AYOBANDUNG.ID – Di sudut ruang roastery-nya di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, Muchtar Koswara (Mang Eko) tidak hanya menjual kopi. Ia menjual edukasi dan kepercayaan. Kepercayaan bahwa biji kopi yang ia sangrai, kemas, dan ia kirim ke puluhan kafe di Bandung dan luar Bandung itu memang layak untuk pengalaman ngopi terbaik.
Bagaimanapun kepercayaan, dalam dunia bisnis, tidak hanya dibangun dari kualitas produk. Pun dibangun dari kelancaran transaksi. Dari kecepatan konfirmasi pembayaran. Dari kemudahan yang tidak menyita waktu. Baik waktu pedagang maupun pembeli.
Jadi, bagaimana sebuah roastery kopi di kompleks perumahan Bandung Timur bertransformasi secara diam-diam, bukan hanya lewat program inkubasi bisnis atau pameran internasional, melainkan juga dari cara paling sederhana yang menyentuh operasional sehari-hari yakni alat bayar? Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan.
3 Fitur dalam Satu Ekosistem
Mang Eko menggunakan tiga instrumen pembayaran digital dari BRI dalam kesehariannya: merchant QRIS, mesin EDC, dan aplikasi BRImo yang ia andalkan untuk pengelolaan keuangan.
Keputusan ini muncul dari kebutuhan riil seorang pelaku usaha yang bisnisnya bertumpu pada transaksi B2B (Business to Business), di mana nilai transaksi bisa jauh lebih besar dari sekadar secangkir kopi, dan kecepatan pencairan dana menunjang keberlangsungan usaha.
"Penggunaannya mudah, pencairannya cepat dibandingkan bank lain. Satu hari bisa tiga kali pencairan," ujar Mang Eko kepada ayobandung.id, pada 17 Mei 2026.
Tiga kali pencairan dalam sehari. Bagi usaha yang perputaran modalnya bergantung pada kecepatan arus kas (apalagi pasca-recovery pandemi seperti yang dialami Cikopi Mang Eko) angka itu menjadi napas. Rutinitas.
Untuk diingat: Mang Eko pernah berada di titik paling berat. Tahun 2021, ia dirawat sebulan penuh di ICU akibat COVID-19, tanpa asuransi, tanpa BPJS Kesehatan. Semua aset terkuras untuk biaya rumah sakit. Omzet yang sebelum pandemi mencapai Rp 3 miliar per tahun pernah jatuh ke Rp 300 juta. Tahun 2022, ia bahkan hampir menjual seluruh bisnisnya (toko online, media sosial, hingga peralatan) dengan harga Rp 2 miliar. Namun, beruntung baginya sekarang, kala itu ia tidak pernah menemukan pembeli dengan tawaran angka yang pas.
Dari lubang itu, Mang Eko bangkit. Dan ketika bangkit, ia butuh modal kerja yang bergerak cepat. Selain KUR BRI Rp 100 juta yang ia dapatkan pada 2023 untuk membeli bahan baku kopi berkualitas tinggi, pun butuh sistem pembayaran yang tidak membuatnya menunggu terlalu lama untuk mengakses uangnya sendiri. Baik baginya, kemudahan transaksi digital ini pun didapat dari bank yang sama.
Pun di Cikopi Mang Eko, pelanggan bukan hanya kafe-kafe yang datang secara rutin membeli 3 hingga 200 kilogram kopi per bulan. Ada juga pembeli retail yang datang langsung ke tokonya di Arcamanik, seperti pecinta kopi, mahasiswa yang belajar manual brew gratis di sana, atau pelanggan baru yang pertama kali mendengar namanya dari mulut ke mulut.
Untuk mereka, QRIS dan mesin EDC BRI menjadi jembatan transaksi yang paling praktis.
Mesin EDC+QRIS Dinamis milik BRI bukan perangkat biasa. Alat ini dapat menerima pembayaran menggunakan kartu debit, kartu kredit, kartu prepaid, sekaligus QRIS (semua dalam satu perangkat). Kompatibel dengan kartu Mastercard, Visa, GPN, hingga BRIZZI. Artinya, siapa pun yang datang ke Cikopi Mang Eko, dari pelanggan kafe yang membawa kartu debit BCA hingga pembeli yang lebih suka bayar lewat GoPay atau OVO, bisa terlayani tanpa hambatan.
Sejak 1 Desember 2024, BRI juga memberlakukan kebijakan MDR (Merchant Discount Rate) 0% untuk transaksi QRIS di bawah Rp500.000, lewat program QRIS UMI yang diperluas ke berbagai kategori usaha—dari mikro hingga menengah. Dalam empat bulan pertama program ini berjalan, lebih dari 150 ribu pengguna baru bergabung, membawa total pengguna BRI Merchant ke angka 270 ribu.
Dan angka itu terus tumbuh. Pada kuartal I 2026, BRI mencatat jumlah merchant aktif telah mencapai 323.700 dengan volume transaksi tumbuh 26,5% secara tahunan. Khusus QRIS, pertumbuhan bahkan lebih agresif: volume transaksi melonjak 76%, sementara jumlah transaksi meningkat 86,7% secara year-on-year menjadi 253 miliar transaksi hanya dalam tiga bulan pertama 2026.
Di tengah ledakan angka-angka itu, Mang Eko adalah satu dari ratusan ribu pelaku usaha yang menjadi denyut nadi ekosistem tersebut.

Harapan UMKM yang Terjawab
Saat ditanya soal inovasi apa yang ia harapkan dari QRIS & Mesin EDC dari BRI, Mang Eko menyebut satu hal spesifik: soundbox.
"Untuk inovasi, kalau bisa dibuatkan soundbox jadi ketika konsumen bayar akan ada konfirmasi suara langsung," ujarnya.
Harapan itu logis. Di toko yang sesibuk Cikopi Mang Eko (di mana pemiliknya sering mengobrol bersama tamu, mendampingi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, atau mengawasi proses roasting di ruang sebelah) sulit untuk terus memantau layar ponsel setiap kali ada transaksi masuk. Apalagi di tengah ramainya transaksi B2B, di mana satu konfirmasi pembayaran yang terlewat bisa berarti kopi dikirim tanpa kepastian dana diterima.
Mang Eko mungkin belum mengetahuinya, tapi BRI sebenarnya sudah punya jawabannya.
Aplikasi BRI merchant kini dilengkapi dengan fitur voice notification. Notifikasi suara yang secara otomatis menyebutkan nominal transaksi setiap kali pembayaran lewat QRIS atau EDC berhasil masuk. Merchant tidak perlu lagi mengecek layar, tidak perlu meminta pembeli menunjukkan bukti transfer, tidak perlu khawatir soal bukti pembayaran QRIS palsu yang selama ini menjadi keresahan banyak pedagang.
Fitur ini hadir tanpa biaya langganan tambahan dan tanpa memerlukan perangkat keras terpisah—cukup dari aplikasi BRI merchant di ponsel yang sudah ada. Sebuah solusi yang persis menjawab keresahan yang Mang Eko rasakan, bahkan sebelum ia sempat menyuarakannya secara formal.
Selain QRIS dan EDC, Mang Eko juga mengandalkan BRImo, super app perbankan BRI, untuk mengelola keuangan sehari-hari Cikopi Mang Eko.
"Aplikasinya sangat lengkap dan mudah untuk digunakan," katanya singkat.
Namun di balik kesederhanaan penilaian itu, tersimpan sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan seorang pengusaha yang sudah merasakan betapa mahalnya harga dari sistem yang tidak bisa diandalkan.
BRImo bukan sekadar aplikasi mobile banking. Ia adalah super app yang mengintegrasikan transfer, pembayaran tagihan, QRIS, pembelian produk digital, hingga fitur investasi dalam satu platform. Bagi Mang Eko yang mengelola bisnis sendirian, dari memantau pesanan kafe, mengatur stok biji kopi, hingga mengawasi arus kas, kemampuan untuk melakukan semua itu dari satu aplikasi bukan sekadar kenyamanan. Ia adalah efisiensi yang nyata.
Angka penggunanya berbicara sendiri. Hingga akhir 2025, BRImo telah digunakan oleh 45,9 juta pengguna aktif (tumbuh 18,9% dibanding tahun sebelumnya) dengan total nilai transaksi menembus Rp7.057 triliun sepanjang tahun. Pada Maret 2026, angka pengguna itu sudah menembus 47,8 juta, tumbuh 18,6% secara tahunan.
BRI membangun BRImo bukan sebagai aplikasi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai pusat dari ekosistem yang terhubung: dari ATM, mesin EDC merchant, QRIS BRI, hingga BRILink Agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam konteks Cikopi Mang Eko, ini berarti: QRIS yang ia gunakan untuk menerima pembayaran pelanggan, mesin EDC yang ia operasikan di kasir, dan BRImo yang ia buka setiap pagi untuk memeriksa mutasi rekening. Semuanya bekerja dalam satu sistem yang saling terhubung.

Digitalisasi yang Tidak Disadari
Ada hal menarik dari cara Mang Eko berbicara soal alat-alat digital yang ia gunakan. Ia tidak menyebutnya sebagai "transformasi digital". Ia tidak menggunakan kata-kata besar. Baginya, QRIS adalah "mudah". BRImo adalah "lengkap". EDC adalah "cepat cairnya".
Dan itulah, justru, tanda dari digitalisasi yang berhasil: ketika teknologi menjadi begitu menyatu dengan operasional sehari-hari, ia tidak lagi terasa seperti inovasi. Ia terasa seperti hal yang memang sudah seharusnya ada.
Mang Eko tidak pernah menyebut dirinya sebagai pelaku usaha yang melek digital. Ia lebih senang bicara tentang kopi (tentang karakter biji Malabar, tentang perbedaan proses wine dan natural, tentang bagaimana ia memilih green bean langsung dari kelompok tani di Puntang, Papandayan, dan Cikurai). Tapi tanpa disadari, ia menjalankan sebuah roastery B2B dengan lebih dari 50 kafe sebagai pelanggan tetap, produksi 1,2 hingga 1,86 ton per bulan, dan jalur ekspor ke Malaysia. Semuanya dengan infrastruktur digital yang terintegrasi rapi di punggungnya.
Ini selaras dengan apa yang dicatat dalam BRI Microfinance Outlook 2024: bahwa 90% pedagang di Indonesia kini telah mengadopsi pembayaran QRIS, dan bahwa UMKM berkontribusi 60% terhadap PDB nasional. Digitalisasi bukan lagi soal apakah, tapi soal seberapa dalam. (*)