A
Eeeh… bapa, awi ngarambat
ngarambat mah ka kebon, kebon, bonteng
bapa te mah geuningan ulah rek lepat
ari kapincut mah eta kapincut ku jalan goreng
….
(Eeeh… bapak, bambu merambat
merambatnya ke kebun timun
bapak janganlah berlaku salah
tertarik oleh jalan buruk).
***
Lengkingan suara pesinden legendaris Titim Fatimah (1929 -1995) asal Jalancagak, Subang, sangat popular pada tahun 1950-1060-an. Pementasan wayang golek, akan menjadi tontonan yang menyedot penggemarnya bila ada Titim Fatimah. Keterkenalannya melintasi batas-batas regional. Sering diundang Presiden RI pertama, Soekarno. Apalagi diudarakan melalui RRI (Radio Republik Indonesia), hingga nama dan lagunya menjadi lagu yang paling banyak dinyanyikan walau pun hanya penggalannya. Seperti lagu Awi Ngarambat, banyak dinyanyikan oleh pesinden lain dengan sedikit perubahan pada liriknya. Satu dari sekian banyak lagu yang sangat populer adalah lagu berjudul Awi Ngarambat.
Lagu ini menjadi sangat populer, selain karena pesindennya Titim Fatimah, juga pendengarnya, para penggemarnya, merasa aneh ada bambu merambat segala, karena umumnya masyarakat hanya mengenal buluh bambu, bambu dengan batang-batang yang tegak tinggi, seperti bambu tali, bambu bitung, bambu haur, dan lain-lain.
Sedangkan awi ngarambat, bambu yang merambat, itu tidak banyak dikenal. Padahal, di Jawa Barat, seperti dinyanyikan pesinden Titim Fatimah, ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré. K Heyne (1927) menulis nama bambu ini awi cangkoréh (Dinochloa scandens).
Nama bambu merambat ini abadi menjadi nama geografis. Hal ini membuktikan, bahwa jenis bambu itu ada. Walau ada yang menyebut nama bambu ini awi cangkoréh, tapi tidak ada nama geografis Cangkoréh. Sebagai contoh, di Kabupaten Bandung, toponim Kampung Cangkoré ada di Desa Nangkakoneng, Kecamatan Cikidang. Di Kabupaten Sumedang, ada Cangkoré di Desa Genteng, Kecamatan Sukasari. Di Kabupaten Sukabumi, toponim Kampung Cicangkoré yang berada di Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak. Juga Kampung Cangkoré ada di Desa Sukarame, Kecamatan Cisolok. Dan Pasir Cangkoré ada di Desa Lembahsari, Kecamatan Cikalong Kulon. Di Kabupaten Majalengka ada Pasir Cangkoré di Desa Cintaasih, Kecamatan Cingambul. Di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, ada Kampung Cangkoré di Desa Rancaseneng, Kecamatan Cikeusik. Di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ada Kampung Cangkoré yang termasuk Desa Bantarpanjang, Kecamatan Cimanggu.
Jenis bambu awi cangkoréh atau awi cangkoré, tidak seperti bambu pada umumnya yang tumbuh tegak. Bambu jenis ini terkesan menjalar hingga tinggi, ada menyandar di pohon di dekatnya. Tinggi bambunya antara 15 meter sampai 30 meter. Namun ada juga yang tergeletak di tanah dengan batang yang berkeluk. Diameter bambu cangkoré antara 8 mm sampai 30 mm. Panjang daunnya antara 6 cm sampai 17 cm, yang pinggirnya bergerigi halus.
Rumpunnya terdiri dari batang yang berjumlah banyak. Awi ngarambat atau bambu merambat ini hidup di kawasan tropis, di hutan di perbukitan, di rimba basah, dan di pinggiran hutan. Tersebar di Pulau Jawa di ketinggian antara +200 m hingga +1.200 m.
Kelebihan awi ngarambat ini adalah Panjang, dengan kekuatannya yang sangat bagus. Bambu jenis ini oleh masyarakat lama banyak dijadikan boronjong (beronjong). Beronjong itu anyaman bambu dengan ukuran bilah yang lebar. Kalau menggunakan awi ngarambat, bambunya tidak dibelah, langsung dianyam jarang. Bentuknya seperti balok raksasa, dengan ukuran rata-rata 3 meter Panjang x 2 meter lebar x 1 meter tinggi. Beronjong ini dijadikan tempat atau wadah untuk menyusun batu-batu sebesar kelapa, menjadi konstruksi persegi memanjang yang kokoh. Di Jawa Barat, beronjong banyak digunakan dalam konstruksi di sungai, sebagai penahan arus sungai, atau penahan longsor. Masyarakat banyak menggunakan bambu ini untuk dijadikan tali pengikat pagar kebun dan keranjang hasil bumi berukuran besar.
Di beberapa daerah di Jawa Barat, masih ada penduduk yang masih mempraktekkan sampai sekarang, yang menggunakan air yang terdapat di dalam ruas batang antara 18 cm sampai 25 cm, menjadi tetes mata yang dipercaya dapat membersihkan dan menjernihkan mata. Air dari dalam awi cangkoré itu sebagai boorwater alami yang banyak. Selain air di dalam batangnya, rebungnya, setelah dibubuy (dibembam) dijadikan sayur sekaligus sebagai obat cacing.
Bambu Cangkoréh atau awi ngarambat seperti dinyanyikan oleh Titim Fatimah itu nyata adanya. Banyak manfaat dari jenis bambu ini. Sangat penting dan strategis artinya bila diupayakan terus, ditumbuhkembangkan, agar keragaman jenis bambu ini tidak jadi punah. Bila ada niat baik dari para pengelolanya untuk menanami kembali lahan-lahan hutan yang rusak dan sedang direstorasi, atau di arboretum, di taman hutan raya (tahura), dengan menanam salahsatunya bambu cangkoré di lereng-lerengnya yang curam dan di batas hutan, maka manfaat bagi alam dan manusia akan bertumbuh kembali. Semoga! (*)