AYOBANDUNG.ID -- Jumlah pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2025 tercatat mencapai 7,27 juta orang atau sekitar 4,76 persen dari total angkatan kerja menurut data Kementerian Ketenagakerjaan. Angka ini menunjukkan bahwa meski ada perbaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, tantangan dalam menyediakan lapangan kerja yang layak masih sangat besar.
Salah satu penyebab utama tingginya pengangguran adalah ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar. Fenomena skill mismatch ini membuat banyak lulusan pendidikan formal tidak mampu menembus dunia kerja karena keterampilan mereka tidak relevan dengan industri yang berkembang.
Sementara itu, sektor jasa teknis seperti perbaikan AC dan handphone justru tumbuh pesat dan membutuhkan tenaga terampil. Oleh karenanya, program pelatihan Service AC dan Handphone hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut.
Pelatihan ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu agar mereka memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. Dengan bekal keterampilan ini, peserta diharapkan mampu menembus pasar kerja atau bahkan membangun usaha mandiri.
Bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki akses pekerjaan, pelatihan ini menjadi pintu masuk untuk menyalakan harapan baru. Keterampilan yang diperoleh bukan hanya menambah peluang kerja, tetapi juga membuka jalan untuk usaha kecil yang bisa menopang ekonomi keluarga.
Program ini diikuti oleh 16 penerima manfaat, terdiri dari 4 peserta pelatihan Service AC dan 12 peserta pelatihan Service Handphone. Meski jumlahnya masih terbatas, setiap peserta membawa cerita tentang perjuangan dan harapan baru. Mereka adalah contoh nyata bagaimana pemberdayaan berbasis keterampilan mampu mengubah hidup.
Peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga praktik langsung, pendampingan, serta perlengkapan kerja sebagai modal usaha. Pendekatan ini memastikan mereka tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan siap terjun ke lapangan dengan bekal nyata. Dengan cara ini, pelatihan menjadi lebih relevan dan berdaya guna.
Sekadar informasi, industri jasa teknis dipilih karena kebutuhan akan tenaga perbaikan AC dan handphone terus meningkat. AC menjadi kebutuhan di rumah dan kantor, sementara handphone adalah perangkat yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ketika perangkat itu rusak, masyarakat membutuhkan solusi cepat, dan di situlah peluang usaha terbuka lebar.
Materi pelatihan mencakup troubleshooting, standar layanan, komunikasi pelanggan, hingga etika pelayanan. Kurikulum ini dirancang agar peserta tidak hanya menjadi teknisi, tetapi juga penyedia jasa yang profesional. Dengan keterampilan yang lengkap, mereka bisa bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Instruktur berpengalaman memastikan transfer pengetahuan berjalan efektif. Uji kompetensi menjadi tolok ukur kelulusan, sehingga peserta benar-benar siap bersaing di dunia kerja. Sistem ini memberi jaminan bahwa lulusan pelatihan memiliki kualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Kisah Muhammad Abdul Karim menjadi contoh nyata dampak program ini. Abdul Karim mengakui pelatihan ini membuka jalan baru baginya yang sebelumnya hanya bertahan dengan pekerjaan informal.
“Sehari-hari saya mengojek untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun penghasilan dari mengojek kini tidak bisa diandalkan. Karena itu saya mengikuti pelatihan ini agar punya keterampilan tambahan dan peluang pendapatan lain bagi keluarga,” tuturnya.
Senada dengan Abdul Karim, Mumtaz Al Fatih merasakan manfaat besar dari pelatihan Service Handphone. Mumtaz mengaku sangat bersemangat untuk memulai dari usaha kecil, lalu perlahan membangun kemandirian.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan keterampilan. Harapan saya, semoga ke depan bisa membuka usaha service HP, meskipun kecil-kecilan terlebih dahulu,” ungkapnya.
Potensi program ini sangat besar. Jika diperluas, ia bisa menjadi motor penggerak usaha mikro berbasis keterampilan teknis. Dengan semakin banyak masyarakat yang memiliki keterampilan, peluang usaha akan tumbuh, lapangan kerja baru tercipta, dan angka pengangguran bisa ditekan.
Namun, tantangan juga tidak kecil. Akses pendanaan, keberlanjutan pendampingan, dan kemampuan menembus pasar menjadi faktor penentu keberhasilan. Tanpa dukungan ekosistem usaha, peserta berisiko kembali ke pekerjaan informal. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi sangat penting.
Namun pelatihan semacam ini dapat menunjukkan bahwa solusi pengangguran tidak hanya terletak pada penciptaan lapangan kerja formal, tetapi juga pada pemberdayaan keterampilan praktis. Program ini menghadirkan strategi nyata membangun kemandirian ekonomi masyarakat, menjawab kebutuhan riil, dan menyalakan harapan baru bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.
Cerita Abdul Karim dan Mumtaz hanyalah dua dari sekian banyak kisah yang lahir dari program ini. Kisah-kisah itu menunjukkan bahwa angka pengangguran bukan sekadar statistik, melainkan wajah-wajah manusia yang membutuhkan peluang. Pelatihan keterampilan menjadi jembatan antara harapan dan kenyataan, antara mimpi dan usaha, antara keterbatasan dan kemandirian.
Alternatif kebutuhan sektor jasa teknis atau produk serupa: