Saat berada di kaki gunung, tampak kemegahan persawahan yang berundak-undak. Persawahan dengan petakan-petakan yang sempit, ada yang hanya setengah meter lebarnya, memanjang mengikuti garis ketinggian. Dilihat dari kejauhan, persawahan itu seperti tangga raksasa menuju gerbang hutan di lereng gunung. Persawahan berteras-teras itu merupakan jejak dari peristiwa alam, yaitu adanya peristiwa lahan, lemah, atau tanah yang neundeut, yang nendat (slumping) yang kemudian dikelola setelah lahannya menjadi relatif stabil. Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng. Material massa tanah yang menjadi longgar, kemudian merosot melalui bidang gelincir, mengikuti arah kemiringan lereng. Peristiwa alam nendatnya suatu kawasan, teramati atau bisa juga disaksikan oleh penduduk setempat. Kejadian alam itu telah menginspirasi untuk penamaan tempat. Dinamailah kawasan itu Lemahneundeut karena pernah terjadi peristiwa alam berupa lahan yang neundeut atau nendatan.
Jawa Barat, banyak sekali nama geografis Lemahneundeut. Sebagai contoh, di Kota Bandung, toponim Lemahneundeut ada di Cikutra, di Sukajadi, dan di Cicadas. Di Kabupaten Bandung ada di Cipelah, dan di Desa Sugihmukti. Lemahneundeut ada di Limusnunggal, Kabupaten Sukabumi. Ada di Campaka, Kabupaten Garut, ada di Desa Cimarias, Kabupaten Sumedang, di Pawindan, Kabupaten Ciamis, dan Lemahneundeut di Megamendung, Kabupaten Bogor.
Pergerakan masa tanahnya berupa blok atau bidang, sehingga bagian atas blok tanah yang merosot itu akan menghadap ke arah tebing asal di atasnya. Gawir utama di bagian puncak tebing yang ditinggalkan oleh bidang tanah yang merosot, akan berbentuk seperti tapal kuda. Jika masa yang bergerak itu terdiri dari beberapa blok atau bidang lahan, terjadinya relatif cepat, tiba-tiba, dan dalam jarak yang pendek-pendek, terputus-putus, ketika kekuatan daya tahan gesernya belum terlampaui. Akhirnya akan terbentuk struktur berundak, dan di bagian bawahnya, di kaki lereng, tanah atau batuan yang semula merupakan bagian atau blok tanah padat, karena tekanan yang kuat dari atas hingga kehilangan daya ikat masa tanahnya, kemudian berubah menjadi gundukan tanah yang menyebar.
Jejak adanya peristiwa alam nendatan itu membentuk undakan-undakan. Di bagian paling atas setiap undakan nendatan itu akan membentuk sedikit cekungan, yang kemudian diisi air. Keadaan ronabumi inilah yang oleh para petani dikelola menjadi sawah yang berteras-teras mengikuti jejak nendatan yang terputus-putus.
Lemahneundeut terjadi karena beberapa faktor. Misalnya karena terjadinya pelemahan di kaki lereng. Ini menjadi penyebab yang utama. Bisa terjadi karena dua sebab utama, yaitu karena sebab alami, yaitu karena terjadinya pengikisan atau erosi di tebing pinggir sungai. Runtuhnya lereng di tepi sungai itu akan menarik lereng bagian atas karena penopangnya hilang. Hal serupa terjadi juga karena sebab pengerjaan oleh manusia, yang memotong lereng tebing tegak lurus. Seperti banyak dilakukan pada saat membuat jalan dan memperluas lahan untuk perumahan, yang menyebabkan kesetimbangan lereng menjadi terganggu. Itulah sebab nendatan yang terjadi karena terjadinya gangguan kerusakan di bagian bawah, yang akan menarik bagian lereng di atasnya.
Bila kerusakan terjadi di bagian atas, keadaan lahan yang terbuka, misalnya, maka ketika hujan deras terjadi, air meteorik itu akan dengan cepat menyerap ke tanah yang gembur (permeable). Ikatan masa tanah yang sangat longgar itu akan berdampak sangat berat, bila air yang meresap sampai di lapisan di bawahnya yang berupa tanah liat, lempung, atau lanau, yang tak tembus air (impermeable). Air ini akan membuat tanah menjadi jenuh, air akan mengisi ruang antar pori tanah, menyebabkan daya ikat tanah, sehingga meningkatkan berat masa lereng, sekaligus menjadi pelumas batuan impermeable menjadi bidang gelincir yang akan mendorong masa lereng di bawahnya.
Bisa juga karena pembebanan di bagian puncak lereng yang dapat meningkatkan gaya dorong ke bawah. Pembebanan puncak yang melebihi kemampuan gaya tahan lereng, akan terjadi Gerakan mendorong bagian bawah, sehingga nendatan akan terjadi. Pembebanan puncak lereng itu dapat berlangsung secara alami maupun karena adanya pekerjaan manusia, seperti membangun yang melebihi kemampuan lereng untuk menahannya.
Nendatan akan terjadi bila ada guncangan gempabumi yang besar, yang dapat merusak ikatan antar partikel tanah atau batuan secara mendadak, yang dapat memicu runtuhnya lereng. Apalagi bila terjadi kerusakan di lereng bawah atau pembebanan yang berlebihan di bagian atas.
Baca Juga: Sangkanhurip, Mata Air Kehidupan yang Menguatkan Jiwa
Kenampakan rona bumi yang dapat diamati setelah terjadinya lemahneundeut atau nendatan adalah adanya pohon dan dinding bangunan yang miring, permukaan lereng yang asalnya rata menjadi patah-patah membentuk undakan atau terasering alami yang baru.
Pascanendatan ini, kadang ditandai dengan kemunculan mata air baru di bagian kaki nendatan. Hal ini terjadi karena air meteorik yang meresap di lapisan tanah gembur, terakumulasi di lapisan tanah atau batuan yang tak tertembus air, sekaligus menjadi bidang gelincir. Karena gaya gravitasi, air akan mengalir di bidang gelincir menuju kaki lereng yang lebih rendah, keluarlah menjadi mataair.
Ketika keadaan hutan di lereng-lereng bukit dan di lereng-lereng gunung sudah berganti menjadi kebun sayur, maka kejadian longsor, lemahneundeut, akan semakin mahabu, merajalela. Hanya saja peristiwa alam itu tidak ditandi dengan memberikan nama baru, menjadi Kampung Urug, misalnya, atau menjadi Kampung Lemahneundeut. (*)