Ayo Biz

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

Oleh: Aris Abdulsalam Kamis 21 Mei 2026, 15:38 WIB
Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID – Tak dapat dipungkiri, kemunculan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) membawa dampak positif secara nasional bagi kelancaran niaga di Indonesia. Di sudut roastery kopi di Arcamanik, Bandung Timur, Muchtar Koswara (yang akrab dipanggil Mang Eko) aktif memakainya. Di gang sempit Cicadas, Ani Andriyani sibuk memastikan puluhan driver ojek online yang antre di depan gerainya terlayani cepat, juga menggunakan merchant QRIS.

Dua pelaku usaha itu berjibaku dengan dua produk yang berbeda. Tetapi keduanya menjadi bukti hidup dari sebuah klaim yang kini makin sulit dibantah: bahwa QRIS bukan sekadar alat bayar. Menurut Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung (Region 9), QRIS adalah sesuatu yang jauh lebih strategis dari itu.

"QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional. QRIS bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga pintu masuk bagi inklusi keuangan UMKM ke layanan perbankan yang lebih luas, termasuk pembiayaan," ujar Dewi kepada Ayobandung.id (21/5/2026).

Cikopi Mang Eko dan Ani (Dimsum Inmons) mungkin tidak pernah menggunakan frasa seperti itu. Namun tanpa mereka sadari, merekalah yang sedang membuktikannya, dalam satu transaksi demi satu transaksi lainnya, setiap hari.

Ketika Teknologi Sudah Terasa seperti Hal Biasa

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Dari cara Mang Eko berbicara soal alat-alat digital yang ia gunakan sehari-hari,ia tidak menyebutnya sebagai "transformasi digital". Ia tidak menggunakan kata-kata teknis. Baginya, QRIS adalah "mudah". BRImo adalah "lengkap". Mesin EDC adalah "cepat cairnya".

"Penggunaannya mudah, pencairannya cepat dibandingkan bank lain. Satu hari bisa tiga kali pencairan," ujar Mang Eko, (17/5/2026).

Tiga kali pencairan dalam sehari. Bagi usaha yang perputaran modalnya bergantung pada kecepatan arus kas (apalagi setelah ia melewati titik paling berat dalam hidupnya) angka itu bukan sekadar fitur. Ia adalah napas.

Ekosistem digital yang ia pilih pun sederhana dalam tampilannya: merchant QRIS, mesin EDC, dan aplikasi BRImo. Tiga instrumen dari BRI yang bekerja dalam satu sistem terhubung. QRIS untuk menerima pembayaran pelanggan retail yang datang langsung ke tokonya. EDC untuk transaksi kafe-kafe B2B yang membeli 3 hingga 200 kilogram kopi per bulan. BRImo untuk memantau mutasi rekening setiap pagi.

Sederhana. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada sebuah roastery dengan lebih dari 50 kafe sebagai pelanggan tetap, produksi 1,2 hingga 1,86 ton kopi per bulan, dan jalur ekspor ke Malaysia.

Pun bagi Ani yang memulai Dimsum Inmons dari sebuah gang kecil di Cicadas. Hari-hari awal penuh dengan kekhawatiran yang terasa kecil tapi nyata: driver ojek online yang terlalu lama nongkrong antre di depan rumahnya karena proses transaksi yang lambat. Kini, di enam gerai aktif Dimsum Inmons, antrean itu mengalir rapi. Cashless, cepat, tercatat otomatis.

"Manfaat yang paling dirasakan adalah proses pembayaran menjadi lebih efisien, mengurangi penggunaan uang tunai, mempercepat antrean pelanggan, serta membantu pencatatan transaksi usaha menjadi lebih rapi dan transparan," tutur Ani, (19/5/2026).

Momentum itu yang membuat kebutuhan terhadap sistem transaksi lebih modern menjadi mendesak. Dan pilihan Ani jatuh pada merchant QRIS BRI sebagai tulang punggung seluruh gerainya.

"Kami memilih QRIS BRI karena proses transaksinya praktis, cepat, dan mudah digunakan baik oleh tim operasional maupun pelanggan. Selain itu, jaringan dan layanan BRI yang luas membuat kami merasa lebih nyaman dan terpercaya dalam mendukung transaksi usaha sehari-hari," jelas Ani.

Menariknya, Dimsum Inmons hingga kini belum menggunakan mesin EDC. Dan Ani tidak merasa itu sebagai kekurangan. Ssatu kode QR sudah cukup untuk menggerakkan roda bisnis enam gerainya dengan omzet tidak kurang dari Rp 350 juta per bulan.

Dua Jalan dalam Satu Ekosistem Perbankan

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Mang Eko dan Ani tiba di titik yang sama lewat jalan yang berbeda. Mang Eko masuk melalui kebutuhan arus kas yang kritis. Digitalisasi hadir bukan sebagai pilihan visioner, melainkan sebagai solusi pragmatis dari seseorang yang baru saja bangkit dari titik paling bawah. Ani masuk melalui komunitas dan pendampingan (dari Rumah BUMN ke BRIncubator) dan QRIS menjadi konsekuensi logis dari perjalanan itu.

Tapi hasilnya serupa. Keduanya kini menjalankan usaha dengan infrastruktur digital yang bekerja begitu mulus hingga tidak lagi terasa seperti "teknologi". Ia terasa seperti hal yang memang sudah seharusnya ada.

Posisi Ani bahkan unik: ia bukan hanya merchant pengguna QRIS, tapi juga konsumen aktifnya dalam kehidupan sehari-hari.

"Ya, secara personal saya juga menggunakan aplikasi BRImo dan cukup sering memanfaatkan fitur QRIS dalam aktivitas sehari-hari. Saya memilih BRImo karena aplikasinya praktis, mudah digunakan, dan membantu kebutuhan transaksi menjadi lebih cepat tanpa harus membawa uang tunai," ungkap Ani.

Mang Eko pun mengandalkan BRImo untuk hal serupa: mengelola keuangan harian dari satu aplikasi, mulai dari memantau pesanan kafe, mengatur stok, hingga mengawasi arus kas. 

"Aplikasinya sangat lengkap dan mudah untuk digunakan," katanya singkat.

Di balik kesederhanaan penilaian itu tersimpan sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan seorang pengusaha yang tahu betul harga dari sistem yang tidak bisa diandalkan. Dan apa yang mereka rasakan itu sejalan persis dengan yang dicatat Dewi Hestiningrum dari sisi institusi.

"BRImo saat ini menjadi bagian dari gaya hidup nasabah kami. Nasabah kini dapat mengelola keuangan, membayar tagihan, membeli produk asuransi, hingga berinvestasi — seluruhnya dalam satu genggaman, 24 jam tanpa henti. BRImo bukan sekadar aplikasi mobile banking, tetapi telah menjadi gerbang utama interaksi nasabah dengan BRI," ujar Dewi.

***

Kedua kisah ini memperlihatkan sesuatu yang jarang masuk dalam laporan atau siaran pers tentang digitalisasi UMKM: bahwa transformasi paling nyata tidak selalu datang dalam bentuk program besar atau investasi teknologi mahal.

Ia datang dalam bentuk notifikasi suara ketika pembayaran masuk. Dalam bentuk pencairan dana tiga kali sehari. Dalam bentuk antrean ojek yang mengalir rapi karena tidak ada lagi hitung-hitungan uang kembalian.

Mang Eko bahkan pernah menyuarakan harapan agar ada soundbox (alat yang mengonfirmasi pembayaran lewat suara) agar ia tidak perlu terus memantau layar ponsel di tengah kesibukan roasting. Ia mungkin belum mengetahuinya, tapi BRI sudah punya jawabannya: fitur voice notification di aplikasi BRI merchant, yang hadir tanpa biaya tambahan dan tanpa perangkat keras terpisah.

Angka-angka di balik ekosistem ini pun berbicara sendiri. Pada kuartal I 2026, BRI mencatat merchant aktif mencapai 323.700 dengan volume transaksi tumbuh 26,5% secara tahunan. Khusus QRIS, volume transaksi melonjak 76% dan jumlah transaksi meningkat 86,7% secara year-on-year menjadi 253 miliar transaksi hanya dalam tiga bulan pertama 2026.

Tapi pertumbuhan angka itu bukan tanpa tantangan. Dewi mengakui bahwa transformasi digital perbankan menyimpan dua sisi yang harus dijaga sekaligus.

"Tantangan terbesarnya ada dua hal yang saling berkaitan. Pertama, menjaga keseimbangan antara akselerasi teknologi dan tingkat literasi digital masyarakat. Jika teknologi melaju jauh lebih cepat dari kesiapan pengguna, maka risiko eksklusi justru meningkat. Kedua, memitigasi risiko keamanan siber yang terus berkembang, termasuk modus social engineering yang semakin canggih," ujar Dewi.

Karena itulah, bagi BRI, QRIS tidak pernah berdiri sendiri. Ini merupakan pintu masuk— bukan titik akhir—menuju ekosistem yang lebih luas: dari pencatatan transaksi yang rapi, ke rekam jejak keuangan yang terbangun, ke akses pembiayaan yang semakin mudah dijangkau.

Dimsum Inmons sudah merasakannya. Cikopi Mang Eko sudah membuktikannya. Dan keduanya punya harapan yang searah untuk perjalanan ke depan.

"Ke depannya, kami berharap inovasi digital dari BRI terus berkembang, khususnya dalam mendukung UMKM agar semakin mudah mengelola transaksi, laporan penjualan, hingga integrasi dengan sistem bisnis yang lebih modern," ujar Ani.

Sementara Mang Eko, dari roastery-nya di Arcamanik, terus menyangrai biji kopi dari Puntang, Papandayan, dan Cikurai; dan mengirimkannya ke kafe-kafe di Bandung, ke luar kota, bahkan ke Malaysia. Dengan infrastruktur digital di punggungnya yang bekerja begitu senyap, hingga ia tidak pernah merasa perlu menyebutnya sebagai "transformasi".

Baginya, itu hanya cara kerja yang normal; dan itulah, justru, tanda bahwa digitalisasi telah benar-benar berhasil. (*)

Reporter Aris Abdulsalam
Editor Aris Abdulsalam