AYOBANDUNG.ID – Siang itu (5/6/2026), seorang kurir ojek online berhenti sejenak di depan kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. Tanpa banyak kata, ia mengangkat ponsel, mengarahkan kamera ke selembar kode yang tertempel di etalase kuning menyala, dan dalam hitungan detik transaksi selesai. Tidak ada uang yang berpindah tangan. Pesanan dikonfirmasi, kurir berlalu.
Pemandangan semacam itu kini sudah jadi ritme harian UMKM di berbagai kota, termasuk di Bandung khususnya untuk KebabFactory.id. Rutinitas yang mencerminkan bagaimana digitalisasi perbankan, telah menjadi tulang punggung operasional usaha kecil modern.
Meski demikian, Widya Ratna Puspita, pemilik Kebab Factory, tidak pernah menyebut dirinya sebagai "pelaku usaha yang melek digital". Mungkin karena sekarang telah jadi kondisi lumrah, ketika seluruh ekosistem transaksi usaha berjalan di atas sistem digital. Dari pembayaran pelanggan di ketiga store-nya, pemantauan keuangan harian, hingga transfer gaji dua belas karyawannya setiap bulan.
"Saya pilih merchant QRIS Bank BRI karena simpel. Tidak perlu mesin, tidak perlu kabel, tidak takut rusak. Tempel kode, pelanggan scan, selesai. Apalagi yang pesan lewat ojek online juga bayarnya pakai QRIS, jadi satu sistem buat semua," ujar Widya.
Alasan Widya terdengar membumi, jauh dari bahasa promosi teknologi. Baginya, QRIS statis BRI yang ia gunakan adalah jenis yang paling ideal untuk skala UMKM. Kode QR permanen yang bisa dicetak, pelanggan memasukkan nominal sendiri, dana langsung masuk ke rekening. Tanpa biaya perangkat, maka tidak ada ketergantungan pada koneksi mesin tambahan.
Pilihan Widya ternyata sejalan dengan tren besar yang sedang berlangsung di tingkat nasional. Berdasarkan data Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), per akhir 2025 jumlah merchant QRIS di Indonesia telah mencapai 43 juta dengan sekitar 60 juta pengguna aktif. Total volume transaksi QRIS sepanjang 2025 mencapai 15,51 miliar transaksi, tumbuh 148,54% secara tahunan, dengan total nilai transaksi Rp1.420,66 triliun, naik 115,3% dibanding tahun sebelumnya.
Khusus untuk BRI, pertumbuhan QRIS-nya bahkan melampaui rata-rata industri. Per akhir 2025, sales volume QRIS BRI menembus Rp85,6 triliun, tumbuh 100% secara tahunan, sementara jumlah transaksinya mencapai lebih dari 782,8 miliar, naik 127,5% dibanding tahun sebelumnya.
Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung, menegaskan bahwa angka-angka tersebut bukan sekadar indikator pertumbuhan bisnis, melainkan cerminan dari perubahan perilaku ekonomi yang lebih dalam.
"QRIS membuat transaksi mikro menjadi cepat, transparan, dan efisien, sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku UMKM untuk mencatat omzet secara digital. Bagi BRI, QRIS bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga pintu masuk bagi inklusi keuangan UMKM ke layanan perbankan yang lebih luas, termasuk pembiayaan," ujarnya.
Pernyataan Dewi ini relevan langsung dengan posisi Kebab Factory bahwa rekam jejak transaksi digital yang terbangun dari penggunaan QRIS sehari-hari, dalam jangka panjang, bisa menjadi salah satu landasan bagi Widya untuk mengakses layanan perbankan yang lebih luas, termasuk pembiayaan ekspansi yang mungkin ia butuhkan untuk mewujudkan ambisi membangun "pabrik kebab" yang sudah lama ia impikan.
Di balik kepuasannya menggunakan QRIS, Widya mengaku punya satu harapan kecil yang terdengar sederhana.
"Kalau satu hal yang saya mau, notifikasinya lebih seru. Setiap ada transaksi masuk, rasanya ingin dengar bunyi yang bikin semangat, bukan sekadar 'notifikasi biasa’. Mungkin kecil ya dampaknya, tapi kalau lagi ramai pesanan, bunyi notifikasi itu jadi salah satu yang bikin happy," kata Widya sambil tertawa.
Harapan ini mungkin terdengar sepele. Tetapi bagi pelaku usaha yang memantau arus transaksi dari balik dapur produksi, notifikasi pembayaran bukan sekadar tanda masuknya uang, melainkan konfirmasi bahwa usahanya berjalan baik.
Masukan seperti ini justru menggambarkan sesuatu yang penting bahwa pelaku UMKM bukan pengguna pasif teknologi perbankan. Mereka punya perspektif, harapan, dan kebutuhan spesifik yang lahir dari penggunaan sehari-hari; dan suara mereka relevan sebagai masukan bagi pengembangan layanan ke depan.
Aplikasi yang Tumbuh Bersama Perjalanannya

Jika QRIS adalah wajah digitalnya di hadapan pelanggan, maka BRImo adalah ruang kendali Widya dari balik layar. Tapi hubungan Widya dengan BRI, dan dengan BRImo, bukan sesuatu yang dimulai ketika ia menjadi pengusaha.
"Saya sudah terbiasa dengan BRI dari dulu, sejak masih kerja di bank. Jadi waktu punya usaha sendiri, ya BRImo yang saya pakai. Sudah familiar, mudah digunakan, dan semua keperluan usaha bisa dikelola dari satu aplikasi," jelas Widya.
Widya bukan tipikal pengguna yang "dipaksa" beradaptasi dengan teknologi baru. Ekosistem BRI sudah ia kenal sejak bertahun-tahun sebelum mendirikan KebabFactory.id. Kepercayaan itu tumbuh organik, bukan karena dorongan iklan atau program loyalitas.
Kepercayaan serupa rupanya dialami oleh puluhan juta pengguna lain. Hingga Triwulan I 2026, pengguna aktif BRImo telah mencapai 47,8 juta user, dengan total volume transaksi mencapai Rp2.042,2 triliun, tumbuh 29,4% secara tahunan. Per akhir 2025, BRImo mencatat 5,60 miliar transaksi digital dengan total nilai Rp7.057 triliun, tumbuh 29% dan 26,1% secara tahunan untuk volume dan nilai transaksi.
Dewi Hestiningrum menggambarkan apa yang ada di balik angka-angka tersebut. Bahwa BRImo saat ini menjadi bagian dari gaya hidup nasabah.
“Nasabah kini dapat mengelola keuangan, membayar tagihan, membeli produk asuransi, hingga berinvestasi. Seluruhnya dalam satu genggaman, 24 jam tanpa henti. BRImo bukan sekadar aplikasi mobile banking, tetapi telah menjadi gerbang utama interaksi nasabah dengan BRI," ungkap Dewi.
Di sisi lain layar, ada rutinitas bulanan yang Widya lakukan dengan cara yang sangat manual: mentransfer gaji dua belas karyawannya satu per satu lewat BRImo ke rekening BRI masing-masing.
"Untuk gaji karyawan, saya transfer satu per satu lewat BRImo ke rekening BRI mereka. Belum pakai sistem otomatis, masih manual. Tapi justru karena manual, saya jadi benar-benar tahu kondisi keuangan usaha saya setiap bulan. Berapa yang keluar, berapa yang tersisa," tuturnya.
Pernyataan ini jujur sekaligus mengungkap sesuatu yang relevan bagi banyak UMKM lain bahwasanya digitalisasi tidak selalu berarti otomatisasi penuh. Ada nilai tersendiri dalam proses yang dilakukan secara sadar dan terkontrol, terutama ketika skala usaha masih dalam fase bertumbuh.
Kondisi ini juga mencerminkan apa yang disebut Dewi Hestiningrum sebagai proses bertahap dalam pendampingan literasi keuangan BRI, bahwa membuka rekening dan mulai bertransaksi digital hanyalah langkah pertama, dan bahwa pendampingan terus berlanjut untuk membantu UMKM memanfaatkan layanan secara bertahap: dari menabung dan mencatat transaksi, hingga pada saatnya memanfaatkan fasilitas kredit produktif dan layanan yang lebih canggih.

Jika dilihat secara keseluruhan, QRIS dan BRImo dalam keseharian Widya bukan dua produk yang berdiri sendiri. Keduanya adalah dua sisi dari satu ekosistem yang saling terhubung. Transaksi pelanggan yang masuk lewat QRIS di ketiga store-nya langsung tercatat di rekening BRI dan bisa dipantau real-time lewat BRImo. Dari saldo yang sama, Widya mengelola pengeluaran operasional, mentransfer gaji karyawan, hingga memantau pola pemasukan dari masing-masing store.
Dewi Hestiningrum menggambarkan filosofi di balik desain ekosistem ini untuk saling melengkapi dalam customer journey nasabah.
“Sinergi inilah yang menjadi keunggulan model layanan kami dibandingkan kompetitor murni digital," pungkas Dewi. (*)