Ayo Netizen

Solusi Bijak Menangani Lahan Gambut

Oleh: R.M.A. Ahmad Said Widodo
Hutan dan lahan gambut. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)

Lahan gambut adalah jenis lahan basah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik yang belum terurai sempurna selama ribuan tahun dalam kondisi basah dan asam.

Apa itu gambut? Gambut adalah tanah atau material organik berwarna hitam kecokelatan yang tersusun dari tumpukan sisa tumbuhan mati (seperti daun, ranting dan kayu) yang tertimbun di lingkungan jenuh air (anaerobik).

Siapa yang terpengaruh atau bergantung pada gambut? Masyarakat sekitar (seperti petani atau nelayan), satwa liar endemik (seperti orangutan dan berbagai jenis burung) dan komunitas global yang mendapatkan manfaat dari kestabilan iklim.

Di mana gambut ditemukan? Gambut tersebar di berbagai belahan dunia, dengan wilayah terluas di Indonesia berada di Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Papua,

Kapan gambut terbentuk? Gambut terbentuk secara perlahan dan terus-menerus selama ribuan tahun (proses pembentukan bisa bermula sejak 4.000 tahun lalu atau lebih).

Mengapa gambut sangat penting? Gambut berfungsi sebagai spons raksasa penahan air untuk mencegah banjir dan menjaga pasokan air serta menyimpan cadangan karbon dunia yang sangat besar (di Indonesia menyimpan puluhan gigaton karbon).

Bagaimana cara kerja dan ancaman pada gambut? Cara kerja gambut menyerap air hujan dan menahan karbon di dalam lapisannya yang basah. Ancaman jika gambut dikeringkan (drainase), dibuka untuk lahan atau terbakar, ia akan melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar dan rentan mengalami kebakaran bawah tanah (ground fire).

Situasi dan Kondisi Biologi, Fisika dan Kimia Lahan Gambut

Lahan gambut adalah ekosistem unik dan rapuh (fragile) yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa material organik yang terdekomposisi tidak sempurna. Secara ilmiah, situasi dan kondisi lahan gambut dibagi ke dalam 3 (tiga) karakteristik utama:

Karakteristik Biologi

Aktivitas biologi di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang jenuh air dan minim oksigen.

  • Kondisi anaerob (minim oksigen), karena lahan gambut alami selalu tergenang air, pasokan oksigen di dalam tanah menjadi sangat terbatas.
  • Aktivitas mikroorganisme lambat, keterbatasan oksigen dan tingginya keasaman menyebabkan mikroba pengurai (seperti bakteri dan jamur) bekerja sangat lambat. Hal inilah yang menyebabkan serasah tumbuhan tidak membusuk sempurna dan menumpuk menjadi lapisan gambut selama ribuan tahun.
  • Biodiversitas spesifik dan endemik, vegetasi dan satwa yang hidup di lahan gambut adalah spesies yang telah beradaptasi dengan lingkungan asam dan basah. Flora seperti pohon meranti, pulai, kantong semar dan fauna seperti orangutan, harimau Sumatera dan berbagai ikan air hitam menggantungkan hidupnya pada ekosistem ini.

Karakteristik Fisika

Kondisi fisik lahan gambut sangat berbeda dengan tanah mineral biasa karena strukturnya yang didominasi oleh bahan organik berpori.

  • Daya serap air yang luar biasa (seperti spons), gambut mampu menyerap dan menyimpan air hingga 100%–1.300% dari bobot keringnya. Karakteristik ini membuat lahan gambut berfungsi sebagai pengendali banjir saat musim hujan dan cadangan air saat musim kemarau.
  • Kerapatan isi (bulk density) yang rendah, tanah gambut sangat ringan dan gembur, dengan kerapatan isi berkisar antara 0,1 hingga 0,2 g/cm³. Hal ini menyebabkan daya dukung tanahnya rendah (rapuh).
  • Porositas sangat tinggi, ruang pori makro pada gambut berkisar antara 70%–90%, sehingga tanah ini dipenuhi oleh rongga udara atau air.
  • Kering tak balik (irreversible drying), jika lahan gambut dikeringkan secara berlebihan (melalui pembuatan kanalnya/drainase), gambut akan kehilangan kemampuannya untuk menyerap air kembali. Karakteristik fisik tanahnya akan berubah menjadi serbuk kering seperti arang yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
  • Penurunan permukaan tanah (subsidence), pengeringan gambut memicu penyusutan volume tanah secara konstan, menyebabkan permukaan tanah terus ambles dari tahun ke tahun.

Karakteristik Kimia

Kondisi kimia alami lahan gambut tropis umumnya tergolong marginal atau miskin unsur hara.

  • Tingkat keasaman (pH) sangat rendah, tanah gambut umumnya sangat asam dengan nilai pH (< 5).
  • Kandungan karbon organik melimpah, lahan gambut merupakan penyimpan karbon alami raksasa. Kandungan karbon organiknya berkisar antara 18%–60% dari bobot keringnya.
  • Miskin unsur hara (sangat tidak subur secara alami), kandungan unsur hara makro (seperti fosfor, kalium, kalsium, magnesium) dan unsur mikro (seperti tembaga, seng, mangan, besi) tergolong sangat rendah.
  • Kapasitas tukar kation (KTK) tinggi, kejenuhan basa (KB) rendah, meskipun tanah gambut memiliki kemampuan tinggi untuk mengikat kation (KTK tinggi akibat gugus fungsional organik), jumlah kation hara berharga yang siap diserap tanaman justru sangat sedikit (KB sangat rendah).
  • Tingginya asam organik beracun, lapisan pembusukan menghasilkan asam-asam fenolat terlarut yang dalam konsentrasi tinggi dapat menjadi racun bagi pertumbuhan akar tanaman tertentu.

Lahan Gambut di Seluruh Dunia

Berdasarkan data global (seperti Wetlands International dan kajian lingkungan internasional), pemeringkatan negara dengan luas lahan gambut di dunia didominasi oleh negara-negara dengan wilayah boreal/subarktik yang sangat luas dan beberapa negara tropis. Berikut adalah urutan negara dengan kepemilikan lahan gambut terluas di dunia:

  1. Rusia (~137,5 juta hektar hingga 150 juta hektar), memimpin peringkat dunia berkat wilayah Siberia yang luas seperti Great Vasyugan Mire.
  2. Kanada (~113,4 juta hektar hingga 170 juta hektar), memiliki ekosistem muskeg dan lahan gambut Utara yang sangat luas.
  3. Amerika Serikat (~22,4 juta hektar hingga 40 juta hektar), tersebar di wilayah utara dan Alaska.
  4. Indonesia (~13,43 juta hingga 18,5–20,6 juta hektar), merupakan negara pemilik lahan gambut tropis terluas di dunia yang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua.
  5. Brasil (memiliki cakupan gambut tropis yang signifikan di wilayah Amazon).
  6. Republik Demokratik Kongo (memiliki kompleks gambut tropis basin Kongo seperti Cuvette Centrale).
  7. Republik Rakyat Tiongkok (
  8. Finlandia (memiliki persentase dan luas gambut yang besar di kawasan Eropa Utara).
  9. Swedia (memiliki banyak wilayah mire dan taiga bergambut).
  10. Norwegia (atau Malaysia jika dihitung berdasarkan porsi signifikan gambut tropis di Asia Tenggara, seperti Sarawak dan Sabah).

Informasi Tambahan tentang Indonesia:

  • Lahan gambut di Indonesia tersebar di 3 (tiga) pulau utama: Sumatra (±5,8 juta ha), Kalimantan (±4,5 juta ha) dan Papua (±3 juta ha).
  • Secara spesifik untuk kategori lahan gambut tropis, Indonesia memegang posisi nomor satu secara global.

(Catatan: Angka pasti peringkat 5 hingga 10 dapat sedikit bervariasi tergantung pada metode perhitungan luas lahan basah dan definisi gambut yang digunakan oleh lembaga riset seperti FAO atau Wetlands International).

Solusi Bijak Menangani Lahan Gambut

Menyikapi dan mengelola lahan gambut secara bijak memerlukan pendekatan yang seimbang antara perlindungan ekologis dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Gambut adalah ekosistem rapuh yang menyimpan karbon dalam jumlah raksasa; kerusakan pada lahan gambut dapat memicu pelepasan emisi karbon secara masif dan menyebabkan kebakaran hutan yang parah. Berikut adalah langkah-langkah bijak dan strategis untuk menjaga kelestarian lahan gambut agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan:

Menjaga Hidrologi Gambut (Tetap Basah)

  • Hindari pembuatan kanal drainase; pengeringkan gambut untuk lahan pertanian konvensional adalah penyebab utama gambut rusak dan mudah terbakar.
  • Restorasi hidrologi (rewetting); melakukan pembasahan kembali lahan gambut yang telah telanjur kering dengan membangun sekat kanal (canal blocking) atau penimbunan kanal agar air permukaan gambut tetap tinggi.
  • Pengaturan tata kelola air (water management), mengatur debit dan tinggi muka air tanah gambut supaya tidak terlalu kering saat kemarau namun tidak menyebabkan banjir saat musim hujan.
  • Pengawasan dan penegakan hukum, memantau tinggi muka air, suhu tanah dan keasaman (pH) menggunakan perangkat pemantau serta menegakkan aturan terhadap aktivitas perusakan lingkungan.

Menerapkan Praktik Paludikultur (Pertanian Lahan Basah)

  • Budidaya tanaman ramah gambut; alihkan komoditas pertanian ke jenis tanaman yang dapat tumbuh subur di kondisi lahan basah/gambut alami tanpa perlu dikeringkan.
  • Pemadatan dan kultur teknis, melakukan pemadatan jalur tanam serta pemupukan yang sesuai jika lahan dimanfaatkan secara selektif.
  • Contoh komoditas: sagu, jelutung, purun, rotan dan beberapa jenis pohon buah lokal rawa gambut.

Menghentikan Praktik Pembakaran Lahan (Zero Burning)

  • Metode tanpa bakar; terapkan pembersihan atau penyiapan/pembukaan lahan sepenuhnya secara mekanis atau manual tanpa menggunakan api/tanpa bakar.
  • Sanksi tegas, melarang keras metode pembakaran untuk membersihkan lahan guna mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tegakkan aturan hukum bagi pihak-pihak yang sengaja membakar lahan gambut untuk pembukaan lahan perkebunan.

Zonasi dan Perlindungan Ketat

  • Pemetaan kubah gambut; lahan gambut dalam (biasanya dengan kedalaman lebih dari 3 meter atau area kubah gambut) harus ditetapkan sebagai zona konservasi mutlak yang tidak boleh diganggu.
  • Zona budidaya terbatas; hanya gambut dangkal yang boleh dimanfaatkan, itu pun dengan syarat ketat menjaga tinggi muka air tanah (minimal 40 cm di bawah permukaan tanah).

Pemberdayaan Masyarakat Lokal

  • Insentif ekonomi hijau; memberikan pelatihan dan dukungan modal bagi masyarakat sekitar hutan untuk mengelola gambut secara lestari (misalnya kerajinan anyaman purun atau budidaya madu hutan).
  • Masyarakat Peduli Api (MPA); melibatkan warga lokal dalam sistem deteksi dini dan pencegahan kebakaran hutan lahan gambut.
  • Kolaborasi multi-pihak, melibatkan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi dan masyarakat lokal sesuai arahan kebijakan seperti Rencana Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Gambut (RPPEG).

Pendekatan Berbasis Konservasi, Tata Kelola Air dan Partisipasi Masyarakat Untuk Mencegah Kebakaran serta Degradasi Ekosistem

Pengelolaan lahan gambut secara bijak memerlukan pendekatan yang berfokus pada prinsip konservasi, pengaturan tata air dan partisipasi masyarakat agar ekosistem tetap terjaga dari risiko kebakaran dan degradasi.

Prinsip Utama Pengelolaan Lahan Gambut (Konsep 3R)

Upaya pemulihan dan pengelolaan lahan gambut yang rusak umumnya mengacu pada prinsip 3R (rewetting, revegetasi dan revitalisasi ekonomi):

  • Rewetting (pasepatan/pembasahan kembali), menjaga ketinggian air dan kelembaban tanah gambut agar tidak kering, melalui pembangunan sekat kanal dan pemantauan permukaan air secara real-time.
  • Revegetasi (penanaman/penghijauan kembali), menanam kembali jenis/spesies vegetasi lokal atau tanaman adaptif yang sesuai dengan karakteristik lahan gambut untuk memulihkan fungsi ekologisnya. Menanam kembali area gambut yang telah rusak atau terbuka dengan pohon-pohon asli ekosistem gambut (seperti pohon ramin atau meranti rawa). Pemulihan fungsi kanopi; pohon-pohon baru akan membantu menjaga kelembapan tanah gambut dari paparan langsung sinar matahari.
  • Revitalisasi ekonomi, mengembangkan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat sekitar yang selaras dengan kelestarian gambut, seperti paludikultur (budidaya tanaman adaptif lahan basah).

Paludikultur

Paludikultur adalah metode budidaya tanaman di lahan rawa gambut secara produktif tanpa melakukan drainase (pengeringan) berlebihan, dengan cara mempertahankan atau membasahi kembali kondisi lahan agar tetap basah. Istilah ini berasal dari bahasa Latin palus yang berarti rawa.

Prinsip Utama

  • Tanpa pengeringan, lahan gambut tidak dikeringkan atau dibuat kanal pengering yang dapat merusak struktur tanah.
  • Pembasahan kembali (rewetting), mengembalikan atau menjaga tingkat air tanah agar gambut tetap basah.
  • Mitigasi iklim, mencegah lepasnya emisi gas rumah kaca dan karbon stok yang tersimpan di dalam gambut.
  • Pencegahan kebakaran, mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering terjadi pada gambut kering.

Contoh Komoditas Tanaman

  • Sagu, tanaman asli lahan basah yang sangat produktif dan cocok di ekosistem gambut.
  • Purun, jenis rumput-rumputan rawa yang sering dianyam menjadi kerajinan bernilai ekonomis tinggi.
  • Tanaman lokal lainnya, berbagai jenis palem, jelutung dan tanaman kayu/non-kayu yang toleran terhadap kondisi tergenang.

Tujuan dan Manfaat

  • Menjaga fungsi hidrologi dan keanekaragaman hayati ekosistem rawa gambut.
  • Memberikan sumber mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat lokal tanpa merusak lingkungan.
  • Mendukung restorasi lahan gambut melalui program lembaga terkait, seperti Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) yang berada langsung di bawah Presiden untuk mengelola dan mencegah kebakaran hutan serta lahan (Karhutla).
  • Restorasi Gambut: Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua.
  • Rehabilitasi Mangrove: Provinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua dan Papua Barat.

Baca Juga: Rp3 Miliar untuk Skatepark di Lapangan Teuku Umar: Siapa yang Diuntungkan, Warga atau Proyek?

Menjaga kelestarian lahan gambut bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan demi keberlangsungan bumi. Melalui penerapan solusi bijak seperti pembasahan kembali dan pengelolaan vegetasi asli, kita dapat menekan risiko bencana kabut asap dan pelepasan karbon secara signifikan. Langkah ini menjadi fondasi utama dalam menciptakan ekosistem yang seimbang dan lestari.

Keberhasilan upaya penyelamatan ini tentu membutuhkan komitmen kuat dari seluruh lapisan masyarakat. Sinergi antara kebijakan pemerintah yang tegas, dukungan riset akademis dan partisipasi aktif warga lokal sangat krusial. Ketika semua pihak bergerak selaras, pemulihan lahan gambut yang rusak bukan lagi sekadar impian, melainkan tujuan nyata yang bisa dicapai.

Pada akhirnya, masa depan lahan gambut berada di tangan kita hari ini. Investasi waktu, tenaga dan pikiran untuk merawatnya akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. Mari bersama-sama mengambil tindakan nyata demi menjaga paru-paru hijau ini tetap hidup, lestari dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi kehidupan. (*)

Reporter R.M.A. Ahmad Said Widodo
Editor Aris Abdulsalam