Anak jalanan kumbang metropolitan
Selalu ramai dalam kesepian
Anak jalanan korban kemunafikan
Selalu kesepian di keramaian
Tiada tempat untuk mengadu
Tempat mencurahkan isi kalbu
Cinta kasih dari ayah dan ibu
Hanyalah peri yang palsu...
ANAK JALANAN, Ciptaan GURUH SP
Guruh Sukarno Putra atau Guruh SP meninggal dunia pada tanggal 26 September 2026 pukul 04.16 WIB setelah mengalami sakit dan dirawat di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Almarhum dimakamkan pada siang harinya, di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak dan berada satu area dengan makam ibunya, Fatmawati. Sepanjang kariernya di bidang seni, Guruh diakui sebagai salah satu seniman yang besar bukan karena sensasi. Ia merupakan seniman dengan reputasi internasional, yang beberapa kali memperoleh penghargaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Dalam petualangannya berkesenian, Guruh mendapatkan sejumlah penghargaan. Ia meraih Pencipta Lagu Pop Terbaik dalam Anugerah Musik Indonesia 1998, kemudian menerima Lifetime Achievement Award pada 2010. Pada 23 Maret 2011, bertepatan dengan peringatan Hari Musik Nasional, Guruh menerima Nugraha Bhakti Musik Indonesia dari Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI). Bahkan pada tahun 2008 namanya masuk dalam jajaran hebat The Immortals, 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa versi majalah musik Rolling Stone Indonesia.
Di antara putra-putri Soekarno, Guruh adalah sosok yang paling lekat dengan seni. Sejak muda, ia menekuni tari, musik, dan seni pertunjukan hingga melahirkan berbagai karya yang membekas pada dunia musik Indonesia. Pria kelahiran 13 Januari 1953 itu juga sempat mengarungi dunia politik. Ia tercatat sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur pada periode 1992-1997 melalui Partai Demokrasi Indonesia atau PDI, kemudian terpilih lagi menjadi anggota DPR RI dari PDI Perjuangan pada 1999-2024.
Sejak muda, Guruh dikenal dengan bakatnya di dunia seni, terutama seni tari dan seni musik. Ia mendirikan grup kesenian Swara Mahardika dan GSP Production. Ia juga mendirikan grup Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye. Berbagai lagu legendaris lahir dari tangan Guruh Soekarnoputra, seperti Kala Sang Surya Tenggelam, Melati Suci, Zamrud Khatulistiwa, Lenggang Puspita, Mahadaya Cinta, serta Galih dan Ratna.
Sepulangnya dari negeri Belanda tahun 1975, Guruh melakukan eksperimen musik perpaduan gamelan Bali dan musik Barat yang berujung pada rilisnya album musik Guruh Gipsy pada tahun 1976. Proyek musik inovatif ini didukung oleh berbagai musisi terkemuka, seperti Keenan Nasution, Chrisye, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman.Selain Guruh Gipsy, ia bersama para koleganya juga pernah mendirikan grup musik Gank Pegangsaan.
Kariernya makin melambung jauh saat lagu ciptaannya yang berjudul "Renjana" sukses memenangkan Festival Nasional Cipta Lagu Populer Indonesia, dan sekaligus mewakili Indonesia dalam ajang World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang. Guruh mencetak banyak karya lagu hits sepanjang kariernya, di antaranya "Galih dan Ratna", "Gita Cinta", "Anak Jalanan", "Lenggang Puspita", "Sendiri", dan "Marlina".
Di masa 1987, lagunya yang bertajuk "Kembalikan Bali Padaku" yang ditembangkan Jopie Latul berhasil memikat perhatian saat Festival Cipta Lagu Populer Indonesia dan kembali mewakili Indonesia dalam World Popular Song Festival di Tokyo. Selain mencipta lagu pop, Guruh juga sukses sebagai ilustrator musik untuk film layar lebar Ali Topan Anak Jalanan pada tahun 1977 serta Roman Picisan tahun 1980 bersama Candra darusman. Kemudian tahun 2023, lagu ciptaannya "Kala Sang Surya Tenggelam" kembali populer setelah menghiasi lagu di serial Gadis Kretek, dan tahun 2026, lagu "Kala Cinta Menggoda" menjadi lagu latar sinetron Cinta Seluas Samudra.
Kecintaan Guruh pada dunia kesenian juga ditunjukkan dengan mendirikan organisasi pemuda bernama Swara Maharddhika pada tanggal 27 Maret 1977. Organisasi ini berawal dari sebuah vokal grup tak bernama yang dilatih oleh Jhony Lantang, dan kemudian diubah oleh Guruh menjadi wadah kreativitas penggabungan tari tradisional dengan tari modern Barat. Melalui Swara Maharddhika, Guruh memprakarsai serta menyutradarai pergelaran seni berskala kolosal, di antaranya :
- Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra (PKC-GSP) I pada tahun 1979
- Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra (PKC-GSP) II bertajuk "Untukmu Indonesiaku" pada tahun 1980
- Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra (PKC-GSP) III bertajuk "Cinta Indonesia" pada tahun 1984
- Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra (PKC-GSP) IV bertajuk "Gilang Indonesia Gemilang" pada tahun 1986
Bagi kami yang tumbuh pada dekade tahun 1980-an karya-karya Guruh SP adalah karya yang megah dan penuh pesona. Lagu-lagu yang penuh dengan kata-kata indah atau puitis namun bisa didengar, dinikmati dan dicerna dengan seru di pendengaran para penikmat musik Indonesia. Lewat suara merdu Chrisye, Vina Panduwinata atau Tika Bisono dan Andi Meriem Mattallata diantaranya. Sejumlah lagu-lagu di atas selalu ramai menghiasi nuansa siaran radio swasta dan televisi meski yang ada hanya TVRI. Begitupun juga pementasan kolosalnya bersama Swara Maharddhika yang penuh dengan unsur-unsur etnik nusantara selalu dinanti para kawula muda saat itu khususnya Jakarta.
Matur Suksma Mas Guruh atas karya-karyanya .... (*)