan dan kecelakaan terkait penggunaan Google Maps dilemparkan kepada algoritma. Kenapa? Karena Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih, apakah mesin kendaraan sedang prima, apakah pengemudi sudah mengenal medan, atau apakah ketika sampai di tanjakan kendaraan masih memiliki cadangan kemampuan untuk terus bergerak.
Karena itu, kalimat “saya mengikuti Google Maps” seharusnya tidak pernah menjadi akhir dari pertimbangan seorang pengemudi. Ia justru harus menjadi awal pertanyaan berikutnya, yakni “jalan seperti apa yang akan saya masuki dengan kendaraan yang saya bawa?”
Apalagi bagi pengemudi kendaraan berat yang memasuki wilayah berbukit-bukit. Teknologi dapat memberi arah, tetapi mata pengemudi tetap harus membaca realita jalan.
Jauh lebih cerdas
Suatu saat kelak, kita mungkin akan sampai pada tahap ketika alat navigasi menjadi jauh lebih cerdas. Aplikasi dapat langsung bertanya jenis kendaraan, berat aktual, dimensi, bahkan memperkirakan kemampuan kendaraan menghadapi tanjakan. Sistem kemudian tidak sekadar menawarkan rute tercepat, tetapi juga rute yang sesuai dengan karakter kendaraan.
Teknologi seperti itu bukan gagasan yang omon-omon. Dunia transportasi memang sudah lama mengembangkan sistem navigasi khusus truk karena kendaraan berat memiliki kebutuhan rute yang berbeda dari kendaraan penumpang.
Namun, sampai teknologi itu benar-benar siap dan dapat diandalkan, prinsip sederhananya tetap berlaku, yaitu alat navigasi digital macam Google Maps adalah alat bantu, bukan pengganti penilaian pengemudi.
Bahkan, jika suatu hari algoritma sudah jauh semakin pintar, keputusan terakhir tetap harus memperhitungkan kenyataan yang hanya bisa dilihat langsung ketika roda kendaraan benar-benar menyentuh aspal.
Kecelakaan-kecelakan yang terjadi karena pengemudi mengikuti arahan Google Maps akhirnya memberi pelajaran kepada kita bahwa kita saat ini sedang memasuki masa ketika semakin banyak keputusan perjalanan diserahkan kepada sistem digital.
Sejatinya, sistem navisgasi digital cukup membantu. Selain memberi akurasi, ia bisa membantu kita menghemat waktu.
Walau begitu, akurasi peta tidak sama dengan keselamatan perjalanan. Peta dapat menunjukkan dengan gampang ke mana kita harus mengambil rute. Tapi, untuk mengetahui apakah kendaraan kita benar-benar sanggup sampai ke lokasi yang ditunjukkan, tetap diperlukan peran manusia. Kita tetap perlu mengetahui kapan harus mengikuti petunjuk sistem digital dan kapan harus berkata, jalan ini bukan untuk kendaraan saya.***