Ayo Netizen

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Oleh: mufti wibowo
sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.

  • Judul Buku: Telunjuk dan Pelatuk
  • Penulis: Ikrom Rifa'i
  • Penerbit: Omera Pustaka
  • Jenis Karya: Kumpulan Cerpen / Sastra Sejarah

***

Hari terakhir di bulan September 2026 ini, saya tidak nonton film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, tetapi saya hadir dalam bedah buku Telunjuk dan Pelatuk di Fakultas Ilmu Budaya Unsoed. Berselang sehari, tepat sehari setelahnya, di mana jam kerja di semua instansi pemerintah mengawali hari dengan upacara memperingati Kesaktian Pancasila, saya mengkhatam keenam belas cerpen Ikrom dengan mata kuyu karena kantuk. 

Impresi pertama setelah menyelesaikannya adalah saya merasa seperti seorang bocah yang baru turun dari roller coaster, antusias, tapi juga agak mabuk. Ya, Ikrom membuat saya mabuk sejarah. Yang saya duga selanjutnya, Ikrom dalam menulis cerpen-cerpennya juga dalam keadaan mabuk. Lebih jauh, saya harus menaruh curiga, Ikrom ingin membuat pembaca mabuk bersamanya. Mabuknya saya bisakah disebut sebagai keberhasilan bertungkus lumus Ikrom dalam menulis atau malah sebaliknya? 

Umberto Eco pernah mengemukakan pendapatnya dalam melihat fiksi sejarah. Ia membagi cerita berlatar sejarah menjadi tiga jenis. Pertama, historical romance yang menjadikan masa lalu hanya dijadikan dekorasi atau latar belakang visual. Karakter dan jalannya cerita adalah rekaan murni yang bisa dipindahkan ke zaman apa saja tanpa mengubah inti cerita. Kedua, mantled novel yang menggunakan nama tokoh sejarah nyata dan peristiwa nyata, tetapi tindakan tokoh-tokoh tersebut “sering kali” didramatisasi secara berlebihan demi plot petualangan atau fantasi. Terakhir, historical novel yang memosisikan tokoh rekaan pada alur sejarah nyata, di mana seluruh tindakan, pola pikir, dan percakapan mereka terikat secara ketat oleh hukum sosial, budaya, dan intelektual zaman tersebut.

Telunjuk dan Pelatuk, untuk menyebut sebagian besar, dapat disebut sebagai cerpen dalam kategori ketiga yang sebut Eco. Ikrom menghadirkan tokoh fiktif yang ia pinjam dari latar belakangnya yang berdarah Jawa  dengan kultur agraris yang lekat dan reputasi akademik sebagai sarjana pendidikan untuk memotret dan memberikan perspektif lain dari narasi sejarah resmi Indonesia yang berkisar dari awal pendudukan Jepang hingga Orde Baru. 

Ikrom tampak bekerja sampai pada apa yang disebut Eco sebagai Gaps in History. JIka sejarawan mencatat apa yang terjadi. Ikrom mengisi celah yang tidak dapat dijelaskan data-data sehingga plotnya utuh dan logis, tentu secara imajinatif dan barang tentu indah dengan metafora halus. Bukankah, tugas penulis fiksi sejarah, sebagaimana  Ikrom, bukan mengubah fakta yang sudah terbukti, melainkan mengisi ruang kosong tersebut dengan imajinasi fiktif yang mungkin dan logis terjadi (?)

Bagi Eco, kesalahan terbesar seorang penulis novel sejarah adalah memasukkan cara pikir manusia “hari ini” (anachronism) ke dalam tubuh tokoh masa lalu. Ikrom tampak cukup pandai memahami persoalan ini.

Sedikitnya, pada cerpen “Bengkel Terakhir untuk Mir”, Puisitropika, dan “Di Kabupaten Tamala, Semua Orang telah Menjadi Gila”, Ikrom tergoda untuk keluar tadi lanskap sejarah yang menjadi landmark dalam Telunjuk dan Pelatuk. Ikrom sepertinya sadar, ia ingin keluar dari bayang-bayang lokalitas yang telanjur dipersonifikasi pada sosok Ahmad Tohari. Kebetulan, keduanya memiliki darah yang identik, darah Banyumas yang tanahnya subur karena memiliki Gunung Slamet dan merupakan bagian dari Lembah Serayu. 

Pada mulanya saya memaklumi bahwa Ikrom memang harus menggunakan logika patriarkhi untuk mebangun logika narator pada setiap cerpen dalam Telunjuk dan Pelatuk, kecuali untuk “Bengkel Terakhir untuk Mir”. Akan tetapi, tampaknya saya keliru. Ikrom hanya meminjam tokoh Mir sebagai narator tanpa memberi daya dan ruang perlawanan. Dan memang, Ikrom tidak sekalipun membuat tokoh-tokoh utama dalam ceritanya menjadi pemenang. Jangan-jangan Ikrom memang sedang merayakan kekalahan dan kepedihan mereka yang kalah dalam sejarah? Ikrom memang mabuk. Karena mabuk ia jadi gila. (*)

Reporter mufti wibowo
Editor Aris Abdulsalam