Ayo Netizen

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Oleh: Djoko Subinarto
Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)

MASIH getol sepedaan atau lari-larian di Kota Bandung? Mungkin ada baiknya mempertimbangkan kembali aktivitas tersebut.

Pasalnya, kualitas udara di Kota Bandung ini tidak sebersih zaman baheula. Contohnya, indeks kualitas udara di ibukota Jawa Barat ini pada 30 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB tercatat mencapai 160 AQI US.

Angka tersebut masuk kategori tidak sehat. Di tengah udara seperti itu, seseorang yang keluar rumah untuk berlari atau bersepeda justru perlu mempertimbangkan risiko kesehatan yang bakal dihadapinya.

Data IQAir pada waktu pemantauan yang sama menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Kota Bandung mencapai 69 mikrogram per meter kubik. Angka ini sekitar 13,8 kali pedoman rata-rata tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5 mikrogram per meter kubik. 

Perbandingan tersebut memang tidak berarti konsentrasi harian sedang melampaui ambang tahunan dalam pengertian yang sama. Namun, ia cukup memberi gambaran betapa tingginya paparan partikulat halus saat pengukuran dilakukan. 

PM2.5 bukanlah debu biasa yang bisa dianggap selesai setelah seseorang mencuci muka atau membersihkan sepatu. Ukurannya sangat kecil, sekitar 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru.

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan. Saat berlari, mengayuh sepeda, atau berjalan cepat, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen. Frekuensi dan volume pernapasan meningkat. 

Akibatnya, udara yang masuk ke paru-paru juga lebih banyak dibandingkan ketika seseorang duduk santai. Nah, jika udara di sekitar kita mengandung PM2.5 dalam konsentrasi tinggi, jumlah partikel yang berpotensi terhirup pun dapat meningkat. 

Artinya, persoalannya bukan karena bersepeda atau berlari mendadak berubah menjadi kegiatan yang buruk bagi kesehatan. Yang berubah adalah lingkungan tempat aktivitas itu dilakukan. Tubuh sedang bekerja lebih keras, tetapi kualitas udara justru tidak bersahabat.

Dampak buruk polutan

Aktivitas fisik tetap memberikan manfaat besar bagi kesehatan jantung, pembuluh darah, metabolisme, dan kebugaran. Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan manfaat aktivitas fisik tetap dapat bertahan di tengah paparan polusi, meskipun besarnya manfaat dan risiko bergantung pada tingkat serta lamanya paparan. 

Namun demikian, manfaat olahraga tidak otomatis menghapus dampak buruk partikel polutan. Paparan PM2.5 berkaitan dengan peradangan, gangguan fungsi paru, peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Dengan kata lain, tubuh tidak bisa diajak bernegosiasi bahwa karena sedang berolahraga, semua partikel berbahaya boleh masuk tanpa konsekuensi.

Masalahnya juga tidak berhenti pada pelari yang sengaja mengitari taman atau pesepeda yang mencari rute menanjak, semisal ke arah Lembang atau Dago. Ada pula kelompok warga yang setiap hari melakukan aktivitas fisik di jalan karena tidak punya banyak pilihan: pekerja yang berjalan kaki, pedagang, petugas kebersihan, pengemudi sepeda, hingga kurir. Mereka tidak sedang mengejar catatan waktu atau mempersiapkan lomba lari atau lomba sepeda. Mereka sedang mencari nafkah dan menjalani kehidupan sehari-hari. 

Bagi kelompok seperti itu, saran untuk mengurangi aktivitas luar ruangan tidak selalu mudah diterapkan. Menghindari polusi mungkin terdengar sederhana bagi orang yang bisa bekerja dari dalam ruangan, tetapi menjadi persoalan pendapatan bagi mereka yang harus berada di jalan sejak pagi hingga sore, bahkan malam.

WHO sendiri menekankan bahwa manfaat aktivitas fisik tetap penting, bahkan ketika kualitas udara belum ideal. Sejumlah kajian menunjukkan manfaat jangka panjang olahraga pada umumnya masih lebih besar daripada risiko paparan polusi dalam banyak situasi. 

Namun, manfaat tersebut tidak membuat polusi menjadi tidak berbahaya. WHO juga mengingatkan bahwa peningkatan aktivitas fisik dapat meningkatkan jumlah polutan yang terhirup. Jadi, persoalannya bukan memilih antara paru-paru yang sehat atau tubuh yang bugar. Masyarakat membutuhkan keduanya.

Karena itu, kualitas udara seharusnya menjadi salah satu pertimbangan dalam perencanaan aktivitas fisik di perkotaan. Rute lari dan bersepeda yang melewati jalan padat kendaraan tentu memiliki karakter paparan berbeda dari jalur yang jauh dari sumber emisi. 

Maka, memindahkan waktu dan lokasi aktivitas bisa membantu mengurangi paparan, meskipun tidak menjamin udara di taman atau kawasan hijau selalu bersih. 

Polutan dapat berpindah mengikuti kondisi atmosfer, sementara beberapa kawasan yang tampak jauh dari kendaraan pun belum tentu bebas dari partikulat. Karenanya WHO menyarankan masyarakat mempertimbangkan waktu, lokasi, dan intensitas aktivitas berdasarkan informasi kualitas udara setempat.

Semacam kontradiksi

Selama ini, kampanye bersepeda dan berjalan kaki sering diperlakukan sebagai bagian dari solusi kemacetan dan polusi. Warga diminta meninggalkan kendaraan pribadi, tetapi belum tentu memperoleh jalur sepeda yang aman, trotoar yang layak, atau lingkungan dengan kualitas udara yang baik. 

Pesepeda juga masih harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor, menghirup asap knalpot, dan sesekali mengalah ketika ruang jalan semakin sempit. Ada semacam kontradiksi, di mana warga didorong menjadi bagian dari solusi lingkungan, tetapi fasilitas yang memungkinkan mereka melakukannya dengan aman belum selalu tersedia. 

Mengajak orang bersepeda atau berjalan kaki memang relatif mudah. Tapi, menyediakan kota yang ramah bagi pesepeda dan pejalan kaki rupanya membutuhkan pekerjaan yang jauh lebih serius.

Untuk mengatasi udara kotor, pemerintah juga tidak cukup hanya mengandalkan imbauan agar masyarakat memakai masker, menutup jendela, atau menyalakan air purifier.

Langkah perlindungan individual memang berguna, tetapi sifatnya lebih banyak mengurangi paparan setelah polusi telanjur ada. WHO bahkan menempatkan kebijakan pengurangan emisi sebagai intervensi yang lebih diutamakan dibandingkan sekadar meminta masyarakat melindungi diri. 

Artinya, perhatian semestinya tidak berhenti pada bagaimana warga menghindari udara kotor, tetapi juga bagaimana udara kotor itu dikurangi sejak dari sumbernya. Pengendalian emisi kendaraan, pengawasan sektor industri, penanganan pembakaran terbuka, dan pengelolaan debu jalan perlu menjadi bagian dari pekerjaan yang terukur. 

Jangan sampai urusan udara bersih berubah menjadi proyek belanja rumah tangga, di mana pemerintah sekadar mengeluarkan imbauan, sementara warga mengeluarkan uang untuk membeli penyaring udara.

Tidak adil

Tentu saja, tidak adil pula jika seluruh persoalan buruknya kualitas udara Bandung langsung ditimpakan kepada kendaraan bermotor. PM2.5 dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari pembakaran bahan bakar, kegiatan industri, pembakaran sampah, hingga debu dan proses atmosfer yang membentuk partikel sekunder. 

Kondisi cuaca, arah angin, kelembapan, dan karakter geografis wilayah juga dapat memengaruhi penyebaran serta penumpukan polutan. Data IQAir pada satu waktu tertentu memberi gambaran tentang kondisi udara ketika pengukuran dilakukan, tetapi belum cukup untuk menjelaskan seluruh sumber pencemar maupun kontribusi masing-masing sektor. 

Karena itu, pemerintah membutuhkan pemantauan yang konsisten, inventarisasi emisi, dan pengukuran di sejumlah titik. Tanpa data sumber yang memadai, kebijakan pengendalian polusi di Kota Bandung berisiko hanya menjadi daftar kegiatan yang terdengar meyakinkan, tetapi sulit diketahui hasilnya.

Persoalan lainnya adalah siapa yang paling mampu menghindari paparan udara kotor ini. Orang yang memiliki akses ke pusat kebugaran berpendingin udara mungkin masih bisa memindahkan jadwal olahraganya. Mereka yang memiliki kendaraan pribadi juga dapat memilih mengurangi waktu di jalan. 

Sebaliknya, pesepeda yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi harian, pekerja lapangan, pedagang asong, dan petugas kebersihan tidak punya keleluasaan serupa.

Bagi mereka, udara bersih bukan sekadar kebutuhan ketika berolahraga, melainkan kebutuhan selama bekerja dan mencari nafkah. Kebijakan kualitas udara yang hanya berisi imbauan individual berisiko mengabaikan kelompok yang paling sulit menghindari polusi. 

Perlu lebih cermat

Dalam konteks aktivitas fisik, bersepeda dan berlari tetap merupakan kebiasaan baik yang layak dipertahankan. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat perlu lebih cermat memilih waktu, lokasi, dan intensitas aktivitas, terutama kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi. 

Namun, tanggung jawab terbesar tidak semestinya berhenti pada kemampuan setiap orang membaca angka AQI di telepon genggamnya. 

Rasanya keterlaluan jika orang yang sudah bersusah payah menjaga kesehatan dengan bersepeda atau berlari setiap pagi masih harus bergantung pada aplikasi untuk mengetahui apakah udara yang dihirup aman bagi tubuhnya.

Alangkah sayang jika sampai niat ikhtiar menjaga kesehatan melalui olahraga justru dikalahkan oleh udara Kota Bandung yang diam-diam malah menggerogoti kesehatan. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam