Ayo Netizen

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Oleh: Dias Ashari
Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Bandung, banjir, dan rutinitas tahunannya tentu bukan fenomena baru yang terjadi ketika hujan datang melanda. Beberapa ruas jalan di kota maupun kabupaten Bandung tak luput terendam genangan air. Jika mengingat beberapa tahun ke belakang saat saya masih duduk di bangku sekolah. Banjir hanya terjadi di daerah dayeuh kolot, Cibaduyut, pagarsih dan kopo. Namun menjelang tahun kawasan sawah berubah menjadi perumahan. Kawasan yang saya tempati di kawasan kabupaten pun akhirnya terkena dampaknya.

Puluhan hektar sawah berubah sekejap menjadi perumahan yang sangat besar. Secara ekonomi keberadaan perumahan yang murah memang menarik masyarakat kota untuk berpindah domisili tapi disisi lain ruang resapan untuk air hujan pun semakin menipis. Sehingga ketika sungai Citarum tidak bisa menampung lagi air hujan-- maka ia akan datang ke daratan dan merendam pemukiman warga.

Bandung dan banjir memang seolah tak pernah ada solusi pasti. Saat musim kemarau tiba tidak pernah ada benar-benar mitigasi bencana yang dilakukan baik oleh pemerintah setempat maupun oleh masyarakatnya. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, melemparkan sejumlah karungan sampah ke bantaran sungai citarum hingga membiarkan aliran-aliran yang dapat menyumbat air hujan tak kunjung dibersihkan.

Sehingga tiap hujan tiba beberapa daerah yang memang selalu mengalami banjir tahunan tetap akan mengalami hal yang sama. Rumah-rumah terendam, akses mobilitas terhambat hingga bisa dipastikan menyergap korban jiwa. Namun dibalik itu semua hal miris yang sangat mungkin terjadi dan tidak bisa dihindari adalah penambahan sejumlah titik banjir di kota Bandung.

Menurut saya memang perlu ada peran kolaborasi antara masyarakat dengan pemerintah yang bisa dilakukan untuk menata ulang kota Bandung. Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah yaitu membangun dan memelihara infrastruktur seperti memperbaiki drainase, mengoptimalkan fungsi kolam retensi, melakukan pengerukan sedimentasi pada sejumlah titik selokan. Selanjutnya adalah sistem pengelolaan sampah dan fasilitas yang memadai untuk pemilihan sampah.

Sementara untuk masyarakat tidak menjadikan sungai dan drainase sebagai tempat sampah yang bisa menyumbat segala saluran air. Masyarakat juga harus mengurangi pembuangan sampah plastik atau sekali pakai yang susah terurai.

Dan masyarakat juga harus ikut aktif dalam mitigasi bencana seperti menggiatkan kerja bakti untuk membersihkan selokan dari sedimentasi tanah dan tumpukan sampah plastik. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam