Ayo Netizen

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Oleh: Aldin Aldama Dosen Fikom Unisba
Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)

Masuknya bulan Oktober selalu ditandai dengan riuhnya kampanye global terkait Bulan Kesadaran Kesehatan Mental. Di era digital hari ini, momen ini dipenuhi oleh visualisasi kepedulian seperti infografis berwarna pastel tentang cara mengatasi kecemasan, video pendek yang mengekspos kerentanan emosional, hingga berseliwerannya istilah medis hasil self-diagnosis akibat algoritma For You Page (FYP). Media sosial memang berjasa meruntuhkan stigma. Namun, realitasnya, gempuran narasi kesehatan mental di internet yang sering kali performatif demi sebuah engagement justru memicu bentuk keletihan baru (digital burnout) bagi audiensnya.

Sinyal bahwa krisis kesehatan mental ini telah berada di tahap yang sangat darurat justru tertangkap di luar belantara media sosial. Indikator nyata ini terlihat saat media penyiaran konvensional, seperti Radio PRFM 107.5 FM Bandung, mengalokasikan durasi siaran untuk menyiarkan program interaktif seperti "Ruang Konseling". Melalui kacamata komunikasi, keterlibatan institusi penyiaran ini bukan sekadar urusan variasi program atau taktik bertahan hidup di era digital. Ini adalah sebuah pengakuan empiris bahwa angka stres, kecemasan, depresi, hingga kasus fatalitas psikologis di dunia nyata sudah begitu kritis, sehingga masyarakat membutuhkan ruang pertolongan pertama yang nyata di ranah publik.

Fenomena ini menarik dibedah menggunakan Teori Penggunaan dan Kepuasan Digital (Digital Uses and Gratifications). Di saat khalayak mulai mengalami disfungsi komunikasi di media sosial akibat maraknya misinformasi dan penghakiman netizen, masyarakat secara aktif mencari saluran alternatif yang sahih untuk memuaskan kebutuhan psikologis mereka. Radio hadir mengisi celah tersebut. Meskipun hari ini radio telah beradaptasi lewat siaran visual multiplatform (seperti live streaming di Instagram, Tiktok atau YouTube), kekuatan utamanya bukan terletak pada kemasan digitalnya, melainkan pada karakteristik komunikasi terapeutik yang dibawanya.

Ketika masyarakat menyaksikan interaksi langsung antara penyiar, pendengar yang menelepon/ berinteraksi, dan psikolog profesional di layar gawai mereka, yang disuguhkan bukanlah konten teks yang dingin atau video potongan yang estetik. Kehadiran radio ini memberikan "wajah" nyata pada empati. Melalui saluran telepon dan obrolan langsung, komunikasi ini membangun hubungan parasosial yang sehat, di mana penonton/ pendengar merasa tervalidasi emosinya tanpa perlu takut dihakimi secara sepihak oleh komentar anonim internet. Radio membawa akuntabilitas dan etika informasi yang sering kali hilang dalam riuhnya ekosistem gawai kita.

Baca Juga: Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Keterlibatan radio multiplatform dalam mengampanyekan kesehatan mental menegaskan bahwa krisis kejiwaan saat ini telah merambah lintas generasi, dari orang tua hingga puluhan ribu pelajar. Fakta bahwa sebuah stasiun radio merasa wajib turun tangan mengindikasikan kegagalan saluran komunikasi interpersonal di ranah domestik (seperti keluarga dan sekolah) dalam mendeteksi depresi lebih dini. Ketika birokrasi psikolog mahal dan akses penanganan rumit, radio bertransformasi menjadi "ambulan udara" sosial yang memotong semua jarak tersebut demi menyelamatkan warasnya warga.

Bulan kesehatan mental di Oktober ini mengingatkan kita bahwa pemulihan tidak akan ditemukan dari sekadar menyukai ribuan tips kesehatan mental di internet. Di tengah daruratnya kesehatan jiwa masyarakat, kehadiran saluran komunikasi radio yang terarah dan humanis adalah sebuah oase. Ini membuktikan bahwa teknologi boleh saja terus berkonvergensi, namun esensi merawat jiwa manusia akan selalu membutuhkan komunikasi yang bertanggung jawab, valid, dan saling mendengarkan secara mendalam. (*)

Reporter Aldin Aldama Dosen Fikom Unisba
Editor Aris Abdulsalam