DI jagat sepak bola Tanah Air, Persib adalah tim elite. Maung Bandung sudah berkali-kali juara. Bahkan, mencatat pula sejarah sebagai klub pertama di Indonesia yang meraih hattrick (tiga kali berturut-turut) juara di era modern Liga Indonesia.
Trofi juara pun dipajang. Suporter marahmay merayakan kemenangan, dan nama Persib semakin berkibar dan diperhitungkan, baik kancah sepak bola nasional, maupun regional Asia.
Namun, bagaimana dengan fasilitas untuk para pemainnya?
Thom Haye, baru-baru ini, melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Gelandang Persib berjuluk sang Profesor itu mengutarakan bahwa dirinya lebih memilih menjalani pemulihan di tempat milik Marc Klok ketimbang menggunakan fasilitas klub.
Tidak itu saja. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal, perjalanan yang melelahkan, dan minimnya perubahan dukungan manakala jumlah kompetisi yang dilakoni Pangeran Biru kian bertambah.
Bukan sekadar atlet
Dalam industri sepak bola modern, pemain bukanlah sekadar atlet yang mengejar kemenangan. Mereka juga menjadi bagian utama dari produk yang dijual kepada penonton, broadcaster, sponsor, dan mitra komersial.
Rumus bisnisnya: pertandingan menghasilkan perhatian publik, perhatian menghasilkan nilai ekonomi, dan nilai ekonomi ikut membentuk daya tarik klub.
Rumus bisnis seperti itu tidak dengan sendirinya bermasalah. Industri sepak bola membutuhkan pendapatan untuk membayar pemain, membangun fasilitas, dan menjaga kompetisi tetap berjalan.
Persoalan bisa muncul ketika upaya memperbesar produk komersial tidak dibarengi perhatian yang sebanding terhadap kondisi individu yang menghasilkan produk tersebut.
Penambahan kompetisi memperlihatkan persoalan itu dengan cukup jelas. Lebih banyak pertandingan dapat membuka peluang pendapatan, memperluas jangkauan merek klub, dan meningkatkan pengalaman bertanding pemain.
Namun, setiap pertandingan juga membutuhkan persiapan, perjalanan, tenaga, dan waktu pemulihan pemain. Dari kacamata bisnis, tambahan pertandingan mungkin terlihat sebagai peluang baru. Dari sudut pandang pemain, peluang yang sama bisa berarti waktu istirahat yang semakin sempit.
Kedua kepentingan itu tidak selalu bertentangan, tetapi keduanya juga tidak otomatis berjalan seimbang.
Karena itu, kritikan Haye sebaiknya tidak dipersempit menjadi perbandingan antara fasilitas Persib dan fasilitas milik Marc Klok. Namun, pengakuan bahwa seorang pemain merasa lebih terbantu oleh fasilitas di luar klub merupakan sinyal yang layak menjadi perhatian.
Maka, manajemen Persib perlu mengetahui ihwal kebutuhan seperti apa yang belum terpenuhi, apakah masalahnya terletak pada peralatan, tenaga profesional, prosedur, atau akses penggunaannya.
Modal penting tim
Pemain yang mampu tampil konsisten merupakan modal penting bagi tim di mana pun. Pemulihan yang baik tidak menjamin seorang pemain bebas cedera, tetapi pengelolaan beban yang masuk akal dapat membantu mengendalikan risiko dan menjaga kesiapan bertanding.
Maka, dalam hal ini, ukuran profesionalisme klub perlu pula diperluas. Jumlah trofi, kualitas skuad, dan hasil pertandingan tetap penting, tetapi semuanya belum cukup untuk menggambarkan mutu pengelolaan klub.
Klub juga perlu dinilai dari kemampuannya dalam merencanakan musim kompetisi, mengelola risiko kesehatan dan kebugaran pemain, menyediakan layanan pendukung, dan menyesuaikan sumber daya ketika beban kompetisi berubah.
Prestasi merupakan hasil yang terlihat. Adapun kualitas sistem adalah salah satu hal yang menentukan apakah prestasi dapat terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Klub yang berhasil bukan cuma klub yang mampu memenangi setiap laga, melainkan pula yang memiliki tata kelola apik dalam menjaga daya saingnya secara berkesinambungan.
Bagi manajemen Persib sendiri, langkah paling masuk akal bukan langsung menanggapi kritikan Haye dengan pembelaan atau janji muluk-muluk, melainkan mengevaluasi kebutuhan pemain secara terbuka dan terukur.
Manajemen dapat memetakan beban pertandingan, meninjau kualitas fasilitas dan layanan pemulihan bagi pemain, serta memastikan bahwa penambahan kompetisi diikuti perencanaan sumber daya yang sesuai.
Hasil evaluasi tidak harus diuar-uar ke publik, apalagi hanya sebagai bentuk pencitraan. Yang lebih penting ialah apakah pemain memperoleh dukungan yang mereka butuhkan dan apakah keputusan operasional klub menunjukkan perubahan nan nyata.
Baca Juga: Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa
Masukan berharga
Kritikan terbuka seperti yang dilontarkan Haye dapat menjadi masukan berharga untuk memperbaiki sistem, selama ditanggapi dengan data dan kesediaan untuk mendengar.
Persoalan yang disampaikan Haye sesungguhnya menggiring kita kembali pada persoalan ihwal arti keberhasilan dalam sepak bola profesional.
Jika klub menikmati manfaat dari prestasi pemain, maka menjaga kemampuan pemain untuk terus berprestasi semestinya menjadi bagian dari tanggung jawab klub.
Gelar juara membuktikan bahwa sebuah tim mampu berprestasi. Namun, kemampuan merawat pemain, mengelola risiko, dan menyediakan dukungan yang sepadan dengan tuntutan kompetisi menunjukkan apakah klub telah membangun fondasi yang cukup kuat untuk terus berprestasi dan meningkatkannya. (*)